Hidden Berondong

Hidden Berondong
Balita kolokan


__ADS_3

"Bagaimana apa masih sakit?" Kyara bertanya di tengah ia mengemudi, fokusnya sesekali ia aliskan pada suami bocilnya.


"Sebenarnya bukan ke arah sakit sih Kak, tapi lebih ke ngilu dan kaget saja." Dirga berucap lemas, bahkan beberapa waktu lalu Dirga sempat yak sadarkan diri.


"Kau masih takut?" Kyara mengelap keringat yang mengembun di kening Dirga.


"Tidak, aku merasa lebih baik, hanya saja aku takut lukanya akan lama sembuhnya. Takut nantinya Kakak malah nyamperin Bang Xavier atau dokter bau obat itu."


"Ga lah, ngapain juga aku nyamperin mereka."


"Oh, ya Bang Xavier sama dokter Aiden sunat tidak Kak?" Dirga sangat penasaran.


"Xavier sunat tapi jika dokter Aiden aku tak tau, tak berniat pula bertanya padanya. Jika kau penasaran kau tanyakan saja sendiri." Kyara tak habis pikir bisa-bisanya Dirga bertanya hal privasi seperti ini.


"Hehe. Ku pikir Kakak tau."


"Apa menurut Kakak dokter Aiden itu tampan?"


"Tampan, dia juga pemilik mata yang indah." ujar Kyara terus terang.


"Lalu kenapa Kak Kyara tidak menyukainya?"


"Aku menyukainya tidak membencinya hanya saja menyukai yang ku maksud dalam kata lain, aku menyayanginya menganggap Aiden sebagai saudaraku." Dirga terdiam sejenak memperhatikan istrinya yang tengah mengemudi.


"Kak, aku mau makan sate." Dirga menunjuk rumah makan daging tusuk itu meskipun sudah terlewat beberapa meter.

__ADS_1


Kyara memutar balik mobilnya demi memenuhi keinginan bocah kesayangannya "Ya aku belikan, kau tunggu lah di dalam mobil."


Dirga menunggu dengan dengan sabar istrinya di dalam mobil, dengan masih memegangi sarungnya.


Kyara kembali dengan tiga porsi sate dan dua bungkus makanan lain di tangannya, ia juga membawa es jeruk untuk suaminya.


Kyara kembali menjalankan mobilnya.


"Es jeruknya manis. Kakak mau?"


"Tidak."


"Kakak tidak jadi menginap ke rumah Papi mertua?"


"Tidak, aku akan menemanimu sampai kau sembuh, aku tak ingin kau kenapa-napa saat tak ada yang merawatmu." Kyara membelokan mobilnya menunuju parkiran dan berhenti tepat di tempat biasa ia perkir.


"Jangan berkata seperti itu, harusnya kau melakukan itu demi dirimu sendiri. Wanita yang akan datang setelah aku juga akan meminta hal sama padamu." Kyara membatu Dirga berjalan, tapi pria itu malah menghentikan langkahnya.


"Wanita setelah Kakak? Apa maksud Kakak?" Dirga selalu tak terima saat Kyara membahas perpisahan. Atau membahas wanita maupun pria lain di antara mereka.


"Kak, bisa tidak jangan membahas wanita atau pria lain saat bersamaku, aku tak menyukainya." Dirga menyorot tajam istrinya.


"Baiklah."


Mereka kembali berjalan pelan-pelan sampai ke unit apartemen Dirga. Ya mereka memutuskan untuk tinggal di apartemen Dirga untuk beberapa waktu, sampai kondisi Dirga membaik.

__ADS_1


Sebelum makan malam Kyara membantu Dirga untuk mandi terlebih dahulu.


"Ya ampun aku seperti bayi besar saja, Kakak mengurusku sangat baik." Dirga menatap tubuh Kyara dari pantulan cermin kamarnya. Senyumnya Dirga ukirkan lebar, ia merasa sangat di sayangi dan di perhatikan. Sungguh Dirga sudah lupa kapan terakhir kali ia merasa di sayangi seperti ini.


Kyara berjongkok di hadapan kedua paha suaminya, mengulurkan tangan meraih salep dan membaluri salep luar pada lobak milik suaminya dengan hati-hati, penampakannya sangan menggemaskan sekarang mirip seperti jamur bertopi karna memasng kuncupnya sudah hilang, kepalanya yang kemarin memerah kini semakin merah menyala.


Kyara merasa ngilu saat ujung jari telunjuknya menyentuh pelan permukaan kepala merah karna luka.


"Stttt." Dirga mendesis pelan.


setelah selesai mengolis salep Kyara kembali berdiri.


"Dimana minyak telon dan bedakmu? biar ku baluri tubuhmu agar tetap hangat."


"Hah."


"Kakak pikir aku balita?" Dirga mencebik.


"Memang."


"Aku sudah dewasa berhenti memperlakukan aku seperti bayi besar." Dirga melengos memilih memakai pakaiannya sendiri meskipun berjalan dengan tertatih-tatih.


"Dasar balita balita kolokan."


"Jika ku hitung berapa kali Kakak menyebutku sesuka hati Kakak, dari mulai bocah bau kencur, abegeh labil, bocil minyak telon dan sekarang balita kolokan. Kurasa Kakak hobi mengganti nama orang lain."

__ADS_1


Dirga menggerutu meskipun hanya di tanggapi seulas senyum oleh wanita itu.


"Memang kau Balita kolokan yang pemarah." Kyara semakin sengaja menyudutkan Dirga, membuat hidung pemuda itu kembang kempis karna marah.


__ADS_2