Hidden Berondong

Hidden Berondong
Terima Ini


__ADS_3

"Papa. Jangan main pisau itu bahaya.!" tiba-tiba tangan seorang bocah kecil menarik pakai yang di kenakan Xander.


Xander mematung di tempatnya berdiri, belati yang ia gunakan untuk mengancan pria yang Xander ketahui sebagai direktur Ars corp itu malah terjatuh ke lantai sampai menimbulkan bunyi dentingan yang nyaring.


Pria bertato itu mengalihkan tatapan pada bocal yang menarik bajunya.


Bocah pria kecil dengan manik mata yang sama dengan biji bola mata Xander.


"Siapa kau bocah kecil?" Xander berjongkok mengambil belati miliknya ia juga menelisik wajah bocah berumur lima tahun lebih itu. Xander mengabaikan Jasson, untuk pertama kalinya Xander tertarik dengan seorang bocah.


"Namaku Segala Papa, Papa bisa memanggilku Gala." celoteh Segara polos.


"Papa?"


Gara menganggukan kepalanya cepat dengan tatapan polosnya.


"Kyara masuk dan istirahat lah." Jasson takut jika Xander kembali untuk menyakiti saudarinya.


Xander juga meraih tubuh mungil keponakannya, dan menggendongnya. "Jagoan mari istirahat besok kau sekolah." Baik Kyara maupun Gara bocah itu hanya menurut dan memasuki apartemen Kyara meninggalkan Xander dengan segala macam praduganya.


Xander persis seperti orang bodoh yang masih berjongkok di tempatnya tadi memungut belatinya. Ia mulai menghubung-hubungkan segala hal yang terjadi padanya dan Kyara, bekas luka itu, bocah kecil itu mungkinkah bocah itu putranya? pikir Xander.

__ADS_1


Pria berusia dua puluh enam tahun itu baru sadar saat tak mendapati siapapun di sana.


Saat ia kembali berdiri, telepon masuk dari asistennya. Mengabarkan jika Kyara sudah menikah dan memiliki seorang putra berusia lima tahun. Xander menyimpulkan jika bocah tadi adalah anak Kyara dan pria itu, seorang direktur Ars corp adalah suami Kyara. Lalu kenapa anak itu memanggilnya Papa. "Ah sial." gunam Xander, sepertinya ia telah salah paham bocah itu memanggil Papa pada pria itu bukan dirinya.


"Kyara jangan kemanapun! Sepertinya Xander telah pergi. Aku akan pulang istriku menunggu, kau jangan keluar meskipun ia mengetuk pintu berulang kali." ujar Jasson. Ia harus pulang malam ini istrinya selalu menelponnya sedari tadi.


"Bagaimana jika Dirga memaksa masuk.?"


"Pintu ini sudah di lemgkapi dengan teknologi tinggi. Kau aman di sini."


Jasson pulang setelah memastikan Xander tak ada di depan unit Kyara, padahal sebenarnya pria bertato itu kini tengah mengangkat telepon dari Will asistennya dan membahas beberapa hal.


Xander kembali ke depan unit Kyara.


Xander membuka paksa pintu apartemen milik Kyara, karna ia menebak wanita itu tidak akan mau berbicara pada jika ia bertamu secara baik-baik.


Setelah berhasil masuk Xander berjalan mengendap-endap mencari keberadaan Kyara. Entahlah apa yang akan ia lakukan pada wanita yang sudah menikah itu. Yang jelas amarah dan kecewanya masih berusaha Xander tekan sebisanya.


Selama enam tahun ia tak menyentuh wanita manapun, tak berminat menjalin hubungan dengan dalih ia memiliki Kyara, tapi ternyata wanitanya sudah menikah dan memiliki anak. Ia bahkan menumpahkan kekecewaannya pada William asistennya, ia mengatakan alasannya selama ini menolak setiap wanita yang menawarkandiri padanya hanya demi Kyara. Bahkan William memaki Xander untuk pertama kalinya dan mengatai Xander sebagai pria bodoh. Ya mau bagi mana lagi ia terlalu mengharapkan Kyara.


Xander mengintip dari celah pintu jika Kyara tengah membacakan buku sebuah dongeng seorang pangeran berkuda putih pada putranya.

__ADS_1


"Kyara, harusnya kau membacakan dongeng itu untuk putraku, bukan untuk anak orang lain." ada kekecewaan di suaranya yang bergetar.


"Apa dulu kau meninggalkanku karna pria yang lebih kaya dan lebih hebat dariku? Sekarang aku lebih hebat dari pria itu maka kau harus kembali pada suami pertamamu ini." Xander tersenyum sinis ada banyak dendam yang tersimpan di matanya.


Selesai membaca kan dongeng Kyara melihat putranya yang tengah terlelap, ia kecup puncak kepala lelaki kecilnya. "Tidurlah kesayangan Mama." Kyara mematikan lampu dan berlalu untuk tidur di kamarnya.


"Xander." Kyara bergunam saat di kamarnya ada seorang pria yang bertelanjang dada dengan tato berukirkan nama 'Kyara' di dadanya kirinya. Kyara bahkan melihat jelas nama itu di antara bidangnya dada Xander.


"Sedang apa kau di kamarku?" tanya Kyara takut ia hendak berlalu tapi Xander berhasil memeluknya.


Otot tubuh Xander terasa keras dan semakin liat, sangat jauh dari terakhir kali Kyara rasakan.


"Kau pernah berkata, jika kau akan menungguku kembali dengan apapun keputusanku. Dan keputusanku kau tetap harus menjadi milikku. Tinggalkan pria itu!" ujar Xander di antara pelukannya.


Pria itu, sekarang Kyara paham sepertinya Dirganya sudah salah paham.


"Aku bisa jelaskan." Kyara menyela.


"Stt. Tidak perlu menjelaskan apapun. Kau akan menjadi milikku."


Xander menggiring Kyara ke atas ranjang.

__ADS_1


Kyara berusaha melepaskan sentuhan Dirga, ia ingin semuanya jelas sebelum ia dan Dirga melakukan tindakan lebih jauh.


"Terima ini. Terima setiap sentuhanku!" Xander mulai membaringkan dan mengecupi seluruh permukaan tubuh Kyara dengan menuntut dan Kasar.


__ADS_2