
Dirga yang sudah berubah nama menjadi Xander kini berlatih bersungguh-sungguh dalam menjalani pelatihannya, selama beberapa bulan saja Xander sudah pandai memainkan senjata api.
"Tuan Muda! Tuan Rex. Tuan Rex." seorang pekerja yang bertubuh tegap berbicara tergagap di hadapan Xander, sangat bertolak belakang dengan kekekaran tubujnya yang di hiasa tato.
"Ada apa? Katakan yang benar!" Sentak Xander, pria itu meraih bajunya yang terletak di atas kursi, untuk menutupi tubuhnya yang atletis, di bahu sebelah kanannya terdapat tato seekor elang terbang sebagai tanda kebesaran klan mafia yang menaunginya. Di dada kirinya terukir nama 'Kyara' tak peduli wanita itu akan hidup di belahan dunia mana yang terpenting baginya wanita itu akan selalu hidup mengiringi setiap nafasnya.
Xander berjalan tergesa mendatangi kamar ayah angkatnya. Ia khawatir luar biasa saat penjaga tadi memanggilnya.
"Dad." Xander terkejut saat menyaksikan ayah angkatnya terbaring sembari memegangi dadanya. Nafasnya terlihat sesak dengan tangan yang mulai dingin.
"Ayo kita kerumah sakit!" Xander sudah membopong ayah angkatnya bersiap untuk membawanya ke rumah sakit.
"Xander. Tidak perlu Nak. Daddy merasa umur Daddy sudah tak lama lagi."
"Dad berhenti. Jangan mengatakan hal seperti itu. Daddy akan sembuh, bukankan Daddy ingin melihat aku menemukan istriku." entah ada apa diri yang selama ini Xander latih intuk menjadi pria kuat tapi saat ini jiwa cengengnya kembali. Xander menangis memeluk ayah angkatnya.
__ADS_1
"Daddy berdoa semoga kau hidup bahagia. Semua aset milik Daddy sudah Daddy pindah namakan atas dirimu."
"Dad."
"Daddy."
"Daddy."
Xander memanggil ayah angkatnya beberapa kali tapi pria tua itu masih setia menutup matanya.
.
.
Kyara kini berada di salah satu negara di eropa bersama om yang mencakup menjadi papa tirinya dulu. Ya Arsen, adik kandung dari Papinya sekaligus mantan suami dari ibunya Edelweis.
__ADS_1
Kyara kini tengah mengandung anak pertamanya dan usia kandungannya sudah memasuki sekitar tujuh bulan. Ya kala itu sesuai permintaan ibu mertuanya Kyara pergi meninggalkan Dirga. Ia tak tega akan tindakan ibu mertuanya yang memohon dan bersujud di kakinya. Sebagai calon seorang ibu nalurinya terasa di ketuk oleh tindakan ibu mertuanya itu.
Kyara masih mematung di tempatnya duduk, tatapannya tetlihat nanar, entah apa fokusnya yang ia lihat yang jelas pikirannya menerawang jauh entah kemana.
Dirganya hilang, Dirganya pergi entah kemana. "Tuhan dimanapun priaku berada, lindungilah dirinya berikanlah kesehatan padanya, semoga orang-orang di sekitarnya menyayanginya." Bola mata Kyara terasa perih seakan tertetesi air cabai. Ini salahnya tapi ia tak memiliki pilihan lain.
"Jass. Kemana kiranya dia pergi?" tanya Kyara pelan, ia menunduk air matanya sudah menetes.
"Entahlah Kya. Seorang yang putus asa dan sakit hati tindakannya selalu di luar nalar." Jasson mendesah frustasi. Ia juga seorang pria. Bagaimanapun seorang pria selalu berteman dengan namanya keberengsekan.
"Tapi Dirgaku pria baik Jasson." Kyara menyangkal Jasson. Sebenarnya ia sedang menyangkal pikirannya sendiri.
"Seseorang bisa saja berubah Kyara. Apa lagi aku melihat jika suamimu sangat mencintaimu." Jasson duduk di sebelah Kyara.
"Jangan memikirkan apapun. Kau tengah mengandung biarkan keponakanku lahir dengan sehat. Buktikan pada Dirga priamu jika kau masih mencintainya, kau bahkan sangat menjaga anaknya." Jasson menyemangati saudarinya.
__ADS_1
"Iya, Jasson. Jika suatu saat Dirgaku kembali, aku akan mengenalkan putranya dengan bangga." Ya Kyara sudah melakukan tindakan usg, dan di ketahui anak yang di kandungnya seorang bayi laki-laki.
"Ya. Kyara semoga suatu saat nanti Dirga akan mengerti jika kau pergi untuk kebaikannya." Jasson memeluk saudarinya untuk menyalurkan ketenangan pada wanita hamil itu.