Hidden Berondong

Hidden Berondong
Tidak Suka Bercanda


__ADS_3

Dirga sudah mengecek Cctv, terlihat bocah cantik berkuncir dua itu memang menghampiri kamar Sagara, tapi tidak sampai masuk. Bocah itu kembali melangkahkan kaki mungilnya menjauh dari sana. Dengan sesekali mengucek kedua matanya bergantian dengan Cup es krim masih di tangannya.


Dari Cctv yang berada di luar mansion gadis itu menyelinap pergi dari gerbang samping.


Dirga murka luar biasa pada setiap orang suruhannya, apa lagi pada penjaga gerbang. Ia bahkan menduga jika gadis kecilnya sudah mendengar perbincangannya dengan Sagara.


"Kalian tidak becus bekerja. Hah ..."


Bug Bug ...


Dirga memukuli setiap bawahannya.


"Bisa-bisanya putriku hilang sialan!" Berkali-kali Dirga mengumpat.


"Jika dalam tiga jam putriku belum di temukan, bersiaplah kalian akan kehilangan satu di antara tangan kalian." ujar Dirga tegas, ia juga bergegas pergi dari sana untuk ikut mencari putrinya.


"Baby pergi." Gara bergunam pelan.


"Apa ini karna salahku?" Gara bertanyapada dirinya sendiri. "Lalu bagaimana jika adik kecilku pendapat perlakuan yang sama dengan masa laluku?" Gara menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Ini tidak boleh terjadi. Baby harus baik-baik saja." Sagara pergi kekamarnya ia mengambil senjata api yang sejak dulu ia simpan dengan baik. Senjata api milik Rodex yang di mana ia sendiri yanGB melenyapkan pria itu.


"Gara kau mau kemana?" Kyara yang sejak tadi menangis menanyai putranya.


"Aku akan mencari Baby Ma." ujar Sagara, terus terang saja Kyara merasa heran dengan tingkah putranya itu. Yang di mana Gara selalu memusuhi Baby.


"Papa dan para anak buahnya sedang mencari Baby, lebih baik kau diam saja Nak, ini sudah hampir hujan, bahkan sepertinya di luar sudah gerimis." Kyara mengelus putranya dan Gara langsung memundurkan langkah ia tak senang orang lain menyentuhnya, sekalipun Mamanya sendiri.


"Tidak Ma, aku akan tetap mencari Baby." anak yang hampir menginjak sebelas tahun itu sudah melenggang pergi. Dengan sepedanya serta dengan senjata api yang ia letakan di balik bajunya lebih tepatnya di bagian pinggannya.


Sagara harus berjaga-jaga jika seandainya ada hal buruk yang terjadi denhan adiknya ia tak segan untuk mengambil tindakan.

__ADS_1


"Baby pasti belum jauh, kaki mungilnya tidak akan terlalu kuat berjalan terlalu jauh." Gara bergunam pada dirinya sendiri sembari mengayunkan kakinya di pegal sepedanya.


Manik hazelnya meneliti setiap jalan yang ia lalui, hatinya masih merapalkan doa agar gadis kecil itu tidak terluka.


Hari sudah mulai sore. Gadis kecil bermanik abu-abu muda itu terlihat berjalan di sekitaran toko pinggir jalan. Sudah dua jam lebih gadis itu berjalan tanpa tujuan, saat rintik gerimis menurunkan butiran air lebih besar gadis itu mencari tempat untuk berteduh.


Di emperan sebuah toko bunga yang sudah tutup, Baby berteduh dengan memeluk lututnya sendiri. Gadis kecil itu menatap butiran air hujan yang berjatuhan di depannya, ia juga memungut beberapa tangkai bunga yang terdapat di sana dan memainkannya.


Hujan semakin deras, hawa dingin juga semakin menusuk tubuh kecilnya. "Mama, Papa maafin Baby.," gadis itu terisak pelan. Dua kuncir kudanya juga tidak beraturan sekarang.


Pakain Baby sudah basah kuyup karna cipratan air hujan yang memantul dari lantai beton di depannya. Baby masih terisak.


"Pulang." Suara tegas itu membuat Baby mendongak.


"Kakak." cicit Baby pelan.


"Apa tidak bisa bagimu jika tidak membuat masalah?" Sagara berkacak pinggang dengan tubuh yang basah, pistol yang Gara sembunyikan tercetak dengan jelas di balik pakaiannya.


"Baby gak mau pulang. Baby mau pergi aja."


"Pulang." Sagara menyentak bocah kecil itu, sampai Baby menangis karna takut, sungguh Baby lebih takut pada perangai Kakaknya dari pada siapapun.


"Baby hanya anak pungut, Baby tidak mau tinggal di rumah kakak." Gadis kecil itu mencoba melepas cekalan Gara yang semakin kuat.


"Kakak, lepas."


"Kakak."


"Diam Baby. Ayo pulang!" Gara membentak kembali gadis itu.


Baby semakin sesegukan. Air matanya tidak berhenti di saat hujannya mulai reda.

__ADS_1


Gara membonceng adiknya di sepeda miliknya. "Kakak aku takut jatuh." Baby bersuara di belakang punggung kakaknya, takut kakaknya memarahinya.


"Hem," Gara hanya berdehem pelan, ia terpaksa mengijinkan adik kecilnya untuk memeluknya dari belakang.


Hari sudah mulai menggelap, matahari mulai bersembunyi di tempat peraduannya.


Di tengah jalan, dua orang pria bertato menyegat kedua bocah itu. Sepertinya dua orang itu adalah pereman jalanan yang berada di wilayah sana.


"Mau apa kalian?" Sagara menghentikan laju sepedanya saat kedua orang itu menghadang jalannya.


"Gadis kecil manis, pasti laku mahal jika di jual." ucap salah satu pria berambut pirang dari mereka.


"Kakak." Baby semakin memeluk erat pinggang kakaknya dan menyembunyikan wajahnya di punggung Sagara.


"Singkirkan tangan kotormu dari adiku." Sagara menggeram marah, tapi ia tak ingin jika adik kecilnya semakin ketakutan.


"Baby, kau tunggu di sana, tutup mata dan telingamu." Ujar Sagara.


Gadis kecil itu mengangguk patuh dan segera menuruti perintah Kakaknya.


"Aku peringatkan kalian untuk pergi! Sebelum kehilangan nyawa kalian." Sagara menatap tajam kedua orang itu.


"Hahahha."


"Kau mengancam kami." ucap pria berpenampilan kumal itu.


"Aku tidak suka bercanda, apa lagi bermain-main." Gara segera mengambil pistol yang ia sembunyikan.


Bukannya semakin takut justru kedua orang itu semakin terbahak, mereka menyangka jika itu pistol mainan.


Dorr.

__ADS_1


__ADS_2