
"Kau belum makan siang?" Xavier bertanya saat netranya menangkap dua kantong makan di atas meja kerja Kyara, juga dengan bau wangi yang menggelitik indra penciumannya.
"Belum."
"Mau ku temani?" tawar Xavier ramah, melihat banyaknya makan yang ada di meja Kyara membuat perut Xavier kroncongan, Kyara juga bukan orang yang perhitungan apa lagi soal makanan. Xavier juga mengenali logo restoran yang berada di salah satu kantong makanan itu, adalah langganan keluarganya bisa di pastikan rasa makanannya akan lezat.
Dikolong meja Dirga sudah ketar-ketir takut Kyara mengiyakan ajakan kakak sulungnya. Enak saja dirinya yang cape-cape beli harus di makan dengan Xavier, lihat saja jika Kyara benar-benar mengajak Xavier makan siang bersama maka akan Xavier bongkar rahasia wanita itu, pikir Dirga.
"Tidak perlu." tolak Kyara.
Xavier menelan ludahnya kikuk, ia juga menggaruk tengkuknya yang tak gatal, merasa malu karna penolakan wanitanya.
"Aku sudah baca, tapi aku belum bisa menandatanganinya sekarang, nanti aku akan menghubungi pihak terkait mengenai perjanjian laba yang sudah ku ajukan, aku meminta keuntungan tujuh belas persen tapi orang itu malah merubahnya kembali menjadi enam belas persen, jelas ini tidak di benarkan dalam hal kerja sama." Kyara mefnatap tajam Xavier.
"Lihat!" Kyara menunjukan angka-angka yang sudah Kyara hitung meskipun tanpa menggunakan kalkulator Kyara mampu memperkirakan keuntungan yang akan ia dapatkan.
Xavier mengangguk sekali, ia memahami kecerobohannya.
"Jangan ceroboh, sebelum memberikan ini padaku harusnya kau sudah bisa memprediksinya. Jangan sampai ini terulang. Untung saja aku membacanya kembali kalau tidak, rugi kita Xavier." Kyara menyodorkan kembali berkas itu pada Xavier.
"Pastikan semuanya sesuai inginku, jangan menerima tawaran lain selain yang sudah kusepakati."
__ADS_1
"Baik Nona." ucap Xaviet lembut.
"Ka boleh keruanganmu, dan ingat! Saat kau memasuki ruanganku kau harus mengetuk pintu lebih dulu. jika kau tak ingin kehilangan pungsi tanganmu." Kyara berucap tegas dengasn tatapan yan mengintimidasi.
"Baik."Xavier meraih kembali berkasnya dan membawanya kembali berlalu.
Setelah kepergian Xavier Kyara memijat pelipisnya. Untuk sejenak Kyara melupakan keberadaan Dirga di bawah kolong meja kerjanya.
"Ternyata Kakak adalah orang yang pelit ya. Hanyas karna selisih satu persen saja Kakak memarahi Bang Xavier juga hampir membatalkan kerja sama, kupikir Kakak orang yan dermawan." cibir Dirga. "Ingat Kak, orang pelit kuburannya sempit." Dirga keluar dari bawah mejanya.
"Ini bukan soal kebaikan hati seseorang Dirga, ini adalah bisnis. Kau di tuntut kejam dalam berbisnis, tidak pandang bulu dan satu hal yang harus kau pelajari di sini telitilah dalam setiap hal, jangan mudah percaya pada orang lain sekalipun orang terdekatmu. Dan mengenai satu persen yang kau cibirkan padaku nilainya bisa jutaan dolar Dirga, jadi jangan menganggap enteng satu persen itu." ujar Kyara, kali ini Kyara memahami jika sepak terjang Dirga dalam hal bisnis masih setengah-setengah jadi ia memakluminya.
"Wah, sepertinya istriku sangat mengenal watak kakak iparnya!" Dirga tersenyum kecut, sedangkan Kyara sendiri jadi salah tingkah saat di panggl istriku sama bocil bau kencurnya. Bau kencur apa Kyara pikir Dirga seblak?
"Ayo makan." Kyara tak menanggapi cibiran Xavier ia lebih memilih untuk makan, Kyara mengajak Dirga ntuk duduk di kursi sofa juga ia sudah mengambil dua minuman dalam botol untuk menemani makan mereka.
"Sepertinya enak kau beli dimana?" Kyara tampak tak sabar saat membuka makanan miliknya.
"Di restoran favorite keluargaku." jawab Dirga cepat.
"Kak, apa Bang Xavier selalu bersikaf seperti itu pada Kakak?"
__ADS_1
"Seperti itu bagai mana maksudmu?"
"Dia, perhatian pada Kakak. Dia juga banyak bicara saat bersama kakak, padahal dia sangat iri dalam berbicara meskipun dengan kami keluarganya. Aku pikir dia menyukai Kakak." ucap Dirga sangat lirih, pria muda itu menundukan kepalanya.
"Kau ini bicara apa? Jangan terlalu banyak berpikir nanti kau cepat tua sebelum waktunya." Kyara sudah memasukan makanan dalam mulutnya.
"Kakak masih menyukai Bang Xavier." lirih Dirga pelan pada dirinya sendiri.
"Dirga saat keluar dari ruanganku kau harus hati-hati jangan sampai Papiku melihatmu, okay?"
Dirga menatap Kyara. "Aku harus bersembunyi Kak?" tanyanya polos.
"Ya teruslah bersembunyi jika masih ingin menjadi suamiku." ucap Kyara yang mana tanpa sengaja melukai hati Dirga.
"Ya, aku akan terus bersembunyi agar tetap bersamamu, tapi jangan sampai Kakak melupakan keberadaanku." Dirga menelan makanan di mulutnya yang sialnya jadi terasa hambar.
Harusnya Kyara jangan membahas tentang hubungan mereka yang harus di sembunyikan, yang mana malah membuat Dirga selalu merasa tak di anggap ada oleh istrinya.
"Aku tidak akan lupa Dirga, kau suami berondong yang ku sembunyikan. Bocil bau kencurku satu-satunya." Kyara tertawa renyah.
"Hanya sebatas itu aku di mata Kakak? Aku hanya menyukai kakak seorang diri. Aku akan memantaskan diri supaya Kakak tidak maslu untuk mengakuiku sebagai suami Kakak." tekad Dirga kuat.
__ADS_1