
Kyara membuka pintu apartemennya. Ternyata dugaannya salah, bukan Mommynya yang datang melainkan ayah kandung Kyara. Ya yang datang adalah Papi Arman.
"Pa-papi, sedang apa Papi di sini?" Kyara bertanya gugup,
Saat tadi Kyara mengira yang datang adalah Mommynya ia sudah panik, apa lagi sekarang yang datang adalah Papinya yang selalu cerewet dan bertanya banyak hal padanya. Andai saja Kyara mempunyai ajian menghilangkan diri, ingin rasanya Kyara menghilang dari hadapan Papinya sekarang juga.
"Kau gugup? apa ada yang kau sembunyikan dari Papi?" Sungguh Arman sangat peka akan putrinya itu, namun sayangnya Kyara lebih memilih menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak, aku tidak gugup sama sekali." sangkal Kyara. "Ada apa Papi ke tempatku? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Kyara masih bertanya, karna masih pebasaran ada hal apa yang membuat Papinya singgah ke tempatnya di pagi hari. Tidak menghubunginya pula.
"Harusnya Papi yang bertanya padamu, kau tidak ke kantor selama dua minggu dan alasanmu tidak dapat di terima dengan baik Sayang. Katakan hal apa yang kau sembunyikan dari Papi." Arman memincingkan matanya mencoba membaca kebohongan di mata putrinya. Pasti sebentar lagi putrinya akan bertingkah seperti kucing anggora yang manis yang akan mengakui kesalahannya. Itu sih biasanya, tapi entah untuk kali ini.
"Papi. Em, aku kan cuti. Aku tau aku bersalah maafkan aku."
"Maaf untuk bagian yang mana? Kau belum berkata jujur pada Papimu." Kyara mengerti maksud Papinya tapi ia juga tidak memiliki keberanian untuk mengakui dosa-dosanya.
"Papi."
"Papi."
Arman memasuki unit apartememen milik putrinya. Dan tujuan utamana adalah dapur puyrinya, Di meja makan terdapat dua pasang alat makan juga dengan dua gelas belas pakai. Semakin menguatkan kecurigaan Arman pada putrinya.
"Siapa yang kau sembunyikan dari Papi?" Arman menatap putrinya dengan tajam.
"Aku, aku tidak menyembunyikan siapapun." Kyara sudah menundukan pandangan, ia tak berani menatap netra Papinya.
__ADS_1
"Kau mau jujur atau Papi yang akan mencari tau sendiri."
Kyara diam. Sedangkan Arman sudah masuk ke kamar putrinya, ia mencari sesuatu yang mencurigakan di kamar putrinya.
Tempat tidur Kyara sudah rapih, juga tidak ada hal lain yang tertinggal ataupun sesuatu yang menguatkan tuduhan Arman. Arman juga membuka kamar mandi dan pintu balcon tapi tidak ada apapun di sana.
Kyara bisa bernapas lega setelah sebelumnya ia menahan nafas untuk beberapa waktu. Tapi tetap saja ia khawatir kemana Dirga pergi, jangan sampai remaja itu nekad loncat ke lantai dasar.
"Sudah Kya katakan, Kyara tidak menyembunyikan apapun."
"Tapi bekas makanan di meja makan menunjukan ada orang lain di rumah ini, selain dirimu Sayang." Arman masih mencurigai Kyara.
"Memang ada Bibi yang ikut sarapan bersamaku."
"Ya."
"Lalu kemana Bibimu pergi sekarang?"
"Ke super market untuk membeli bahan makanan."
"Baiklah. Kau kekantor hari ini?"
"Tentu saja Pi, Papi tidak lihat jika aku sudah rapih?"
"Ya sudah kita berangkat bersama." Putus Arman.
__ADS_1
"Papi lebih baik berangkat lebih dulu aku akan memoles sedikit make up di wajahku." bohong Kyara.
Akhirnya Arman pergi lebih dulu ke parkiran ia membiarkan putrinya untuk bersiap. Kyara lansung mengunci pintu kamar setelah kepergian ayahnya.
"Dirga! Dirga!" Kyara memanggil suami minyak telinnya beberapa kali. Ke arah balkon dan sesekali menengok ke lantai dasar.
"Ya Sayang."
Dirga sudah berada di berada di belakang Kyara.
"Kau tidak papa?" Kyara menangkup pipi suami berondongnya, kecemasan tampak jelas di manik Kyara.
"Aku baik-baik saja." Dirga tersenyum lembut.
"Dimana kau bersembunyi, aku takut kau loncat ke bawah." Kyara menyampaikan ketakutannya.
"Aku tak akan melakukan hal gila Kyara, aku bahkan belum mencoba rudal rusiaku yang dudah selesai di modifikasi." Dirga tertawa renyah. Dan langsung mendapatkan hadiah pukulan di dadanya.
"Aku serius."
"Aku bersembunyi di bawah ranjang Sayang." Dirga mengecup bibir Kyara sekilas.
"Pergilah, jangan sampai Papi mertua menggerebek kita." Dirga menyuruh istrinya untuk segera pergi bekerja waktu itu juga.
"Ya sudah, aku berangkat ya." Sebelum pergi Kyara menghadiahkan satu kecupan di pipi suaminya.
__ADS_1