
Kyara kembali dengan keadaan sudah rapih lengkap dengan pakaian kerjanya. Ponsel Dirga sudah ia masukan kedalam tasnya. Tapi ia bertanya tanya kemana perginya dua pria yang tadi sempat berdebat.
"Glora, Freya. Kemana perginya Aiden dan Dirga?"
"Kak Aiden kerumah sakit, katanya ada pasien kecelakaan yang membutuhkan bantuannya. Dirga sudah kembali ke unitnya untuk bersiap." jelas Freya.
"Kak Ayo berangkat, kita sudah telat nih." Glora sudah berdiri dari duduknya. "Kak sekalian ke ruang guruya aku ada masalah sedikit hehe." Glora dan Freya kompak menampilkan binar matanya.
"Baiklah, ingat ini yang terakhir." Ucap Kyara lagi, ia sudah bosan bolak-balik ke ruangan dosennya hanya karna tingkah nakal kedua adiknya, semoga saja Nicho adik bungsunya tidak seperti si kembar.
Asisten rumah tangga Kyara sidah datang dan kini mulai menghampiri majikannya. Untuk mengerjan tugasnya di mulai dari meja makan.
"Glora, Frey, pergilah lebih dulu tunggu di dekat mobil Kakak, kakak ada keperluan sebentar." sebenarnya Kyara akan ke Unit Dirga terlebih dahulu untuk memberikan ponsel pemuda itu.
"Baik Kak."
Kyara memasuki unit Dirga yang sangat sepi. Kemana remaja itu pergi.
"Dirga."
Kyara memasuki kamar suami bocilnya, tidak ada orang. Hanya terdengar gemercik air dari dalam kamar mandi. Karna buru-buru Kyara tak sempat menunggu ataupun ikut bergabung untuk mandi bersama.
__ADS_1
Kyara merogoh posel pemuda itu dari tasnya dan ia letakan di atas meja, Kyara juga meraih secarik kertas dan pena dalam tasnya untuk menulis memo yang akan ia tinggalkan untuk bocil bau kencur kesayangannya.
'Dirga, aku tak sempat pamit langsung. Jadi melalu tulisan ini aku pamit bekerja. Jangan nakal dan makan teratur. Semoga harimu menyenangkan.' Kyara mengecup kertas itu sampai warna pink nude itu menempel sekilas di kertas itu sebagai tanda bukti jika bibirnya mendarat di sana. Kyarapun meninggalkan memo dan ponsel Dirga di atas ranjang.
Ceklek.
Dirga keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basahnya. Saat netranya mendapatkan objek di atas ranjang fokusnya seketika teralihkan.
Dirga meraih ponsel dan memo itu, lalu membacanya, senang sudah perasaan Dirga. hatinya berbunga-bunga saling bermekaran. Dirga berdiri dan meloncat-loncat di atas kasurnya persis seperti bocah yang memenangkan undian togel, aish bocah mana yang memasang togel. Intinya Dirga sangat bahagia ia jungkir balik saking senangnya mendapati bekas kecupan istrinya di memo itu. Ini memang bukan jamannya surat menyurat tapi hal oni dapat menjungkir balikan kebahagian pemuda yang tengah di mabuk cinta itu, hey siapapun ternyata sesederhana itu kebahagian orang yang tengah jatuh cinta.
"Oh, Kyaraku." Dirga berulang-ulang membenamkan kecupan basah di memo itu.
"Kyara, Kyara Kyara. Hanya wajahmu yang menari-nari di dalam anganku. Tak sanggup jika harus terganti. Ya Tuhan indah sekali rasa ini." Dirga layaknya orang gila baru yang berbicara dan tertawa semaunya.
.
"Kenapa Kakak lama sekali?" Freya menggerutu.
"Maaf tadi Kakak sembelit." Kyara memasuki kemudi.
"Glora kenapa kau senyum-senyum sendiri?" Freya tampak aneh.
__ADS_1
"Kak, dosenku yang bernama Mario ingin makan siang dengan Kakak. Katanya jika aku berhasil mengatur jadwalnya aku akan lolos dalam merevisi nilaiku." Glora menyengir takut-takut.
"Glora, tidak bisakah kau berhenti membuat masalah dengan para dosen gilamu. Aku lelah harus berurusan dengan mereka." Kyara men des ahh frustasi.
"Memangnya kenapa Kak? mereka tampan, mapan dan single. Apa masalahnya?" Freya tak habis pikir akan Kakaknya yang justru terlihat kesal saat di kelilingi dengan pria-pria tampan, justru Freya ingin mempunyai aura seperti Kakaknya Kyara.
"Masalahnya mereka bukan tipeku."
"Lalu tipe Kakak seperti apa?" Glora ikut penasaran dengan tipe Kakak perempuannya bukankah kemarin-kemarin kakaknya tidak peduli akan tipe seorang pria, ataukah Kakaknya berubah pikiran dan ingin menikah.
"Lupakan." potong Kyara.
"Apa Kakak berubah pikiran?"
"Maksudmu?"
"Kakak sudah mau menikah?"
Hah.
"Menikah." Kyara malah ikut membeo
__ADS_1