
Tak Kyara pungkiri dengan Dirga ia merasa lebih hidup, dengan kehadiran Dirga hidupnya terasa menyenangkan dari setiap detik yang di lewatinya dengan Dirga terasa sangat berarti.
Keduanya larut dalam kasih sayang yang membuncah.
"Dirga kau dengar jantungku yang sedang meletup-letup tak terkendali?"
"Astaga Kyara, kupikir suara jantung yang sedari tadi berpacu adalah jantungku. Ternyata jantungmu juga." Dirga tirlihat seperti orang bodoh.
Kyara menyadari satu hal ternyata sejak tadi kaki Dirga tidak berheti bergetar. "Dirga kau baik-baik saja?"
"Hm aku baik-baik saja."
"Kau berkeringat?" Kyara mengusap keringat yang mengembun di dahi suaminya.
"Mungkin karna terkena terpaan matahari sore Kyara." di tengah kebahagiaannya Dirga menyembunyikan ketakutannya. Ya sebenarnya Dirga takut akan ketinggian dan beberapa menit ini Dirga berada di atas ketakutannya di atas bianglala. Sampai tiba saatnya bianglala yang Dirga naiki kini sudah berada di atas permukaan bumi.
Petugas membantu Kyara dan Dirga keluar dari dalam toples kaca itu.
Setelah naik wahana itu Dirga berlari ke tepi ia memuntahkan seluruh isi perutnya.
"Astaga Dirga kau mabuk ketinggian?" Dirga tidak menyauti apa yang Kyara katakan ia sibuk memuntahkan seluruh cairan yang ada di lambungnya. Seakan tidak cukup dari mulutnya cairan itu juga menembus lubang hidung remaja itu.
"Kenapa tidak bilang juka kau takut ketinggian." Kyara mengambil satu botol air yang tinggal separuh isinya kemudian memberikan pada Dirga dan langsung di gunakan Dirga untuk berkumur dan minum. Sekedar mengurangi rasa pahit pada mulutnya.
__ADS_1
"Aku tidak papa Kyara." sempat-sempatnya pemuda itu mengatakan tidak papa disaat dirinya nyaris pingsan karna memaksakan diri menaiki wahana bianglala.
"Maafkan aku Dirga. Naafkan aku. Aku sungguh tidak tau jika kau takut ketinggian." mata Kyara berkaca-kaca. Merasa bersalah serta menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa Dirga.
"Hey, aku tidak papa Sayang. Jangankan menderita untuk beberapa menit. Aku rela menderita seumur hidupku asal tetap bersamamu." penyakit pembual Dirga kumat kembali
"Tidak papa apanya kau terlihat lemas."
"Kata siapa, aku tidak selemah itu. Aku masih mampu membuatmu berteriak menyebutkan namaku." Dirga mengulum senyumnya penuh maksud.
"Dasar mesyum."
"Mesyum pada istri sendiri tidak di larang."
"Ayo kita makan di tepi pantai sana, aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu." Dirga membawa Kyara kesebuah restoran di taman hiburan itu sambil menyaksikan matahari terbenam.
Dirga memberikan sebuket bunga yang sudah ia persiapkan di atas meja, bunga lily of the valley yang selalu di lambangkan dengan kesucian kemurnian akan cinta.
Kyara tak mampu berkata-kata, wanita itu menutup mulutnya yang menganga saking terkejutnya. Mendapatkan bunga dari seorang pria bukanlah hal pertama untunya, tapi rasa ini adalah rasa yang tak pernah ia dapatkan dari siapapun. Dimana ia rela melakukan apapun demi pemuda itu.
"Astaga Dirga. Inikan bunga yang di gunakan di pernikahan Song jong ki dan Song hye kyo." pekik Kyara tak percaya.
"Ya meskipun prrnikahan keduanya kandas. Tapi tidak dengan keabadian dari lambang cinta bunga ini. Aku berdoa semoga pernikan kita tidak seperti mereka." Dirga melutut dan memberikan bunga itu. Adakah di sini yang menginginkan pasangan seperti Dirga.
__ADS_1
Pelayan restoran mendorong telori yang berisi kudapan makanan serta ... Tunggu dulu, ada cake ulang tahun. Apakah Dirga sedang salah sangka, dengan memberikan kejutan seperti ini. Padahal ulang tahun Kyara masih lama bukan hari ini.
"Dirga maaf mengecewakanmu. Hari ini bukan hari ulang tahunku kau salah hari Sayang." Kyara berkata hati-hati di sertai ringisan kecil. Ia takut menyinggung suami bocilnya.
"Siapa bilang ini ulang tahunmu? Aku mengetahui ulang tahunmu Kyara."
"Kau mengetahui ulang tahunku. Lalu ini?" Kyara tak paham. jika bukan untuknya Cake itu untuk siapa? Cake yang tengah di letakan di atas meja oleh pelayan.
"Aku mengetahu semua tentangmu Kyara."
Kyara membaui bunga lily di tangannya.
"Lalu apa? Jangan membuatku bingung Dirga." Kyara mulai kesal wanita itu sudah menekuk wajahnya.
"Hari ini ulang tahunku. Jangan menekuk wajah cantikmu seperti itu. Aku menilak ajakan si kembar adikmu untuk merayakan ulang tahunku hanya karna aku ingin bersamamu." ucap Dirga jujur.
Kyara tercenung untuk beberapa waktu. Waktu yang tidak keduanya hitung.
"Maafkan aku Dirga, kau mengetahui hari kelahiranku sedangkan aku?" Kyara menundukan wajahnya kembali rasa bersalah menggerogoti hatinya.
"Kau justru memberikan kejutan di hari ulang tahunmu. Kau selalu berjuang sendiri." Kyara mulai terisak ia kecewa pada dirinya sendiri.
"Tak apa Kyara. Aku berjuang atas dasar keinginanku sendiri." Dirga mengusap lembut air mata Kyara.
__ADS_1
"Mari berdoa berdoa bersama. Berdoa agar Tuhan selalu menakdirkan kita selalu berjodoh. Ini adalah ulang tahunku aamiinkan doaku ini." Dirga menyalakan lilin di Cake ulangt tahunnya.
.