Hidden Berondong

Hidden Berondong
Tidak menjajikan apapun


__ADS_3

Kyara kali ini tengah berada di dapur apartementnya, wanita itu kini tengah menggoreng telur dan sosis untuk teman makan nasi, perutnya terasa keroncongan usai menyelesaikan pertempuran panasnya di kamar mandi.


Dirga memeluk tubuh mungil wanitanya dari arah belakang, remaja itu juga menghirup dalam-dalam aroma tubuh Kyara dari ceruk leher wanita itu. Harum dan memabukan.


Ini adalah mimpi Kyara sedari kecil, di peluk dan di manja oleh pasangannya siapa yang mampu mengabaikan itu. Satu tangan Kyara mengelus wajah Dirga yang menempel di lehernya.


"Sayang jangan mengangguku. Kau duduk di sana saja." Kyara turut mencubit tangan suaminya yang mulai lancang meraih bagian tubuhnya yang Dirga sukai.


"Love kau sengaja memakai baju ini agar aku terus bergai rah bukan." Dirga semakin mendusel menyembunyikan wajahnya pada leher Kyara juga menghirup lama-lama aroma yang sangat ia sukai wangi citrus berpadu dengan vanila yang lembut.


Bukan omong kosong apa yang Dirga ucapkan kali ini. Untuk pertama kalinya Kyara memakai pakaian dinasnya tanpa di suruh terlebih dahulu, sebuah gaun tidur dengan tali seutas pita, bentuk gaunnya mirip jaring ikan nelayan dengan hiasan renda di bagian-bagian tertentu. Siapapun pria yang melihatnya Dirga bisa menjamin jika pria normal akan meneteskan liurnya atas kesempurnaan tubuh istrinya.


"Ya sudah, aku akan mengambil nasi dulu." Dirga mendaratkan kecupan singkat di bibir istrinya.


Keduanya makan dengan sesekali di sertai candaan ringan.


"Sayang besok pagi ingin makan apa?" Kyara lebih dulu membuka pembicaraan.

__ADS_1


"Apa saja, aku tidak pemilih soal makanan, asal ada dirimu tak ada sarapanpun tak apa aku bisa menyantap hidangan lain." Dirga tertawa renyah dengan ucapannya sendiri.


"Itu sih maunya dirimu."


"Memang."


"Aku bertanya seperti itu karna aku ingin menjadi istri yang baik untuk suamiku, jika aku tak bisa menyiapkan atau memasak makanan yang kau inginkan aku bisa memesannya." Kyara kembali memasukan nasi serta potongan sosis pada mulutnya.


"Terimakasih Kyara." Dirga mengecup telapak tangan istrinya. "Apapun yang kau berikan padaku aku akan menelannya. Sekalipun bom yang kau berikan hohoho. Sejak aku menikah denganmu aku menjadi perayu ulung."


"Ya semakin kesini mulutmu semakin manis juga beracun." Kyara membenarkannya.


"Lakukan apapun yang membuatmu benar Dirga asal kau tidak merugikan orang lain."


"Aku tidak berbakan untuk merugikan orang lain Kyara, justru kau akan merasa beruntung karna memilikiku."


"Ya, aku memang sangat beruntung memilikimu, setidaknya untuk sebulan kedepan. Dan di waktu yang sesingkat itu aku akan memberikan cinta yang kau inginkan." Kyara berujar dalam hati.

__ADS_1


"Selesaikan makanmu. Malam sudah hampir berlalu." ujar Kyara.


"Entah saatnya nanti tiba, aku tak yakin akan baik-baik saja." aku Dirga jujur.


"Akupun sama Dirga." hanya saja Kyara mengucapkan itu dalam hatinya.


"Tidak akan ada hal buruk padamu. Aku akan pastikan hidupmu selalu beruntung dengan ataupun tanpa aku." Kyara mengecup kening suaminya.


"Kau janji?"


Kyara diam. Wanita itu tidak dapat menjanjikan apapun pada Dirga. Kyara tak mampu jika harus melukai kembali pemuda penyayang itu.


"Kau tidak menjawabku?"


Hening.


"Tidak apa. Kyara, ayo kita tidur. Besok saja membereskan ini." Dirga memberikan segelas air putih pada istrinya. "Minumlah."

__ADS_1


Setelah makan keduanya memasuki kamar untuk menjemput mimpi. Dirga tertidur lelap meluk istrinya. Kyara sendiri belum mampu memejamkan matanya pikirannya masih berkelana jauh akan hubungan yang ia sembunyikan.p


__ADS_2