
Sudah dua minggu berlalu.
Bekas luka sunat Dirga kini sudah sembuh sepenuhnya, selama itu pula Kyara bekerja dari rumah sampai Arman sudah membayar beberapa orang untuk menyelidiki putri semata wayangnya, Arman sangat sadar sepenuhnya jika ada beberapa hal yang Kyara sembunyikan darinya. Tapi anehnya sulit sekali mengendus apa yang di sembunyikan Kyara dan Gio.
Gio adalah orang yang sangat rapih dalam mengerjakan sesuatu sampai tidak meninggalkan jejak sama sekali.
"Kau ke kampus hari ini?" Kyara menuangkan segelas susu segar dan menyerahkannya pada Dirga.
"Ya, Kyara nanti malam aku boleh buka puasa ya." Dirga cengengesan antara malu dan ingin, bagaimana Dirga tidak ingin selama dua minggu ia tidak menyentuh istrinya.
Sebagai pria normal, ia sangat butuh pelepasan, kebutuhan biologisnya harus terpenuhi secara rutin agar tidak mengganggu kesehariannya.
"Kau ini selalu saja seperti itu. Memangnya barangmu sudah layak di pergunakan?"
"Tentu saja, apa kau mau mencobanya pagi ini." Dirga menyeringai penuh maksud.
"Tidak nanti saja."
Hening.
Keduanya sibuk memakan makanan mereka masing-masing.
"Kya, terimakasih."
"Untuk?" Kyara mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Aku tau kau yang telah membantuku menyelesaikan masalah usahaku."
Kyara menghentikan kunyahannya dan mengangguk "Hu'um sama-sama."
__ADS_1
"Katakan juga terimakasihmu pada Gio, dia yang sudah berperan menyelesaikannya." Kyara seluruh masalahmu.
"Ya, nanti aku akan menemuinya."
"Terimakasih juga, kau mau merawatku selama aku tak sehat. Kau sangat baik padaku." Dirga mengatakan itu tulus dari hatinya.
"Sama-sama."
"Kyara."
"Hm."
"Kata Ibuku, Ayah Ibuku dan Bang Xavier mau kerumah Papimu besok malam." Dirga memperhatikan wajah Kyara yang tak beriak sama sekali.
"Ya aku tau."
"Lalu kau akan hadir di saat Bang Xavier bertamu ke rumah Papimu?"
"Apa kau tau tujuang Bang Xavier berkunjung.?" Dirga masih bertanya meskipun tau akan jawaban yang akan di ucapkan Kyara akan mengecewakannya.
"Aku tau Dirga, jangan banyak bertanya. Habiskan makananmu." Kyara tengah puding memikirkan caranya menolak lamaran Xavier besok malam, dan kini Dirga malah turut membuat kepalanya semakin ikut berdenyut dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bermutunya.
"Kyara bisakah agar kau tidak serakah?"
"Serakah?" Maksud pemuda di sampingnya apa dengan kata serakah? Apa pemuda itu tau akan arti serakah atau hanya asal bicara saja, sungguh Kyara harus meninggkatkan kekebalan kesabarannya dalam menghadapi bocal bau kencurnya.
"Ya, kau jangan serakah. Kau mempunyai aku sebagai suamimu jadi aku ingin kau menolak lamaran Bang Xavier, aku tak mau kau ada hubungan lain di saat hubungan kita terjalin." Dirga semakin berani menunjukan kepemilikannya. Tak perduli umurnya masih muda baginya jika sesuatu miliknya akan tetap menjadi miliknya apapun yang terjadi.
"Jika kau berbicara seperti itu bahkan aku ragu jika umurmu sembilan belas tahun." Kyara tersenyum meledek.
__ADS_1
"Pokoknya aku tak mau tau kau harus menolak Bang Xavier. Atau kalau tidak ..." Dirga menggantung ucapannya. Remaja muda itu lebih memilih meneguk habis air dalam gelasnya.
"Kalau tidak apa? Jangan coba-coba mengancamku." Kyara menukikan alisnya tajam.
"Aku akan membongkar status kita di hadapan semua orang. Aku tidak akan bersembunyi lagi, jika kau tidak menolak Abangku." Dirga terlihat tidak main-main akan ucapannya.
Ting ... Tong ... Ting ... Tong ...
Suara bel berkali-kali terdengar. Dan entah kenapa perasaan Kyara mengatakan jika yang datanga adalah Mommynya.
Dirga sudah berdiri dari duduknya.
"Kau mau kemana?"
"Membuka pintu." ujar Dirga ringan.
"Kau gila? Kau mau membunuhku?" Kyara membentak suami bocilnya. "Ini apartemenku sebaiknya kau bersembunyi, jangan keluar jika kondisinya belum aman." Kyara mendorong Dirga untuk memasuki kamar mereka.
"Aku akan menurut padamu jika kau mengatakan akan menolak lamaran Bang Xavier." tekan Diega kembali.
"Dirga. Jangan melewati batasanmu. Jangan nekad kau." Kyara dibuat kesal oleg pemuda itu.
"Kau mengatakan aku nekad, sedang aku belum melakukan apapun. Biar aku tunjukan apa itu nekad yang sebenarnya." Dirga sudah melangkah mendekati pintu yang sedari tadi berbunyi dan ia tidak main-main akan ucapannya.
"Okay, Dirga okay. Aku akan menolak lamaran Xavier, sekarang kau harus bersembunyi ingat kata-kataku tadi." Kyara akhirnya mengiyakan keinginan pemuda itu ia tak ingin mengambil resiko jika terus-terusan menentang Dirga.
"Janji?"
"Ya Dirga aku Janji." Kyara menatap kesal suaminya.
__ADS_1
"Istri pintar." Dirga mengpuk-puk puncak kepala istrinya. Setelahnya Dirga berjalan ke arah kamar mereka untuk bersembunyi sesuai keinginan istrinya.