
Baik Dirga maupun Kyara hanya diam beberapa waktu, dengan massa yang tidak mereka hitung. Keduanya sama-sama terkejut.
Ada rindu, kebencian juga kecewa di sorot pria berhiaskan tato di tangan kanannya itu.
"Will. Tinggalkan aku dan wanita ini." Perintah Xander tak terbantahkan.
"Baik Tuan."
Setelah kepergian asistennya Dirga lebih dulu menguasai diri di bandingkan dengan Kyara. Wanita cantik itu sudah meneteskan air matanya juga hidung yang sudah memerah. Kyara melangkah mendekati pria yang kini semakin kekar dari terakhir ia lihat di malam ulang tahun pemuda itu.
"Dirga." cicit Kyara. Ia memberanikan diri menyentuh pipi pria dihadapannya.
"Kau mengatakan sesuatu?" tanya Xander dingin.
"Kau Dirga, aku tak mungkin salah mengenali seseorang." Antara senang dan bingung yang ia rasa, benarkah ini Dirganya atau hanya mirip saja piknya kemudian.
"Aku sudah lama berteman dengan badai, gerimis seperti ini tak berarti apapun untukku." ucap Xander kembali. Ia ingin menekankan jika Ia bukan lagi seorang Dirga yang hangat, kini ia sudah menjelma menjadi kaki tangan iblis yang selalu ingin menyakiti orang lain.
"Kau tak mengenali aku?" tanya Kyara, sebenarnya banyak hal yang ingin ia ceritakan pada pria di hadapannya tapi itu semua terpatahkan saat Dirganya tak merespon.
__ADS_1
"Aku tak mengenal siapa dirimu!"
"Apa waktu enam tahun sukses membuatmu melupakan aku? Baik lah tidak papa." Kyara menyeka kasar air matanya.
"Katakan apa tujuanmu ke kantorku.?" mendengar kalimat itu Kyara merasa bangga pada pria di hadapannya. Perusahaan ini milik Dirga. Terlepas bagai mana pria itu mendapatkan Kyara tetap merasa bahagia Dirganya ada di titik ini.
"Tidak ada. Aku akan kembali. Maaf aku salah mengenal orang." Kyara hendak pergi tapi tangannya di cekal kuat oleh ptia itu.
"Kau mengenali aku sebagai siapa Nona? Seorang bocah yang pernah kau nodai? Atau sebagai seorang suami yang kau tinggalkan tanpa kejelasan?" Dirga menghimpit tubuh Kyara ke dinding menghapus jarak diantara keduanya, merapatkan tubuh kekarnya ke tubuh mungil yang ia rindukan.
Ternyata sekuat apapun Dirga menepis rasanya, Kyara tetap menggenggam hatinya hingga detik ini. Buktinya ia trrpengaruh saat Kyara salah mengenalinya.
Kyara semakin yakin jika pria yang tengah memerangkap dirinya memang Dirga.
"Dirga."
"Jangan katakan nama remaja bodoh itu. Pria muda itu sudah mati sejak lama, sejak enam tahun yang lalu saat seorang wanita mencampakannya begitu saja. Kau lihat pria kuat, kekar dan tangguh di hadapanmu ini adalah Xander Ivarez. Aku bisa saja melakukan apapun padamu Kyara, membunuhmu memutilasi dirimu, atau memasungmu karna dendam yang ku miliki pada dirimu. Kau bersalah Kyara! Kau bersalah." Lagi lagi Dirganya membentak dirinya tepat di hadapannya, Kyara bahkan memejamkan matanya dengan amat erat, ia merasakan kekecewaan dan kemarahan pria di hadapannya.
"Ya Dirga aku bersalah." Kyara memberanikan diri menatap manik yang di dalamnya berkobar api kemarahan. Jika saja tataman Dirga mampu mengeluarkan api maka tubuh Kyara akan berubah menjadi butiran abu dengan hitungan jari, saking tajamnya mata itu memandangnya.
__ADS_1
"Kau layak mendapatkan hukuman dariku Kyara." Dirga atau Xander menangkup rahang rapuh milik Kyara, pria dewasa itu membabi buta menyentuh dan menikmati apapun yang bisa ia rasakan.
"Kau berhutang padaku Kyara." Xander bergunam du hadapan wajah Kyara.
"Lepas Xander ini salah. Ini tidak benar." Sekuat mungkin Kyara menolak sentuhan Dirga yang sialnya ia juga merindukan sentuhan itu.
"Kau masih istriku Kyara. Kita tidak pernah bercerai. Aku bersumpah tidak akan melepaskanmu." Xander membopong tubuh Kyara ke atas sopa di ruangannya. Dan saat Xander menyingkap pakaian Kyara, pandangannya tersita pada bekas luka di perut bagian bawah istrinya, ia merabanya sejenak dengan pikiran yang sudah berkelana.
"Bekas luka apa ini Kyara?" tanya Dirga ia membatu di tempatnya. Ia mengingat jika tubuh istrinya sangat mulus tanpa cacat di area perutnya, Dirga juga memperhatikan guratan bekas luka itu jahitan yang rapih pikirnya ini pasti bekas oprasi.
Dirga masih berpikir, ia lengah tanpa sadar Kyara sudah menggapai pintu dan keluar ruangannya.
"Sial." maki Dirga.
Ia tak akan kehilangan jejak wanitanya lagi.
"Will ikuti wanita tadi." Xander memerintah asistennya.
Sakitnya masih berasa, tapi Dirga tak ingin lepas dari rasa yang membelenggunya selama enam tahun ini.
__ADS_1