Hidden Berondong

Hidden Berondong
Memanfaatkannya


__ADS_3

Sepulangnya keluarga Xavier. Kyara langsung di brondong pertanyaan oleh keluarganya, mengapa bisa Kyara menerima lamaran Xavier padahal pria itu adalah pria kejam bertangan dingin.


"Papi akan memecatnya!"


"Jangan lakukan apapun Pi, Kya mohon."


"Aku harus pergi. Ada hal lain yang harus aku selesaikan."


"Kau tidak menginap sayang?" Edel menyarankan putrinya untuk menginap.


"Lain kali Mom."


"Biar Papi antar." Arman sudah berdiri dari duduknya.


"Tidak usah Pi, aku sudah ada janji dengan Gio." meski penasaran Arman membiarkan putrinya pergi bersamaan dengan ia yang akan pulang kerumahnya.


.


Gio sudah mengirim lokasi keberadaan Dirga dan dirinya.


Kyara melihat dua orang pria dengan berbeda usia tengah berdiri di pembatad jembatan layang. Satu di antaranya pria itu sudah menjungkir balikan dunianya.


"Kupikir saingan terbesarku untuk mendapatkan Kakak adalah dokter Aiden, ternyata aku salah. Justru malah Bang Xavier." Dirga terkekeh di sela air matanya yang berjatuhan. Meskipun Gio sudah melarangnya menangis tapi tetap saja air mata sialannya terus terjun bebas dari matanya.


"Biasanya Bang Xavier selalu mengalah padaku, tapi sepertinya kali ini ia tidak ingIn membiarkanku menang." Dirga menghembuskan nafasnya jengah.


"Dirga!" Kyara memanggil suaminya. Baik Dirga maupun Gio Keduanya menengok bersamaan.

__ADS_1


"Saya permisi Nona." Gio undur diri.


Hening.


"Kenapa kau membohongiku Kyara?"


"Aku sedang berusaha melindungimu Dirga, kelak kau akan mengerti apa yang kulakukan demi kebaikanmu." Kyara menatap ke bawah jembatan layang melihat kendaraan berlalu lalang di bawahnya.


"Jangan berbelit-belit aku terlalu bodoh untuk memahami omongan orang dewasa." Dirga menatap istrinya yang masih mengenakan kebaya.


"Ya, kau memang bodoh Dirga. Aku sudah berulang kali mengatakan padamu untuk berhenti mencintaiku. Tapi kau sangat keras kepala, kau tetap memberikan hatimu untuk wanita sepertiku." Kyara mulai berkaca-kaca ia juga tak ingin mengatakan ini.


"Aku sudah mencobanya Kyara, tapi nyatanya kau sudah mengambil alih hatiku. Seandainya bisa, aku juga ingin mengendalikannya. Tapi semuanya di luar kuasaku, aku tak berdaya Kyara. Aku bodoh Kyara." air mata dan air hidung Dirga seakan berlomba untuk keluar.


"Aku tak bisa berhenti mencintaimu."


"Lalu katakan apa yang harus ku lakukan? Katakan saja asal jangan menyuruhku pergi Kyara." Dirga semakin sesegukan menangis.


"Aku tidak tau Kyara, aku tidak tau. Aku menyukaimu, aku menyukaimu seperti seorang pria menyukai seorang wanita. Aku tidak mempunyai alasan untuk itu, terserah jika kau ingin mengatakanku sebagai seorang pria bodoh." Entah apa yang di rasa pria itu. Yang jelas dia merasa mengebu-gebu dengan perasaan baru yang ia miliki pada Kyara.


"Lalu jika aku melarangmu untuk menyukaiku kau akan menurut padaku?"


"Tidak, aku akan tetap menyukaimu sekalipun kau melarangku." Dirga memang keras kepala.


"Ya sudah lakukan apa pun yang menurutmu benar asal jangan merugikan orang lain." Kyara akhirnya mengalah dengan apa yang akan di lakukan remaja itu.


"Kyara kita pulang sekarang ya." Dirga menggandeng tangan istrinya menjauh dari jembatan memasuki mobil wanita itu.

__ADS_1


"Maafkan aku, aku sudah kekanakan." Dirga mengusap kepala Kyara. Dirga harus melakukan itu, meminta maaf adalah cara sedarhana mengalah, memangkas setiap masalah kecil agar hubungannya baik-baik saja.


.


Tengah malam ponsel Dirga bergetar untung saja Kyara tidak terbangun.


"Abang Xavier." gunam Dirga pelan, hatinya bertanya-tanya kenapa Xavier menelponnya di tengah malam seperti ini.


Dirga menutup tubuh polos istrinya dengan selimut setelah sebelumnya ia meminta jatah meluncurkan pesawar tempur terlebih dahulu. Membiarkan ponselnya terus bergetar, tak mungkin bukan Dirga mengangkat panggilan vidio nya saat ia dan istrinya masih dalam keadaan polos.


Kemudian Dirga memungut bajunya yang tercecer di atas lantai, saat sudah selesai ia mengecup kepala istrinya, dan berjalan menuju balcon untuk menghubungi nomor Xavier kembali karna sebelumnya ponselnya sudah berhenti bergetar.


"Ada apa Bang?" Dirga bertanya setelah ponselnya terhubung, "Tak biasanya Abang menghubungiku malam-malam."


"Kita harus bertemu, hanya berdua! Akan ku kirimkan alamatnya nanti." setelah mengatakan itu Xavier menutup panggilannya secara sepihak, tanpa mendengar penjelasan apapun dari Dirga.


"Dasar manusia dingin tanpa akhlak." Dirga terus menggerutu saat ponselnya kembali mati.


Dirga kembali memasuki kamarnya. Dan tersenyum jahil saat melihat Kyara sudah polos kembali, selimit yang di balutkan Dirga tadi sudah terongok di kaki jenjannya.


"Saat tidur saja kau berani menggodaku." Dirga kembali mengungkung tubuh istrinya. "Kau sangat nakal Sayang." Dirga membelai wajah istrinya dengan punggung tangannya.


"Mari kita kembali meluncurkan pesawat tempur Sayang." Dirga segera melancarkan sentuhannya meskipun matanya masih terpejam.


"Aku tidak tau sampai kapan kau akan menjadi milikku, tapi selama kau masih menjadi milikku aku akan memampaatkannya, jangan bosan untuk menerima sentuhanku." Bisik Dirga serak.


Tidur Kyara terusik membuat ia perlahan tertarik dari alam sadarnya.

__ADS_1


"Kau sedang apa?" Kyara mengerjapkan matanya dengan tubuh yang sudah terguncang.


"Cukup diam dan nikmati sentuhanku." Dirga kembali melancarkan aksinya.


__ADS_2