Hidden Berondong

Hidden Berondong
Tuhan salah paham


__ADS_3

Ya Tuhan Ibu Dirga terperangah mendengar ucapan Kyara padanya, calon menantunya tega berkata seperti itu padanya ralat bukan calon menantunya, Kyara sekarang sudah menjadi menantunya. Istri dari putra bungsunya. Ibu Yuna nyaris di buat gila oleh kenyataan ini.


"Kau ingin mengutuk mertuamu sendiri?" sindir ibunya Dirga.


"Terimakasih, ibu sudah mengakuiku sebagai menantumu." Kyara tersenyum cerah tanpa dosa. Satu-satunya yang harus dia lakukan adalah meyakinkan setiap orang jika Kyara tak akan melepas berondongnya, ah terlalu mubazir jika pria tampan seperti Dirga harus di lepas begitu saja.


Enak saja Kyara yang mengajarkan Dirga dari wanita polos menjadi pria sejati seperti sekarang, pria dengan pengalaman dan jam terbang tinggi dalam menyenangkan seorang wanita. Kyara tak sudi jika Dirga mencicipi wanita lain, selama ini Kyaralah yang bekerja keras nengajarkan Dirga hingga pandai.


Adakah wanita yang lebih egois dari Kyara? Seorang wanita dewasa yang kemarin menyuruh Dirga pergi dan mengajukan perceraian kini berbalik arah ingin mempertahankan suaminya, miliknya tak akan Kyara biarkan pergi pada siapapun. Kyara akan memperjuangkan suami berondongnya.


"Apa alasannya kau lebih memilih Dirga menjadi suamimu? Dari pada memilih Xavier, dia lebih dewasa juga lebih tangkas dalam mencari uang. Jika aku jadi dirimu aku akan memilih Xavier." Ibu Dirga memijat dahinya menggunakan beberapa jemarinya.


"Apa karna Dirga lebih lebih perkasa di atas ranjang.?"


"Sena."

__ADS_1


"Apa? Aku hanya bertanya."


Semua orang menegur Kakak Dirga. Dirga sendiri hanya menyunggingkan senyuman penuh arti. Astaga selama ini Dirga tidak berpikir kesana. Apakah benar dirinya lebih memuaskan Kyara di bandingkan dengan Kakak kandungnya? Ada rasa bangga dan percaya diri yang menyeruak di dalam dada Dirga.


"Aku mencari seorang suami untuk ku jadikan teman selama hidupku. Dan aku menemukan itu semua dari Dirga, pernyatian dan tingkah manjanya membuatku terkeasan. Sehingga aku merasa nyaman saat bersamanya." Kyara mennggenggam kelapak tangan Dirga dan menautkan kelima jemari tangan kanannya pada Dirga.


"Jika Ibu bertanya mengapa aku tidak memilih Xavier. Maka dengarkan ini, bukan aku mengadu ataupun memutar balikkan fakta. Aku tidak ingin menikahinya karna aku tidak menyukai pribadinya yang acuh dan dingin. Disamping itu aku membenci seorang pria yang menggunakan tangannya saat sedang marah. Tidak apa jika Dirga belum se sukses Xavier soal materi aku bisa bekerja sama dengan suami tampanku." ujar Kyara kembali.


Sial atas pengakuan Kyara yang mengatakannya suami tampan Dirga sampai sampai menahan dirinya sekuat tenaga agar tidak melompat karna kesenangan. Dirga juga ingin berlari bahkan sampai salto karna rasa bahagianya, cintanya terbalas sepertinya. Tak sia-sia semua yang Dirga lakukannya selama ini.


Ibu dan Ayah Dirga terperangah saat mendengar kata main tangan begitu juga Sena dan suaminya. Selama ini mereka memang mengenal Xavier sebagai pria dingin, cuek dan pemarah tapi tidak sekalipun Xavier menunjukan sisinya yang lain di hadapan keluarganya.


"Ayah ..."


Saat suara Dirga terdengar, Kyara memngankat sebelah tangannya sebagai rambu-rambu agar Dirga tetap diam dan tidak usah membelanya.

__ADS_1


"Maaf membuatmu kecewa Ayah. Xavier pernah menampar wajahku sebanyak dua kali juga menjambak rambutku." Kyara berkaca-kaca disaat mengatakan itu, mengingat itu sama saja seperti melukai dirinya kembali. "Aku bersalah saat itu tapi apa harus dia melukaiku saat itu. Bahkan Xavier mencekik leherku kala itu, jika saja tak ada Gio asistenku mungkin tubuh ringkih ini sudah menyapa liang lahat saat ini." Kyara menunduk seiring dengan air matanya yang kembali terjatuh. Setiap mengingat kejadian itu Kyara di paksa terpental ke masa itu. Masa yang di mana Kyara mendapatkan kekerasan dari seseorang. Dan itu cukup membuatnya trauma dan membenci Xavier hingga kini.


"Kyara." Dirga memeluk tubuh istrinya. Ya yang Kyara butuhkan hanya pelukan.


Pelukan untuk beberapa waktu, waktu yang tidak mereka hitung. Hingga Kyara melepas pelukannya.


"Aku memang bukan wanita baik. Tapi aku tak menginginkan seorang suami yang ringan tangan. Katakan alasan yang tepat untuk aku menerimanya. Kalian boleh menanyakan kebenarannya pada Xavier maupun asistenku." Tetesan air mata masih saja keluar dari kelopak matanya, yang langsung Kyara seka menggunakan punggung tangannya.


Semua membisu seakan ikut merasakan apa yang di alami Kyara.


"Apa Arman mengetahui hal ini?" Alexander bertanya, juga cemas bagai mana tanggapan temannya jika putra kebanggannya berani melakukan tindakan tak terpuji pada putri tunggal temannya.


"Papi sudah tau. Tapi Papi sangat pengertian selalu menuruti apa mauku." aku Kyara jujur.


Alexander merasa malu pada temannya. Apa yang harus ia katakan pada rekan bisnisnya.

__ADS_1


"Tapi dengan cara menikahi Dirga itu juga bukan hal yang benar." ibu Dirga masih belum menerima status ia dan Kyara yang sudah menjadi mertua dan menantu. Doanya memang di kabul oleh Tuhan jika Kyara benar-benar menjadi menantunya. Tapi Yuna lupa meminta jika Ia menginginkan Kyara menjadi menantunya dari pernikahannya dan Xavier bukan Dirga. Lalu siapa yang salah di sini? Ibu Yuna apa Tuhan yang salah paham mengabulkan doanya tapi mengecewakan prediksinya.


"Sepertinya Tuhan memang salah paham." gunam Yuna pelan tanpa ada yang mendengar satupun.


__ADS_2