Hidden Berondong

Hidden Berondong
Berhenti memanggilku Kakak.


__ADS_3

Kyara menyuapi Dirga dalam keheningan dengan pelan-pelan Kyara juga memberikan pemuda itu minuman.


Dirga menerima suapan demi suapan dari istrinya, di sela makannya Dirga tersenyum lebar.


"Sudah habis, kau mau makan lagi?"


"Tidak, Kak aku sudah kenyang. Kakak makanlah lebih dulu."


"Kau minum obat dulu dan istirahat." Kyara membuka beberapa jenis obat dari dokter dan memberikan obat itu pada Dirga.


"Kak aku tidak bisa menelan obat seperti ini." Dirga menatap tiga butir obat di telapak tangannya.


"Lalu aku harus mengunyahkannya untukmu?" sarkas Kyara. "Ck, bagai mana aku tak mengatakanmu sebagai seorang balita jika kelakuanmu seperti ini, bahkan meminum obat saja tak bisa." Dirga hanya menyengir kuda, benar juga apa yang di katakan istrinya ia memang kadang bertingkah kekanakan.


"Biasanya saat aku sakit. Ibuku selalu menggeruskan obatnya di sendok kemudian di kasih sedikit air untuk ku minum." tutur Dirga jujur. Kyara menghembuskan nafasnya kasar yang ia nikahi benar-benar anak kecil pikirnya. Kyara memijat pelipis sampai ke pangkal alisnya. Kepalanya terasa pusing entah karna tingkah Dirga yang kekanakan atau karna ia yang memang tidak bisa sabar saat menghadapi suami bocilnya.


"Ya sudah. Aku akan mengambil sendoknya. " Kyara beranjak ke dapur dan mengambil sendok serta air untuk memudahkannya memberikan obat pada suaminya. Juga Kyara membawakan satu buah jeruk sebagai pernetralisir rasa pahit obat yang akan di minum suaminya.


Kyara menggerus obatnya serta memberikan sedikit air untuk melarutkan obatkanya.


"Aaa. Buka mulutmu." Kyara mengarah sendok berisi obat itu pada mulut Dirga, dengan patuh Dirga membuka mulutnya.


Dirga hendak memuntahkan obat yang di mulutnya, Kyara langsung memencet hd


Idung bangir siaminya.


"Telan." Kiara melototkan matanya.


"Glek"


"Cup." Dirga mengecup bibir istrinya. "Hehe. Aku butuh penawar pahit Kak."


"Memangnya bibirku manis apa, kaumengecupnya sebagai penawar pait."

__ADS_1


"Lebih dari itu Kak, aku menyukai rasanya." ujar Dirga. Kejadian itu terjadi berulang kali sampai obat yang harus Dirgna minum kini telah habis.


Kyara mengupaskan Dirga buah jeruk dan menyuapkannya pada suami bocilnya.


"Tidurlah. Hari sudah malam. Aku akan makan dulu." Kyara merebahkan tubuh Dirga di atas ranjang.


"Berikan aku satu kecupan manis." Dirga menunjuk keningnya. Kyara melakukan apa yang di minta suaminya.


Setelah melihat Dirga memejamkan matanya Kyara pergi keluar ruangan untuk makan malam.


Di tengah makannya Kyara merenung. Ini adalah jadwalnya untuk melakukan suntik KB, ia kembali meragu saat ini, antara memiliki bayi atau kembali melakukan suntik KB rutin.


"Tidak papa, aku ingin bayi, tak masalah jika nanti Dirga harus pergi. Yang terpenting anaknya akan lahir dengan status jelas. Bayinya tidak akan menjadi anak haram. Yang terpenting Kyara harus merahasiahkan jika kelak ia mengandung nanti." Kyara mengusap perut ratanya bibirnya menipis membentuk senyuman.


Semoga kelak, jika ia melahirkan seorang bayi. Anaknya tak akan malu memiliki ibu sepertinya.


Ada juga kesedihan yang bergelung di kepala Kyara. Tentang bagai mana caranya merenggut keperjakan Dirga. Meski kejadian nahas itu bukan pertama kali terjadi karna Sebelumnya Kyara juga sudah mengambil keperjakaan Mantan kekasihnya juga Xavier, tapi Kyara belum pernah merasa sebersalah ini. Kyara memakan makanannya dengan cepat meskipun terasa hambar.


Kyara memasuki kamar suaminya, Dirga terlihat berbaring pulas di atas ranjang. Tak terpikir sebelumnya bocah itu akan menjadi suaminya. Kelakuannya yang tercela sungguh tidak termaafkan. Kyara menangis dalam diamnya ia sudah merusak masa depan seorang pemuda sepolos Dirga.


"Harus dengan apa aku membayarnya Dirga?" Kyara kembali mengecupi telapak tangan pemuda itu.


Tanpa Kyara sadari Dirga sudah terbangun sedari tadi, semenjak pintu kamarnya terbuka, mendengar tangisan Kyara, Dirga ikut tersentuh. "Jika Kakak ingin membayarnya cukup dengan Kakak tetap bersamaku maka akan ku anggap semuanya lunas." ucap Dirga dalam hati, ia tak ingin merusak suasana dengan mengejutkan Kyara yang tengah menyesali perbuatannya.


"Dirga, aku akan tidur di kamar samping, aku tak ingin melukai burungmu. Aku tak ingin merusak bentuknya, kau sudah berkorban. Hihihi." Kyara tertawa geli. Dirga sendiri sekuat mungkin menahan tawanya. "Jangan mencariku, setelah kau sembuh aku akan kembali tidur di pelukanmu."Kyara terus berbicara tak peduli Dirga tidak mendengarnya. Setelahnya Kyara mendaratkan kecupan di pipi pemuda itu.


Ponsel Kyara berbunyi menampilkan nama asistennya Gio.


"Bagai mana Gio? Apa kau sudah dapat menemukan pelakunya?" Kyara menanyakan mengenai masalah, isu yang tengah menjamur dan mencoret nama baik perusahaan yang tengah di rintis Dirga,"


Dirga mendengarkan dengan seksama pembicaraan istrinya, meskipun ia tak dapat mendengar dengan jelas lawan bicara Kyara mengatakan apa, tapi setidaknya Dirga yakin jika yang Kyara bicarakan adalah masalahnya masalah di pabriknya.


Kyara meninggalkan Dirga sendiri di kamarnya.

__ADS_1


.


Ke esokan paginya.


Setelah mandi Kyara mendatangi kamar Dirga dengan membawa sarapan semangkuk bubur dan segelas air di nampannya.


Dirga sendiri tengah menelpon temannya Glora, untuk mengijinkannya karna tak masuk kuliah, dengan alasan ia tengah pergi keluar kota. Karna jika Dirga mengatakan ia tengah sakit bisa di pastikan Glora dan Freya akan mendatanginya hari itu juga.


"Kau sudah bangun?" Kyara meletakan nampan yang ia bawa di atas nakas dan ikut duduk di atas ranjang.


"Sudah Kak, kenapa Kakak tidak bersiap untuk bekerja." Dirga melihat istrinya hanya mengenakan pakaian santai dan menyimpulkan jika Kyara tidak akan pergi ke kantor.


"Hari ini aku kerja dari rumah saja, akan ada Gio yang mengantarkan dokumen dan berkas-berkas yang ku perlukan. Aku tak ingin meninggalkanmu dalam keadaan sakit seperti ini. Aku khawatir terjadi sesuatu padamu" ujar Kyara jujur.


Hati Dirga menghangat saat Kyara menghawatirkan dirinya.


"Jadi Kakak libur hari ini?"


"Ya, aku libur bekerja. Aku akan merawatmu sampai kau sehat."


"Sayang sekali, Kakak libur aku tak bisa melakukan apapun." Dirga berujar lemas.


"Memangnya kau ingin melakukan apa?"


"Jika saja aku sedang sehat aku ingin bercinta denganmu Kak."


"Dirga, berhenti memanggilku Kakak. Aku merasa sudah menikahi adikku sendiri."


"Jadi aku harus memanggilmu apa?"


"Apa saja. Yang penting jangan Kakak."


"Jika Kyara saja apa boleh?"

__ADS_1


"Hu'um." Kyara menganggukan kepalanya.


__ADS_2