Hidden Berondong

Hidden Berondong
Monster Kecil


__ADS_3

Xander meraih tangan mungil putranya dan segera memeluk tubuh Sagara dengan penuh rasa haru. Ia bersukur dapat kembali bertemu dengat putra kecilnya.


Pistol di genggaman Sagara masih bocah itu pegang dengan erat, ia tak akan melepaskan pistol dengan desaign khusus itu sepertinya bocah kecil itu mrnyukai senjata api milik musuh ayahnya yang hanya tinggal nama.


"Gara. Kau baik-baik saja sayang?" tanya Xander dengan cemas. Bocah itu berubah menjadi pendiam dengan memeluk senjata api di dadanya.


Gara terdiam, anak kandung Xander itu sepertinya tidak tertarik dengan pertanyaan dari Papanya, entah apa yang terjadi Xander tidak mengetahuinya, tapi matanya seketika membola saat menyadari keadaan enam mayat tanpa busana. Xander menebak jika putranya menyaksikan hal yang tak layak di mata sucinya. Padahal yang sebenarnya terjadi Gara justru mengalami hal yang lebih mengerikan dari yang di bayangkan oleh Xander.


"Gara. Lihat Papa! Lupakan apapun yang kamu lihat hari ini. Serta lupakan apapun yang terjadi. Ini hanya mimpi buruk okay." Xander mendugesti putranya agar bocah kecilnya kembali ceria layaknya bocah pada umumnya.


Gara mengangguk ragu-ragu.

__ADS_1


Ayah dan anak itu kembali berpelukan, dan saat Xander mengecup sekilas pipi putranya ia mencium bau tak asing, seperti bau pandan pikir Xander. Dan hal lain yang nengherankan kembali terjadi, setelah di cium Papanya sendiri, Gara merasa mual luar biasa, bayangan ciuman serta sentuhan orang-orang iblis itu terlintas begitu saja di otak kecilnya. Gara tidak berbohong, bocah itu sangat mual dan jijik pada seseorang yang menyrntuhnya sampai, "Oek ... Oekkk ...." Gara memuntahkan seluruh isi perutnya.


"Gara ..."


"Gara, sepertinya kau sakit." Xander menggendong putranya di tubuh kekarnya. Mungkin saja Gara sakit karna asam lambungnya naik pikir Xander, tapi ia akan tetap menyelidiki apa yang terjadi pada putranya.


Di tengah rasa bersalahnya, juga rasa sedih karna orang kepercayaannya harus gugur dalam misi menyelamatkan putranya. Di tambah lagi dengan ke adaan Gara yang tidak Xander menerti.


Gara menoleh ke belakang saat di gendong oleh ayahnya menuju mobil. Gara melihat banyak ledakan dari gedung itu sebelum gedung itu rata dengan tanah.


.

__ADS_1


Trauma mungkin kata itu yang tepat di sematkan pada Gara. Semenjak terjadinya teragedi itu, Gara sama sekali tidak ingin bersentuhan dengan siapapun, sekalipun dengan Xander maupun Kyara, ia sangat membatasi tindakannya yang melibatkan sentuhan kulit dengan orang lain. Jika itu terjadi Gara merasa jijik pada orang lain, ralat sepertinya Gara jijik dengan dirinya sendiri. Tapi lain cerita jika Gara harus melukai atau memukul orang lain ia sangat menyukainya.


Dua tahun sudah berlalu tapi Gara masih terpaku dengan hal mengerikan yang menimpa dirinya.


"Semenjak hari itu, aku tak mengenali putraku sendiri Dirga." Kyara berkata lirih ia menatap putranya yang tengah latihan memegang senjata berupa samurai.


"Yang sabar, Kyara kita pasti menyembuhkan putra kita." Dirga mengelus rambut istrinya yang kini tengah memangku bayi berusia dua tahun. Ya bayi itu adalah anak dari William.


"Kau lihat! Putraku yang manis kini berubah menjadi monster kecil tanpa hati. Di usia belianya sudah banyak teman yang di lukai oleh tangan mungilnya." Kyara tak bisa menahan sesak yang semakin hari semakin tumbuh.


"Aku sudah menghubungi dokter psikolog terbaik di negri ini. Gara kita akan sembuh." ujar Dirga.

__ADS_1


__ADS_2