
"Aku mencintaimu Kyara."
"Aku lebih mencintaimu. Aku akan memberikan hadiah ulang tahunmu, nanti." Kyara sudah telat tidak kedatangan tamu bulananannya selama beberapa waktu terakhir. Semoga saja saat di tes besok pagi akan ada kabar baik.
"Aku meminta hadiah ulang tahunku Sayang." Dirga sudah mengungkung tubuh istrinya, mencium titik-titik yang ia kehendaki. Lenguhan dan ******* keluar memenuhi sudut kamar.
Saling memberi dan saling menerima itulah yang mereka lakukan saat ini.
Kyara terus memandang dalam wajah suaminya, merekam dengan seksama wajah tampan yang berada di atas tubuhnya. Apapun yang terjadi nanti kau akan menjadi pria yang pernah ku cintai Dirga. Batin Kyara selalu menegaskan hal itu.
Permainan lembut yang di perankan sepasang suami istri itu selesai dengan teriakan nama masing-masing.
.
Dirga baru saja terbangun dari tidurnya saat jarum jam sudah menunjukan pukul sembilan.
"Kyara."
"Kyara."
Beberapa kali Dirga memanggil istrinya tapi tidak ada sahutan ataupun tanda-tanda jika istrinya berada di apartemen.
__ADS_1
Tak ada pesan atau memo yang Kyara tinggalkan untuknya. Pemuda itu juga mengecek ponselnya, biasanya Kyara akan mengiriminya pesan. Tidak pesan atau panggilan dari istrinya, akhirnya Dirga mengirimi istrinya pesan. Harap-harap Kyara akan segera membalas pesannya.
Dirga yang masih polos meraih celananya dan keluar mencari keberadaan istrinya setelah memastikan jika istrinya tak ada di kamar mandi.
Di dapur ada ART Kyara dan Dirga memutuskan untuk bertanya pada Bibi itu. Tapi sama seperti dirinya Bibi itu tidak mengetahui keberadaan Kyara.
"Kemana Kyara pergi.?" Dirga bertanya dalam hatinya.
Oh, mungkin saja Kyara sudah pergi bekerja, mengingat hari ini adalah hari senin Kyara selalu berangkat pagi-pagi sekali. Pikir Dirga.
Setelah mandi dan bersiap Dirga mengunjungi unitnya tapi keluarganya sudah tidak ada di sana.
Dirga pergi ke kampusnya dengan hati bertanya-tanya karna ponsel Kyara tidak bisa di hubungi.
Sore harinya Dirga cepat-cepat pulang dan menunggu di apartemen Kyara. Tapi sampai malam menyapa Kyara tidak pulang-pulang juga masih tidak dapat di hubungi.
Dirga juga menghubungi Gio asisten istrinya sayangnya nomor ponsel Gio juga tidak dapat di hubungi. Tak menyerah sampai di sana Dirga menghubungi Xavier untuk menanyakan keberadaan istrinya bagai manapun Xavier bekerja di kantor yang sama. Tidak mungkin juga Dirga menyusul ke kantor istrinya karna pasti sudah tidak ada orang di kantor itu mengingat kantor ayah mertuanya itu hanya beroprasi sampai jam empat sore.
Namun Xavier mengatakan jika Kyara tidak bekerja hari ini. Pernyataan itu berhasil mengurung Dirga dalam ketakutan.
"Kyara kau dimana?"
__ADS_1
Dirga sudah meraih kunci mobilnya hendak mencari Kyara tapi ia teringat sesuatu dan memutuskan untuk mengecek CCTV.
"Kyara." setetes air mata jatuh di pipi pemuda itu.
Melalui monitor yang menampilkan rekaman CCTV. Ibunya mendatangi Kyara dan terlihat memohon, berlutut dan bersujud di hadapan istrinya itu meskipun tidak dapat mendengar percakapan antara ibu dan istrinya tapi Dirga meyakini penyebab istrinya hilang adalah ibunya sendiri.
"Aaaaaa ..." Dirga berteriak, ia merasa bodoh. Harusnya sedari pagi ia mengecek Cctv jangan di saat ia sudah kehilangan Kyara lebih dadi lima belas jam.
Dengan masih di rundung amarah Dirga mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah orang tuanya.
"Ibu ... Ibu ..."
Dirga memanggil ibunya dengan berteriak lantang serta dengan tangan yang sudah di kepalkan erat.
"Dirga kau pulang, Nak?" sapa lembut ibunya. Ibunya sudah melihat kemarahan yang terpampang jelas di diri anaknya.
"Kau berniat membunuh anakmu sendiri?" tatapan penuh kekecewaan Dirga layangkan untuk ibunya. Ayahnya juga turut hadir mendengar pernyataan tajam putra bungsu mereka.
"Apa maksudmu? Nak."
"Jangan berperan layaknya ibu malaikat di hadapanku. Kau tak lebih dari seorang iblis. Jika kau menemukan aku dalam keadaan tidak bernyawa kau lah penyebabnya." Dirga menunjuk wajah ibunya.
__ADS_1
"Dirga." panggil ibunya pelan.
"Karna dirimu aku kehilangan wanitaku. Kyaraku hilang." Di tengah luapan amarahnya Dirga bersimpuh tak berdaya air matanya sudah jatuh tak terbendung lagi.