
Kyara kini tengah memimpin rapat bulanan di kantornya. sang ayah tersenyum bangga saat putrinya memaparkan detail produk yang akan segera rilis di pasaran.
Gio adalah asistennya yang tanggap juga cekatan selalu sigap membantu apapun yang Kyara butuhkan.
Xavier sendiri menatap takjub wanita yang pernah menghabiskan malam dengannya, cantik, pujinya tanpa sadar.
Kyara menjelaskan hampir berdiri selama enam puluh menit di hadapan layar proyektok.
"Astaga pegal sekali sepatu dengan tumit tinggi ini." Setelah rapat selesai dan orang-orang membubarkan diri, Kyara melepas dan melempar asal sepatunya menggunakan kakinya. Dan Gio sigap memberikan sepasang sendal jepit dengan merek swallow hey, itu kan sendal sejuta umat, tidak ada yang salah dengan hal itu bukan?
Arman, juga Xavier hanya menggelengkan kepala mereka lemah. Gio sendiri sudah tdrbiasa dengan tingkah atasannya.
"Gio, tolong pesankan aku makan. Eh beli bakso di tempat biasa saja" Kyara berujar yang langsing di angguki oleh asistennya. Gio enggan protes atau banyak bicara di saat tidak ada hal lain yang berhubungan dengan pekerjaan. Tanpa bertanya lagi Gio kini sudah melenggang pergi dari ruang rapat.
"Sayang. Bagai mana dengan Mario? Papi dengar dari Gio kau menemuinya tadi pagi. Atau Aiden dokter bedah itu mengunjungimu bukan tadi pagi." Kepala Kyara semakin berdecit saat semua orang menanyainya tentang pendapat beberapa orang pria.
"Pi. Aku malas berdebat aku lelah." Kyara menyampirkan kepala dengan rambut terurainya di atas meja rapat itu.
Xavier hanya bungkam ia bingung harus membuka obrolannya dari mana.
"Nanti malam kau menginap di rumah Papi kan?"
__ADS_1
"Hm. Iya Papi."
"Nanti malam Papi ada undangan pesta pernikahan. Kau temani Xavier untuk menghadiri pestanya sebagai perwakilan Papi." usul Arman.
"Ck. Kya ga mau."Kyara berdecak.
"Kenapa?" Xavier ikut bertanya, ia juga penasaran kenapa Kyara sekarang seakan menjaga jarak dengannya.
"Aku kapok."
Kapok? Mungkinkah karna kejadian malam itu Kyara masih marah padanya dan belum memaafkannya pikir Xafier, tapi ia enggan untuk bertanya lebih jauh takut Kyara malah mengatakan jika dirinya sudah pernah menyentuh bahkan menyakiti Kyara.
"Jika aku pergi dengan Gio ga papa aku akan pergi, tapi jika dengan Xavier aku lebih baik tetap di rumah saja." putus Kyara.
"Bukan seperti Pi, hanya saja aku tengah dekat dengan seorang pria, aku tak ingin membuatnya salah paham." ujar Kyara, pipinya juga sudah memerah di sertai senyum malu-malu kunyang yang menghiasi wajah cantiknya.
"Astaga, benarkah?" Arman ikut tersenyum bahagia, akhirnya Kyara sedikit terbuka mengenai seorang pria.
"Hm. Aku tidak berbohong." ujar Kyara lagi.
Xavier menduga jika apa yang di ucapkan oleh kyara adalah bualan semata, bisa saja wanita itu sedang memanasi dirinya agar Xavier mau membujuknya.
__ADS_1
"Apa Papi pernah melihat pria beruntung itu?" Tanaya Arman. Pria paruh baya itu bahkan sudah memajukan kursinya kehadapan putrinya agar terlihat lebih serius.
"Ya, Papi pernah melihatnya."
"Bagai mana ciri-cirinya?" tanya Arman kembali.
"Dia tampan Pi." ujar Kyara menyentuh pipinya yang memanas, astaga Kyara seperti seorang remaja yang baru jatuh cinta, atau lebih tepatnya sedang bsrada dalam masa pubertasnya.
"Semua pria kau katai tampan Sayang." Arman menertawakan tingkah putrinya yang selalu bilang tampan pada setiap pria sekalipun kakeknya sendiri.
Kyara ikut menertawakan Papinya.
"Cari ciri-ciri lain yang lebih spesifik Sayang." Arman mendesak putrinya.
"Dia orang yang hangat." ucapnya malu-malu dan langsung menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya.
Arman tak lagi bertanya, dengan kata hangat Arman mengetahui jika pria yang di maksud Kyara adalah Dirga, ya Dirga. Arman yakin itu, sepanjang masa Kyara hanya pernah mengatakan hangat kepada orang selain keluarganya hanya pada Dirga saja.
"Ya, Papi tau siapa pemuda itu."
Astaga ceroboh sekali mulutnya bagai mana jika Papinya mengetahui jika pria yang ia maksud adalah Dirga.
__ADS_1
"Tidak, Papi aku hanya bercanda." Sanggahnya.
Xavier menatap bos serta anak bosnya bergantian, Xavier tak mengerti dengan pembicaran mereka.