
Rapuh. Itulah yang tengah Dirga rasakan. Kalian boleh mengatainya orang bodoh atau apapun untuk mengungkapkan kejengkelan kalian. Tapi yang jelas Dirga memang secinta itu pada Kyara pemirsah.
Dirga di lema antara kembali ke pabriknya apau ke apartemennya. Pria muda itu masih berada di dalam mobilnya, berdiam diri di parkiran kantor Kyara, dengan masih menatap tangannya yang ia pergunakan untuk memukul kakaknya.
Hati kecil Dirga merasa sangat bersalah. Ia ingin meminta maaf pada Xavier, tapi karna mengingat perlakuan pria itu sudah melukai hatinya ia urungkan saat itu juga. Tapi ia di lema terlepas dari kesalahan Xavier ia juga bersalah sudah memukul kakak kandungnya sendiri. Dan Dirga memutuskan akan meminta maaf pada kakaknya. Ya segampang itu Dirga berubah pikiran, entah jiwa Dirga yang masih plin plan atau memang Dirga sepemaaf itu.
Ponselnya berbunyi, teman-teman prianya mengajaknya menongkrong di bar nanti malam. Rasanya ingin sekali Dirga menyetujui ajakan itu, tapi ia mengingat istrinya yang tidak menyukainya meminum alkohol akhirnya Dirga lebih memilih menolak ajakan itu. Setelah Dirga berpikir bulak balik dan mengingat satu kuotes jika apa yang terlihat belum tentu itu yang terjadi.
Bisa saja bukan jika Xavier dan Kyara tidak sengaja berciuman, misalnya mereka hendak terjatuh dan tanpa di duga tak sengaja bibir mereka menempel. Sesederhana itu pikiran remaja berusia sembilan belas tahun itu.
__ADS_1
Dan soal Xavier yang berkata buruk tentang Kyara yang mengatakan akan menceraikannya hanya agar Dirga menyerah dan pergi. Aish ternyata dirinya masih kekanakan dan tidak dewasa, paski Kyara semakin memandangnya seperti bocah.
"Aku akan menunggu Kyara di apartemen. Aku harus minta maaf padanya. Bukankah dengan meminta maaf semuanya akan membaik." Dirga pulang ke gedung apartemen mereka dan tujuannya adalah unit Kyara.
.
"Pergi dari sini Xavier!" Kyara melemparkan cincin lamaran Xavier yang berada di kantong blezernya. "Terserah maumu apa! Jika kau ingin membongkar statusku dan Dirga silahkan saja." Kyara sudah tidak memperdulikan apapun lagi sekarang.
Sepeninggal Xavier Kyara memanggil Gio keruangannya. Lengkap dengan berkas perceraian yang di minta oleh Dirga. Sebelum ini terjadi di hari pertama mereka menikah saja berkas itu sekaligus di buat. Karna memang Kyara tak berencana menjadikan Dirga suaminya selamanya, ia sudah berencana akan menceraikan Dirga sejak memutuskan untuk menikahinya.
__ADS_1
Tidak Kyara pungkiri rasa asing yang berbeda muncul setiap kali bersama pria muda itu, namun Kyara tak onhin egois dengan tetap memiliki pemuda itu, masih banyak gadis diluar sana yang lebih pantas untuk menjadi kekasih Dirga jika di bandingkan dengan dirinya.
Kyara sudah berpikir memang ini yang harus ia lakukan, sekarang atau nanti sama saja. ia akan tetap berpisah dengan Dirga. Dari segi apapun mereka memang berbeda.
"Nona yakin ingin menceraikan pemuda itu?" Gio melihat Nonanya yang tengah memegang pena juga dengan berkas perceraian di hadapannya.
"Entahlah."
"Saya melihat dia sangat mencintai Nona." ujar Gio kembali. Bukan sembarangan Gio berkata demikian, memang adanya seperti itu Dirga terlihat sangat perhatian meskipun remaja itu sering kali terlihat seperti remaja kebanyakan yang sering manja dan merajuk.
__ADS_1
"Mencintaiku saja tidak cukup Gio. Dia masih terlalu muda untuk tetap bersanding denganku. Dirga masih kekanakan untuk wanita seusiaku, oleh sebab itu aku akan membiarkan dirinya untuk membuka matanya agar dia dapat melihat begitu besarnya dunia. Kelak Dirga akan mendapatkan orang yang lebih baik dariku."
"Menurutku tidak perlu mencari yang lebih baik, cukup Nona Kyara berubah menjadi yang terbaik menurut Versi Nona sendiri." sambung Gio kembali. Dia juga tau jika Nonanya memiliki rasa tak biasa untuk pemuda itu.