Hidden Berondong

Hidden Berondong
Balita kolokan


__ADS_3

"Memang kau Balita kolokan yang pemarah." Kyara semakin sengaja menyudutkan Dirga, membuat hidung pemuda itu kembang kempis karna marah.


"Jangan marah-marah kau semakin jelek dengan hidungmu yang berkembang biak seperti itu."


"Ya, aku memang jelek, yang tampan hanya Aiden." Drga semakin menunjukan sikap anak kecilnya.


"Lah, kenapa Aiden di bawa-bawa. Dasar omes."


"Ya aku memang omes, yang pendiam hanya Xavier." Semakin tak nyambunglah pembahasan mereka. Dirga terus menerus menggerutu.


"Kau itu kenapa? Apa karna sedikit dagingmu terbuang otakmu ikut bermasalah? Hey yang di buang kulit dari kepala bawahmu bukan dari otakmu, berhenti menjadi bocah ingusan yang bodoh." Kyara kehilangan kontrolnya saat berbicara, ya Kyara tidak sesabar wanita-wanita dewasa pada umumnya. Ia selalu tak bisa menahan emosinya jika selalu di peremainkan.


"Ya aku memang bocah ingusan yang bodoh. Mau apa kau?" Dirga sudah menatap Kyara. "Hanya kau yang pintar." Dirga lebih memilih membaringkan badannya dengan perlahan tanpa mau makan terlebih dahulu.


Dirga merajuk, bahkan niatnya yang akan makan setelah mandi kini ia urungkan dan harus menahan rasa laparnya di pukul sembilan malam.


"Dasar, Remaja aneh."


Kyara pergi dari kamar pemuda itu. dan membanting kasar pintu sampai kusen serta tembok pintu itu bergetar karna gebrakan yang kencang. Dirga saja sampai terjengkit kagek karna tindakan wanita itu.


"Ya Tuhan, Kakak adalah wanita dewasa yang kekanakan. Untung saja jangtungku baik-baik saja." ucap Dirga pelan. Ia mengelus beberapa kali dadanya untuk menenangkan debaran jantungnya yang menggila.

__ADS_1


Dirga memacu jantungnya lebih cepat berdetak bukan karna kaget melainkan karna takut, ya Dirga takut jika wsnita itu berbuat nekad padanya misalnya menganiyayanya di saat keadaannya tengah tak berdaya seperti ini.


"Aku harus minta maaf sama Kakak, aku takut Kakak menceraikanku." lirih Dirga, ia hendak menghampiri istrinya.


.


Kyara sendiri tengah menggerutu sendiri di dapur, wanita itu membuka lemari pendingin dan meraih satu botol air mineral berukuran sedang dengan isi enam ratus mili, membuka dan meneguknya sampai hanya tersisa separuh.


Sebenarnya ini yang ia takutkan dalam sebuah rumah tangga, ya pertengkaran seperti ini. Ia malas harus menghabiskan energinya untuk berdebat dan tidak ada paedahnya sama sekali.


Kyara hendak kembali ke unit apartemen miliknya, tapi pandangan matanya terdita pada kantong makanan dan sate yang ada di atas meja, Kyara mengingat jika Dirga sangat menginginkan sate. Belum lagi remaja itu harus makan dan meminum obatnya supaya cepat sembuh.


Saat membuka pintu Kyara melihat Dirga yang tertidur menyamping membelakangi pintu dengan beberapa bantal yang tertumpuk menumpu kakinya adar tidak menghimpit lobak kupas miliknya.


"Kakak kembali." lirih Dirga dalam hati. Dirga lebih memilih untuk berpura-pura tertidur, ingin melihat sejauh mana Kyara akan bertindak.


"Kau tidur?" Kyara berujar kencang. Tidak ada sautan, Kyara mengelilingi tempat tidur, meletakan nampan di atas nakas dan memandangi Dirga yang terpejam.


Tangan Kyara terulur menyentuh wajah Dirga dengan perlahan. Dan menepuknya dengan pelan.


"Dirga, bangun."

__ADS_1


"Dirga, kau harus makan dulu."


"Ada apa?" Dirga berpura-pura menggeliat dan menguap selayaknya orang terganggu dari tidurnya.


"Dirga bangunlah. Kau bisa tertidur lagi setelah makan dan meminum obatmu." ucap Kyara lembut, sebisa mungkin ia menekan egonya agar tidak ada lagi perdebatan di antara keduanya.


"Aku mau di suapi." Dirga menatap istrinya dengan air mata yang masih tersisa di dudut matanya.


"Kau menangis?"


Dirga menganggukan kepalanya.


"Kenapa kau menangis?" Kyara sudah meraih nasi dan daging sate yang mulai ia copoti dari tusukannya.


"Kakak, menghina dan memakiku tadi. Kakak juga membentakku." ujar Dirga.


"Kau juga meninggikan suaramu padaku." ujar Kyara lagi.


"Tapi tidak sekeras Kakak." Dirga membela dirinya.


Dasar Balita kolokan, remaja kurang akhlak, padahal remaja itu berlaku hal yang sama, tapi Dirga tidak mau di salahkan pemuda itu seakan menyudutkan Kyara saja yang salah. Ya memang seperti itu pemikiran seorang remaja.

__ADS_1


__ADS_2