
"Kenapa kalian malah berdebat sih?" Freya melerai kedua pria yang berbeda usia itu.
"Dasar kekanakan." Glora ikut menimpali.
"Bocah ingusan itu Frey yang lebih dulu membuat Kak Ai Kesal," Adu Aiden.
"Cih, Kak. Kau lebih pantas di panggil Mamang tukang bakso." cibir Dirga lagi.
"Diam kau bocah ingusan."
"Dirga. Habisi makananmu." Kyara melayangkan tatapan kesal pada pemuda itu.
"Baik, Kak." Dirga sekarang berperan menjadi anak baik nan manis di hadapan Kyara.
"Cih, carmuk." Dengus Aiden.
"Dirga, Fitri semalam memaksa meminta nomormu. Jika dia mengganggumu blokir saja nomornya." Glora berbicara dengan mulut penuh makanan yang ia bawa dari rumah.
"Glora telan dulu makananmu, jangan sampai kau tersedak." Kyara juga ikut memakan masakan ibunya.
"Iya Kak."
__ADS_1
Freya malah asyik bermain ponsel saat tadi ponselnya sempat berbunyi.
"Frey, simpan ponselmu dan makanlah. Jangan sampai ponselmu melayang bebas dari unitku le lantai dasar." Kyara terdengar serius dengan kalimatnya, membuat Freya seketika menyimpan ponsel dari genggamannya.
Dirga tersenyum saat melihat kedua temannya tak berkutik saat mendapat teguran dari wanita dewasa itu.
"Kau seperi ibu tiri." Aiden malah menggoda wanita yang berhasil menawan hatinya sedari dulu.
"Diam kau. Jangan sampai kau menjadi orang pertama yang mendapatkan amukan dariku pagi ini." Kyara menatap penuh pringatan dokter yang tak ada kata lelah saat mengejarnya, tapi anehnya ia tidak tersentuh sama sekali.
"Baik Nona." ucap Aiden lagi. Ia lebih memilih aman dari pada wanita itu marah dan enggan bertemu dengannya.
Kyara beranjak meninggalkan meja makan lebih dulu.
"Apa Om dokter sangat senggang sehingga bertamu sepagi ini." Dirga masih saja kesal pada pria dewasa ini pria paling percaya diri dan menyebalkan yang oa temui pagi ini.
"Bukan urusanmu."
Dirga akhirnya memilih undur diri untuk kembali pulang ke apartemennya untung saja, ia hanya membawa beberapa barangnya ke unit istrinya. Tapi ponselnya masih berada di kamar istrinya, sial memang.
Bertepatan dengan itu Aiden juga harus pergi dari sana karna ada urusan yang mendesak, mengharus ia berbarengan kelauar dengan remaja pria itu.
__ADS_1
"Hey, Dirga." Aiden meraih pundak Dirga sampai berbalik. Ke arahnya.
"Jauhi Kyara, dia calon istriku."
"Bukankah? Kyara sepupumu." Dirga tak ingin terlihat sok sopan di hadapan dokter tak tau sopan santun ini.
"Yang saudari sepupuku hanya Glora dan Freya. Sedangkan Kyara dan aku tidak memiliki subungan darah sebercak pun jadi dia akan ku peristri." Aiden juga kesal pada pemuda itu, di hadapan si kembar dan wanita pujaannya Dirga memanggil Kyara dengan srbutan Kakak, sedangkan saat bersamanya, pemuda itu mengatakan Kyara saja.
"Lagi pula, peranmu menjadi pahlawan sudah basi. Dan lagi Kyara tak menyukai bocah ingusan sepertimu, minim pengalaman." Aiden sangat yakin dengan pendapatnya. Kyara tak mungkin tertarik dengan anak baru gede seperti Dirga.
"Memangnya Kyara mau menjadi istri dari pria tua sepertimu?" Dirga malah semakin memancing Aiden agar pria itu kesal dan berbuat ulah padanya.
"Om dokter jika anda mau bermimpi akan lebih baik jika Om, tidur terlebih dahulu." Dirga menepuk pelan lengan atas Aiden, yang menimbulkan Aiden bereaksi berlebih menepuk-nepuk bekas tangan Dirga seakan banyak kotoran di sana.
"Aku tidak sedang bermimpi Dirga." Aiden berteriak marah, tangannya juga mengepal.
"Aku mengenal Kyara sudah lebih dari lima belas tahun, dan selama itu Kyara tidak pernah mengenalkan satu orang priapun kepada keluarganya. Dan akulah kandidat utama calon suaminya." ucap Aiden penuh dengan percaya diri yang tinggi. Tangan besarnya meremat kerah pakaian yang Dirga kenakan.
"Baru calon! Jangan terlalu percaya diri." Dirga menghempas tangan lancang itu. Dan berlalu dari sana dengan seringai miringnya. Tampak menyebalkan di mata Aiden.
"Sial."
__ADS_1