
"Kyara boleh kita bicara sebentar." Xavier memberanikan diri untuk berbicara kepada putri dari atasannya.
"Ada apa?" ujar Kyara jengah.
"Mengenai malam itu, maafkan aku. Aku tau aku terlambat mengatakan maaf padamu, tapi aku benar-benar tak ingin hubungan kita semakin memburuk seperti ini." ujar Xavier terus terang.
"Hubungan? Hubangan mana yang kau maksud. Kita hanya sebgai orang asing yang terlibat pekerjaan tentang malam itu, aku sudah melupakannya. Melakukan one night stand sudah hal lumrah untukku, hanya saja bonusnya sedikit menguji adrenalinku. Ish, tamparan jambakan serta cekikanmu tak bisa ku lupakan. Ya di banding malam panjangnya aku lebih mengingat pagi harinya." Kyara mengangguk-anggukan kepalanya.
Xavier sejenak memejamkan matanya mengingat bagai mana ia menggunakan tangannya untuk memberi pelajaran pada Kyara, yang sialnya bukannya Kyara menurut padanya justru Kyara malah menjaga jarak darinya.
"Apa kau benar-benar tengah menyukai seorang pria?"
"Tentu saja aku normal, tidak mungkin aku menyukai wanita." Kyara hendak berlalu tetapi Xavier menahan langkahnya kembali.
"Kita bisa memulai hubungan baru. Aku ingin serius kali ini Kyara." ucap Xavier sungguh-sungguh jemari panjangnya menggemggam punggung tangan Kyara.
Kyara melepas pelan genggaman pria itu ia tak ingin terlibat hal apapun dengan pria bertangan dingin itu, Xavier memang pendiam tapi mematikan. Xavier pernah menggunakan tangan itu untuk menghajar seorang wanita.
"Aku tak bisa Xavier, aku tidak menyukaimu lagi."
__ADS_1
"Kyara beri aku satu kali lagi kesempatan." Xavier mencoba membujum Kyara.
"Aku tidak bisa." Kyara menggelengkan pelan kepalanya.
Kyara pergi tanpa menoleh lagi.
"Pergilah, kau bersama siapapun. Anggaplah diriku tak pernah ada. Jika kau sudah lelah dengan petualanganmu kembalilah, aku akan menjadi rumah untuk kau berpulang." Xavier berteriak, kencang di lorong itu. Ia yakin Kyara mendengar teriakannya meskipun wanita itu tidah berhenti apa lagi menengok ke tempatnya berdiri.
.
Dirga kini sedang memasuki kantor di mana istrinya bekerja, ia sudah membawa makan siang yang tadi ia beli di restoran langganannya.
Kebetulan Gio juga berpas-pasan dengan pemuda itu, tak ingin ada orang lain yang mengetahui hubungan Nonanya dan pemuda itu, Gio segera membawa Dirga ke ruangan nonanya.
Sesuai perintah Gio, Dirga langsung memasuki ruangan istrinya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Ceklek
"Apa kau sudah kehilangan pungsi tanganmu untuk mengetuk pintu?" Kyara berujar sinis saat terdengar suara pintu terbuka. Kyara tak mengalihkan matanya dari layar laptop yang tengah menyala di hadapan wanita itu.
__ADS_1
Sepertinya Kyara mengira jika yang membuka pintu adalah Gio ataupun salah satu pekerjanya.
Dirga terkesima melihat penampilan Kyara yang duduk di kursi kebesarannya, wajahnya benar-benar penuh wibawa. Juga tindakannya yang mencerminkan seorang pemimpin yang tegas.
"Kak Kya." cicit Dirga pelan tetapi masih terdengar di telinga Kyara.
"Ada apa kau kemari?" Kyara mengalihkan pandangannya, yang sedari menatap angka-angka yang hanya dapat di mengerti oleh dirinya sendiri.
Ucapan Kyara sangat membekukan sampai membuat bulu kuduk Dirga merinding.
"Kakak, jangan galak-galak Dirga takut." Ujarnya pelan. Tangannya yang tengah membawa makananpun ikut bergetar karna gemetar.
Kyara menghembuskan nafas jengah, ia juga repleks mengurut batang hidungnya yang terasa berdenyu. Ya Tuhan Bocil bau kencurnya kembali ke mode bocahnya.
"Aku bertanya ada apa kau kemari." Nadanya tak zedingin tadi tapi tatapan Kyara masih menghakimi pemuda itu.
"Kakak, jangan menatapku seperti itu aku takut." Mata Dirga sudah berkaca-kaca.
Astaga, lihatlah pemuda itu begitu penakut serta cengeng, ayolah Kyara bukanlah wanita yang sering berkata menye-menye seperti abegeh wanita. Ia terlahir sebagai anak pertama yang pundaknya harus tangguh serta dengan dada yang begitu lapang untuk menghadapi berbagai macam masalah dalam hidupnya.
__ADS_1
"Jangan memarahiku."
"Aku hanya bertanya Dirga bukan memarahimu." Kyara berkata di sela giginya yang merapat.