Hidden Berondong

Hidden Berondong
Pastikan bentuknya sesuai


__ADS_3

"Ya sudah, aku akan keruangan Papi dulu, untuk menunda menginap di rumah Papi. Kau lebih baik tunggu di parkiran agar tidak mencurigakan jika kita keluar bersama." Kyara memberi arahan pada Bocil kesayangannya.


"Ya, Kak. Tapi kakak harus temenin aku hingga selesai ya?" Dirga sebenarnya takut bahkan sangat takut, tapi ia tidak memiliki pilihan lain. Benar kata istrinya jika ia tidak segera di sunat maka bisa saja penyakit kelamin mendatanginya. Selain itu Dirga juga menginginkan istrinya merasa puas akan dirinya, agar tidak mencari kepuasan lain di luar kamar mereka.


"Ya, aku akan menemanimu."


"Tapi dokternya priakan Kak?" Dirga bertanya. Ia takut jika dokter yang menyunatnya seorang wanita apa lagi jika yang menyunatnya adalah seorang gadis, mau di taruh dimana mukanya.


"Tentu saja seorang pria, aku juga tak rela jika ada wanita lain yang mengetahui bentuk burungmu apa lagi jika sampai ada seorang wanita yang menyentuhnya."


"Cinta memang butuh pengorbanan bukan? Ya langkah pertamanya aku harus mengorbankan sedikit kulit ari burungku, agar kicauannya lebih mantap." batin Dirga.


"Kakak, tak ingin memberikan salam perpisahan untuk kupluknya, barangkali nanti Kakak akan merindukan rasanya." Dirga mulai tawar menawar dengan istrinya.


"Sepertinya tidak."


"Ayolah Kak, sebentar saja, paling hanya lima belas menit. Lagipula nantikan lobakku pasti perlu pemulihan terlebih dahulu tak mungkin kan setelah kupas langsung tancap." Ya Tuhan sejak kapan otak suci Dirga tercemari seperti ini.


"Kau itu mesyum sekali Dirga, harusnya anak seusiamu masih bau minyak telon, tapi kau malah sudah cosplay jadi kake subiono." Kyara mendelik menatap kesal suaminya yang berbicara tanpa filter itu.


"Ah, Kakak gak asyik." Dirga memberenggut.


"Tapi sepertinya halal jika memperkosa istri sendiri. Ayolah Kak aku akan menjadi seorang hamba sahaya yang akan mematuhi setiap titah ratunya." Dirga mulai memelas menunjukan permohonannya.

__ADS_1


"Ikut Aku." Kyara membawa suaminya ke sebuah ruangan tempat ia beristirahat di ruangannya.


Kyara membiarkan Dirga berbuat semaunya, ia juga turut menikmati permainan yang Dirga mainkan.


Mereka berbagi peluh juga desa han bersama, saling memberi dan saling menerima.


Saat teriakan kepuasan terdengar dari mulut suaminya Kyarapun turut mendapatkan pelepasannya.


Setelah membersihkan diri dan merapikan kembali pakaiannya Kyara pergi ke ruangan Papinya untuk menunda acaranya menginap di rumah sang ayah.


.


Disinilah mereka berada di sebuah klinik sunat yang tentu saja tidak di ragukan lagi eksistensinya di kota ini.


"Jangan takut, semua akan baik-baik saja. Tak ada kabarnya orang mati karna di sunat." Kyara tak habis pikir dengan Dirga, pria itu kini sudah meneteskan air matanya, bersembunyi di balik lengan Kyara.


"Dirga Alexander."


"Kakak."


"Jangan takut, kan ada aku."


Beberapa saat menunggu akhira namanya di sebut oleh seorang petugas.

__ADS_1


Kyara sebenarnya juga sudah sama takutnya bahkan lebih, tapi sebisa mungkin ia terlihat tenang agar Dirga tidak tegang dan tidak berubah pikiran.


"Dirga Alexander, usian Sembilan belas tahun." terang sang doktet.


"Ya Dok benar." Kyaralah yang menyaut.


"Ganti celanamu dengan sarung ini." Dokter itu memberikan satu sarung pada penuda yang sudah berkeringat dingin sedari tadi.


"Dok, suruh keluar perawatmu. Aku tak ingin ada orang lain selain dokter dan wanitaku di ruangan ini.


Sesuai perintah Dirga, kedua perawat wanita keluar dari ruangan itu menyisakan Kyara dan Dokter saja di sana. Jantung Dirga berpacu berkali-kali lebih cepat dari biasanya.


Dirga sudah berbaring di atas bed pasien dengan kaki yang sudah di renggangkan


"Kak, aku ingin memberi wasiat padamu jika suatu saat kau menikah dengan pria lain, katakan pada calon suamimu jika kau pernah menjadi seorang istri Dirga Alexander." Dirga merasa jika umurnya ada di ujung tanduk.


"Hey tidak sekalian kau memberiku warisan. Tingkahmu persis seperti orang yang hendak mati." Kyara berkata sperti itu tentu saja ia main-main tidak sungguh-sungguh.


"Kakak jangan berkata seperti itu, selain doa seorang ibu doa seorang istripun di dengar Tuhan." Dirga sudah ketakutan, takut jika ia benar-benar tamat hari ini.


"Jadi di sunat tidak?" dokter yang mulai sepuh itu mulai kesal akan perdebatan keduanya. Ribut sekali pikirnya, sebenarnya ini mau di sunat atau tengah merebutkan tanah sengketa pikirnya.


"Ya Dok, sunat saja. Saya sudah siap, pastikan bentuknya sesuai keinginan istriku." ceplos Dirga kembali.

__ADS_1


"Bentuk yang seperti apa maksudmu?" Dokter bertanya heran dengan pasien Abegehnya.


__ADS_2