
Orang tua Dirga kini tengah berada di parkiran, mereka hendak berkunjung ke apartemen putra bungsu mereka.
"Kya, kau lebih baik pergi dulu ke unitmu. Di bawah ada ayah ibuku, mereka hendak berkunjung kemari. Pergilah sekarang jika kau masih ingin menyembunyikan statusku, sebagai suamimu." Dirga tersenyum kecut di akhir kalimatnya.
"Tapi ..." Kyara tampak di lema dengan keadaan, di satu sisi ia tak tega jika harus meninggalkan pemuda itu, tapi di sini lain ia juga tak ingin jika rahasia mereka terbongkar begitu cepat.
"Ya sudah aku akan keluar, tapi minumlah dulu obatmu." Kyara sudah menyiapkan obat yang sudah ia gerus dan larutkan dalam gelas kecil, kemudian memberikan obat itu pada Dirga.
Kyara keluar dengan terburu-buru, dan baru beberapa langkah menjauh dari unit Dirga, Kyara sudah berpaspasan dengan tuan dan nyonya Alexander.
"Kyara sedang apa kau di sini?" Nyonya Alexander menyapa lebih dulu wanita uang ia harapkan akan menjadi menantunya, padahal yang sebenarnya terjadi Kyara memang menantunya.
"Aku, aku tinggal di sini tante." ucap Kyara. "Tante sama Om apa kabar?" mau tak mau Kyara harus berbasa-basi sebentar dengan ibu dari suami bocilnya.
"Oo, Kabar Tante baik. Bagai mana kabarmu?" ibu Dirga itu terlihat sangat ramah, apalagi ia sedang menampilkan jika ia bisa menjadi seorang mertua idaman untuk Kyara, semoga saja Kyara dan Xavier berjodoh itulah yang ada di benak wanita yang sudah banyak kriput di wajahnya itu.
"Kabarku baik, oh ya tante sedang apa disini?" Kyara berpura-pura bertanya akan maksud kehadiran suami istri itu.
"Kami tengah singgah sebentar untuk menjenguk anak bungsu kami, Dirga, kau pernah melihatnya beberapa waktu lalu di rumah kami waktu makan malam bersama." kali ini Alexanderlah yang bersuara.
"Oh, begitu. Em, saya permisi Tante saya buru-buru." Kyara memilih pergi dari sana, ia semakin tak nyaman dengan keberadaan kedua mertuanya, intinya Kyara takut kelepasan saat berbicara.
"Ya, sudah hati-hati."
Kyara pamit undur diri dari sana.
__ADS_1
.
Orang tua Dirga memasuki unit putranya, karna Dirga menyuruh Ayah Ibunya langsung memasuki kamarnya.
tujuan mereka ke apartemen putra bungsunya adalah mereka akan pamit pergi keluar kota untuk masalah bisnis.
"Dirga kau sakit?" Ibu Dirga memekik, saat melihat putranya setengah duduk di atas ranjang dengan kaki mengangkang juga dengan menggunakan selembar sarung. Meskipun Dirga sudah mandi dan berganti baju dengan kaos polos berwarna putih tapi sarung yang Dirga kenakan suksea menyita fokus kedua orangtuanya.
"Aku tidak sakit Bu, aku hanya baru selesai di sunat. Hehe." Dirga tersenyum kikuk, juga malu yang menyelimuti dirinya, membuat wajah putihnya kini merona.
"Apa?." kedua orang tua Dirga memekik, keduanya terkejut bukan main, pasalnya yang mereka ketahui jika putra bungsu mereka sudah di sunat sejak umur sebelas tahun. Lalu bagai mana bisa putra bungsu mereka kini kembali di sunat.
"Kau sunat dua kali.?" Ayah Dirga bertanya penasaran.
"Tidak Ayah, yang dulu aku berpura-pura di sunat tapi sekarang ini real, aku sunat asli." Dirga menggaruk kepalanya meskipum tidak gatal sama sekali.
"Kuanggap itu pujian Ayah." Dirga menanggapi.
"Ya Tuhan, kau itu bagaimana bisa berbuat seperti itu? Lalu siapa yang akan merawatmu? Kami akan pdrgi keluar kota dalam waktu lama." Ibu Dirga sudah memijat keningnya yang tiba-tiba terasa pusing. Rambut yang di sanggul di kepalanya semakin menambah beban pada kepalanya.
"Ayah dan Ibu tenang saja, aku bisa menjaga diriku sendiri. Kalian pergilah." Dirga tak merasa sedih saat akan di tinggal orang tuanya. Karna ia kini sudah memiliki Kyara yang akan mdrawat serta menjaganya.
"Tapi tetap saja kami tidak tenang jika meninggalkanmu dalam keadaanmu yang seperti ini." Ayah Dirga kini sudah duduk di tepi ranjang putranya.
"Tidak usah khawatir Ayah, aku sudah membayar orang untuk merawatku." Dirga berbohong ia tak ingin membuat orang tuanya khawatir.
__ADS_1
"Baiklah, em jika kau butuh sesuatu kau boleh meminta bantuan pada calon menantu Ibu, nanti Ibu akan menghubunginya dia juga tinggal di sini." Ibu Dirga ingat jika ia bertemu dengan Kyara saat menuju ke tempat putranya.
"Calon mantu? Siapa Bu?" tanya Dirga penasaran.
"Kyara Sayang, dia calon mantu ibu."
"Bukan calon lagi Bu, Kyara memang menantu Ibu." Ingin sekali Dirga berteriak di hadapan ibunya, tapi sebisa mungkin ia tahan, karna Kyara masih ingin hubungan mereka di sembunyikan.
"Maksud ibu?" Dirga pura-pura tidak mengerti.
"Ya maksud ibu, ibu ingin Kyara menjadi kakak iparmu Sayang."
"Ko gitu sih bu? Emangnya Bang Xavier mau sama Kyara? Em, maksud Dirga Kak Kya." Dirga meralat ucapannya.
"Abangmu mau, hanya saja kata Abangmu Kyara sudah terlanjur membencinya karna kesalah pahaman di masa lalu. Entahlah kesalah pahaman apa Ibu juga tidak tau." ibunya menerangkan. "Lalu apa alasanmu sunat di usiamu yang sudah segede ini?"
"Hehe, aku mau saja Bu." Dirga tersenyum kikuk.
"Ibu mau punya mantu kaya Kak Kya?" Pancing Dirga.
"Tentu saja sayang."
"Bagai mana jika aku saja yang menikahi Kak Kya?"
"Hahaha," kedua orang tua Dirga kompak tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Luruskan dulu kencingmu Dirga." ujar sang Ayah, sampai membuat Dirga mencebik kesal. Tidak tau saja Ayahnya jika mereka sudah beberapa kali pokame-ame.