
Gara kini sudah berusia sepuluh tahun, bacah laki-laki itu terlihat semakin menutup diri dari hal ramai, ia terlanjur tenggelam dalam kubangan trauma yang menahannya sejak lima tahun yang lalu.
"Kakak ..." Seorang anak perempuan berumur lima tahun mendekat padanya dan menggelayuti tangan Sagara.
"Menjauh dariku!" Sagara menepis kasar tangan gadis kecil itu sampai terpental ke belakang dan jatuh di atas lantai. Sebenarnya ia tak berniat berlaku demikian pada adiknya tapi entahlah emosinya selalu meluap-luap oleh sebab yang tak ia ketahui, dan gadis yang bernama Baby itu yang selalu jadi pelampiasannya.
Baby menangis karna kakaknya tak mau berteman dengannya, ia bahkan merasa iri saat temannya di perlakukan baik oleh kakak mereka.
"Dasar anak pungut." Lagi dan lagi Sagara menyebutnya demikian, membuat bocah kecil itu pergi dengan pandangan yang buram karna tertutup oleh air matanya.
.
"Mama, apa itu anak pungut?" tanya Baby pada Kyara. Baby kecil terusik dengan kata anak pungut yang di lontarkan Sagara padanya, gadis kecil itu menatap penasaran wajah Mamanya yang kini tengah menyuapinya makan.
"Dari mana kau mendapatkan kata." Dirga mendekat ke arah putri dari orang percayaannya.
Baby melipat mulutnya rapat, ia tak ingin Kakaknya semakin membencinnya karna ia mengadu pada kedua orang tuanya.
"Tidak Pa. Tidak papa, Baby hanya bertanya saja." di usianya yang baru lima tahun Baby sangat pasih berbicara.
__ADS_1
Dirga yang mudah membaca gestur tubuh karna terlalu banyak menemui orang, apa lagi hanya menebak apa yang ada di pikiran putri kecilnya.
.
"Gara." Panggil Dirga pelan, ia menghampiri putranya yang berada di kamarnya.
"Ada apa Papa kemari? Gara sedang sibuk." bocah itu terlalu sibuk sampai tidak mengalihkan tatapan dari layar komputer yang ada di hadapannya.
"Apa yang kau katakan pada adikmu?" tanya Dirga langsung.
"Apa dia mengadu?" Gara terlihat bukan anak seusianya. Dirga semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi pada putranya, ia bahkan sudah membawa Gara ke beberapa psikiater terbaik di negri ini tapi bocah itu tetap tak mengatakan apa yang di alamainya di malam kelabu yang merampas semua kepolosannya.
"Jangan terlalu kasar dengan adikmu!" Dirga duduk di ranjang putranya.
Gadis kecil itu tengah menguping dengan air mata yang membasahi pipinya.
"Ya, Baby memang bukan adik kandungmu." ujar Dirga, ia tak mengetahui jika gadis kecil itu tengah mencuri dengar dari luar kamar Gara.
Deg...
__ADS_1
"Pantas saja Kak, Gara tidak menyukaiku." lirih Baby, "Ternyata aku yang salah, aku harus pergi agar Kak Gara tidak membenciku." Gadis kecil itu membawa cup es crim di tangannya. Entah ke mana tujuannya.
"Lalu apa harus Papa, mengembalikannya pada Uncle Wiliam? Apa Papa harus Papa menggali liang lahatnya untuk mengembalikan Baby pada orang tuanya." ujar Dirga kecewa.
"Apa maksud Papa?" Gara tak mengerti dengan ucapan Papanya.
"Baby adalah putri dari Uncle William, orang yang telah menyelamatkanmu. Dia menitipkan Baby pada Papa dan Mamamu."
Sagara diam mengapa ia baru tau hal ini.
"Lalu apa sebabnya kau tidak menyukainya? Dia gadis yang manis Gara."
Hampir satu jam ke duanya saling diam, mencoba berpikir dengan apa yang terjadi. Gara merasa sedikit bersalah sejak lama ia memusuhi Baby. Tanpa alasan dan dosa bocah itu.
"Baby ..."
"Papa, Gara, kemana Baby?" Kyara menghampiri suami dan anak kandungnya bertanya tentang keberadaan putri kecilnya.
"Baby tidak di sini." jawab Dirga.
__ADS_1
"Tidak mungkin Pa, jelas-jelas tadi aku melihat Baby ke mari dengan satu Cup es crim ia ingin meminta maaf pada Gara." ujar Kyara.
"Periksa Cctv." ujar Dirga cepat.