
"Jangan memarahiku."
"Aku hanya bertanya Dirga bukan memarahimu." Kyara berkata di sela giginya yang merapat.
"Tetap saja, dengan nada seperti itu aku takut." Dirga masih berdiri di dekat pintu meskipun pintunya sudah tertutup tapi Dirga tak berani melangkah ke depan untuk mendekati Kyara.
Meskipun Dirga di besarkan di keluarga yang sibuk, tapi Dirga adalah pemuda lemah lembut dan manja, berbeda dengan Xavier yang adalah anak pertama yang keras kepala.
"Kemari." Kyara menurunkan nada bicaranya, ia mengalah meskipun mengalah adalah hal yang tidak ia sukai. Dirga pun mendekat.
"Aku tak ada kelas hari ini jadi aku kemari." ucap Dirga pelan ia menyerahkan kantong makanan yang ia bawa sedari tadi pada wanita di hadapannya.
"Jika kau tak ada kelas lalu kenapa kau ke kampus?" Kyara meraih bungkusan dari bocil kesayangannya dan meletakannya di atas meja.
"Aku ada pekerjaan." ucapnya lempeng.
"Kak, aku juga nanti malam akan menginap di rumah Ibuku." paparnya lagi.
"Kenapa dadakan?"
__ADS_1
"Abisnya aku kesepian jika kakak tak ada di rumah."
"Dasar manja." Cibir Kyara tapi ia mengulum senyumnya sendiri.
Dirga duduk di bawah kursi kebesaran Kyara dan menyimpan kepalanya di atas pangkuan wanita dewasa itu.
"Kak elus kepalaku aku sedang lelah." Dirga memejamkan kepalanya.
"Kenapa? Ada masalah?" Kyara menuruti permintaan Dirga untuk mengelus berulang-ulang rambut pria itu.
"Aku kan memproduksi makanan instan Kak tapi ada pihak yang tidak bertanggung jawab menyebarkan isu tentang penggunaan minyak baabii padahal aku tak mengginakannya sama sekali dan itu kini tengah berdampak pada produk yang sedang ku luncurkan, peminatnya jadi menurun, padahal isu ini baru beredar tadi pagi tapi dampaknya sangat buruk, aku takut usahaku yang baru seumur jagung ini harus gulung tikar." Dirga sudah meloloskan cairan bening dari matanya.
"Kakak, jahat sekali berkata seperti itu memangnya Kakak ingin mempunyai suami buta." Dirga mencebik kesal.
"Jika kau buta malah bagus, aku bisa membawa banyak pria dan bisa bercinta dengan pria lain di hadapanmu. Bayangkan kau akan menjadi suami malang yang menyedihkan." Kyara malah semakin gencar menggoda Dirga, bertujuan agar suaminya tertawa tapi justru Dirga malah semakin kencang menangis.
"Malang sekali nasibku. Hwaaa ..."
Astaga, sepertinya Kyara salah memilah kata, bukannya Dirga terhibur justru pria igu malah ssmakin berduka.
__ADS_1
"Stt, sudah aku hanya bercanda. Ayo lebih baik kita makan saja." Ajak Kyara, belum sempat Dirga berdiri Xavier sudah memasuki ruangannya, membuat Dirga harus bersembunyi di kolong meja istrinya.
"Ada apa? Kulihat tanganmu masih kuat untuk sekedar mengetuk pintu." Kyara berujar kesal.
"Maaf, ada dokumen penting yang harus kau tanda tangani." Xavierberujar tanpa memperdulikan tatapan tak suka dari wakil direkturnya, Xavier sudah mulai terbiasa dengan sikaf yang di tunjukan Kyara padanya.
Xavier memberikan dokumennya, meskipun Kyara ingin cepat-cepat membuat Xavier dari sana. Kyara tetap membaca dokumen itu dengan seksama sebelum menandatanganinya, ya Kyara tak ingin ceroboh, untuk setiap hal yang bersangkutan dengan uang Kyara sangat teliti.
Dirga yang kini berada di bawah meja memsnyunkan bibirnya karna lumayan pegal berjongkok dan menunduk di bawah meja. Lama sekali, apa jangan-jangan Kyara tengah mengerjainya pikir Dirga.
Dirga mengusap betis istrinya sampai ke arah pahaa dalam Kyara, membuat Kyara memejamkan sejenak matanya untuk menikmati sentuhan itu. Kyara semakin melotot saat Dirga semakin berani mere mas dan menji lat luturnya.
"Dirga beraninya kau. Lihat saja apa yang akan ku lakukan padamu." Batin Kyara bergejolak.
"Kyara kau kenapa?" Xavier menyadari perubahan raut wajah Kyara.
"Kau sakit." Xavier mengulurkan tangannya berniat mengecek suhu tubuh Kyara, tapi wanita itu repleks menjauhkan wajahnya.
"Jangan lancang." Kyara mengecam Xavier dengan tatapan mematikan. Sampai Xavier kesulitan menelan ludahnya.
__ADS_1
Dirga mengulum senyumnya, di saat Xavier akan menyentuh istrinya, Kyara menolak. Tetapi saat Dirga yang menyantuhnya wanita itu malah terkesan menikmati kelancangan pria muda itu.