
"Jadi kau adalah saudara Kyara?" Xander berkata tak percaya.
"Ya aku saudaranya, jadi sia sia saja kau mencurigaiku." Jasson menyunggingkan senyuman sinis.
"Ya ampun William, benar-benar ceroboh." Xander memijat pelipisnya. Tidak biasanya asistennya itu ceroboh.
"Will, temui aku. Ku kirimkan lokasinya. Pastikan kau berada di sana sebelum aku sampai." Xander berbicara melalui sambungan telepon.
.
"Tuan." William menyapa tuannya saat baru saja turun dari mobilnya bersama seorang pria.
"Will, kenapa kau tidak bilang jika suami Kyara bernama Dirga." Sentak Xander tiba-tiba.
"Saya sudah mau bilang, tapi Tuan menutup sepihak panggilannya." ucap Willian jujur.
"Amankan istri dan putraku terlebih dulu, kita akan menyerang klan Dragon nanti malam." ucap Xander dengan bahasa yang hanya di mengerti Xander dan William.
"Istri, Putra? Apa maksud anda Tuan?"
"Kyara, istriku dan bocah itu putraku. Akulah pria yang bernama Dirga itu."
"Siap laksanakan." William tak bertanya lagi ia segera menyelesaikan perintah Tuannya.
Orang-orang Xander tersebar di setiap sudut pusat perbelanjaan itu.
"Papa." Gara berteriak memanggil nama Papanya.
Belum sempat Xander meraih putranya tiba-tiba lampu pusat perbelanjaan itu mati dan dalam sekejap mata putranya telah tiada.
"Segara." Xander memanggil nama putranya.
Bumm.
Dentuman keras terjadi di antara pusat perbelanjaan itu.
__ADS_1
"Segara." Xander terus memanggil nama putranya.
Ia percaya jika asistennya bisa mengamankan istrinya.
Teriakan dan tangis terdengar saling bersahutan. begitu juga dengan suara dan tembakan.
Suara riuh terus bersahutan.
William hanya berhasil mengamankan Kyara dan Bella saja. Ia merasa bersalah karna tak bisa turut mengamankan putra atasannya.
Dorr
Dorr
Tembakan saling bersahutan memekan telinga. Diantara riuhnya suasana yang Xander pikirkan hanya satu putranya. Garanya pasti sudah di culik oleh klan mafia itu.
"Sial. Aku belum sempat meraih putraku." Tak Xander sangka klan mafia Dragon bergerak di luar kendalinya.
Xander terus mengedarkan pandangan dengan senjata yang ia bawa.
.
Xander sudah berada di markas tersembunyinya.
"Will kau sudah mengamankan istriku?"
Xander berbicara dengan orang kepercayaannya.
"Sudah Tuan. Saya juga turut menitipkan putri saya pada istri Tuan." ujar William.
"Putrimu?"
"Ya Tuan. Mereka menembak mati istri saya." Ada kekecewaan, amarah serta dendam di mata pria itu.
Xander memeluk orang kepercayaannya menepuk pelan punggun William.
__ADS_1
"Sabar Will. Kita akan memakamkan istrimu dengan layak. Aku turut beduka cita atas kepergian istrimu."
"Terimakasih Tuan. Tuan sudah banyak berkorban untuk keluarga saya. Jika terjadi sesuatu pada saya tolong jaga putri saya Tuan." William mengatupkan kedua tangannya. "Sayangi bayi saya sama seperti Tuan menyayangi putra Tuan sendiri." William memohon.
"Will berhenti berkata begitu. Tidak akan terjadi apapun pada kita. Baik padamu mau pun pada putraku." Xander tak suka saat Asistennya mengatakan hal itu.
"Aku akan menemui istriku di mana dia?"
"Di sana." William menunjuk sebuah ruangan di sana.
Kyara tengah menangis di atas ranjang.
Xander mengetahui jika alasan istrinya menangis pasti karna putranya hilang.
"Kyaraa." Panggil Xander pelan.
Kyara mendongak dan menghambur ke pelukan Xander.
"Dirga. Putra kita, putra kita di culik. Bagai mana jika terjadi sesuatu padanya?"
"Stt. Tidak akan ada yang terjadi pada putraku. Gara akan baik-baik saja, aku janji padamu." Xander memeluk tubuh mungil istrinya.
"Maafkan aku, aku sudah menempatkan putra kita dalam bahaya." Xander mengecup kepala istrinya.
"Aku titip bayi itu padamu." Xander menunjuk bayi mungil di atas ranjang, bayi yang baru berumur tiga bulan. "Aku harus pergi sekarang." Xander pergi dari sana dengan langkah lebarnya.
"Dirga hati-hati." teriak Kyara. Dirga hanya menoleh sekilas dan melanjutkan langkahnya kembali.
"Tak akan ada yang ku ampuni." Xander mengepalkan Kuat tangannya.
"Dom. Bersiaplah, kau akan mati di tanganku." Xander akan berubah menjadi malaikan maut setelah ini. Tak akan ada yang bisa menghentikannya.
"Will. Berikan makan setiap anggota kita. Kita harus menjemput kemenangan dengan perut kenyang."
"Baik Tuan."
__ADS_1
Sudah menjadi kebiasaan Xander selalu memberi makan setiap anggotanya sebelum berperang. Baginya itu sangat berpengaruh untuk kemenangannya.