Hidden Berondong

Hidden Berondong
Cepat sembunyi


__ADS_3

Kyara memakan makananya dalam keheningan saat Dirga tak lagi berkata penyangkalan dan bantahan.


Dirga hanya menundukan kepalanya menatap makanan di tempatnya dengan nanar, kemudian meraih dompetnya dan mengeluarkan satu buah kartu.


"Kak, ini ada kartu yang isinya memang tak seberapa, tapi niatku baik aku ingin menjadi suami yang bertanggung jawab." Ucap Dirga.


Kyara tak ingin menyinggung suami berondongnya, ia mengambil kartu itu. "Terimakasih." Kyara terdenyum tulus.


Terus terang Dirga merasa senang dan merasa di hargai saat Kyara tak menolak pemberiannya.


"Kita akan belanja bulanan jika waktunya senggang, dengan uang darimu." Kyara tersenyum hangat yang akan mengalihkan dunia Dirga, Ya Tuhan istrinya berkali-kali terlihat lebih cantik saat berbicara lembut seperti ini.


Setelah makan Dirga membereskan bekas makannya. Belum rapih, pintu sudah di ketuk dari luar.


"Dirga cepat sembunyi!" Kyara menyuruh suami berondongnya untuk bersembunyi kedalam toilet di ruangannya.


"Ma-masuk."


"Sayang kau sudah makan siang?" saat pintu terbuka Arman langdung muncul, Meskipun Arman adalah pimpinan di perusahaannya tapi ia selalu memberi privasi kepada seluruh pegawainya apa lagi putrinya, Arman selaluengetuk pintu saat memasuki ruangan putrinya.


"Sudah Pi, baru saja selesai." Kyara tersenyum canggung, Kyara membereskan bekas makannya dan Dirga. Untung saja Papinya tidak melihat jika ada dua sendok bekas pakai. Kyara sejenak menghembuskan nafas lega sebelum jantungnya kembali berdisko saat Arman menemukan kartu Atm yang masih tergeletak di atas meja.

__ADS_1


Arman meraih kartu itu dan membaca nama yang tertera di kartu itu, Dirga Alexander.


Kyara memejamkan mata seraya meringis pelan, kesialannya selalu menghampiri nasibnya yang malang.


Arman hanya menatap putrinya seraya mengerutkan kening dalam. Seakan mengerti dengan tatapan Arman, Kyara segera menjawab gugup.


"Emh, Dirga merusak barangku tanpa sengaja jadi ia memberikan kartu itu sebagai ganti rugi. Hehe." hanya alasan itu yang tdrlintas di benaknya.


Arman memincingkan mata, ia tak percaya dengan apa yang di katakan putrinya, gestur tubuh Kyara menunjukan jika wanita itu tengah berbohong. Ya Kyara termasuk pada kalangan pembohong yang buruk.


"Barang apa yang di rusak bocah itu?" Arman masih terlihat tak mempercayai ucapan putrinya, selain itu Arman ingin mengetahui sejauh mana putrinya berbohong.


Sial, Kyara memang bodoh harudnya ia bisa memperkirakan jika Papinya akan bertanya lebih jauh lagi.


"Oo,," Arman lebih memilih berpura-pura mempercayai ucapan putrinya, tapi ia akan tetap membayar orang untuk mencari tau apa yang terjadi. Jika Arman bertanya pada Gio pemuda itu tidak akan buka mulut meskipun nyawanya dalam bahaya, Gio terlalu setia pada Nonanya.


"Sini Pi." Kyara sudah menyambar kartu di genggaman Papinya ia memasukan kartu itu pada kantong blezernya.


"Kapan pemuda itu kemari, atau kau yang mendatanginya? Tak mungkinkan jika kartu ini datang sendiri."


"Tadi dia kemari, tapi sudah kembali pergi." ujar Kyara sedatar mungkin. Meskipun Arman bisa mengetahui kapan putrinya berbohong.

__ADS_1


Arman hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


Pandangan Arman kembali tersita akan ponsel yang menyala dan bergrtar di atas kursi menampilkan gambar Dirga sebagai layar wallpaper utama ponsel itu.


Sial, ceroboh sekali bocil bau kencur itu Kyara tak memiliki alasan lain lagi. Ia meremat jemarinya sendiri dengan gelisah.


Arman kembali mengambil ponsel itu. "Apa kau juga menyita ponselnya juga, sebagai jaminan." tanya Arman penuh selidik.


"Iya, Pi. Iya, bukankah kita memerlukan jaminan?" Percayalah kali ini Kyara benar-benar mendalami perannya.


"Jangan terlalu keras padanya." Meski berkata begitu Arman masih tak mempercayai kebetulan yang ada. Dan Arman menyadari bahwa ada yang terlewat dari putrinya.


"Ya, sudah Papi, mau pergi makan siang dulu." Arman memberikan posel pemuda itu pada putrinya dan berlalu pergi.


Dirga keluar dari kamar mandi. "Astaga aku seperti pelaku curanmor Kak." Dirga masih berusaha menetralkan debaran jantungnya yang nyaris tertangkap basah seperti pelaku kriminal.


"Jangan ceroboh." Kyara memberikan ponsel pemuda itu.


"Iya Kak."


Tok ... Tok ...

__ADS_1


"Astaga kenapa Papi datang lagi? Dirga, cepat sembunyi lagi." Kyara panik dan mendorong Dirga kembali memasuki kamar mandi.


__ADS_2