
Keluarga Xavier sudah hadir, meskipun Edelweis tengah marah tapi ia tetap menyambut kedatangan keluarga Xavier, keluarga Dirga tidak menyangka jika Glora dan Freya adalah adik dari Kyara. Begitu juga dengan Edelweis ia tak menyangka jika Dirga adalah adik bungsu dari Xavier pria yang pernah menyakiti putrinya.
Keluarga Edelweis dan suaminya menyambut keluarga Xavier dengan makan malam bersama. Dan selepas makan malam mereka berbincang mengenai maksud dan tujuan Xavier dan keluarga ke sana.
Dirga menatap istrinya yang terduduk di dekat Papi kandungnya, tanpa pernah mengganti pandangannya dengan objek lain. Arman yang duduk di sebelah putrinya menyadari tatapan memuja dari remaja belasan tahun itu.
Baru saja Alexander ayah Xavier membuka pembisaran tapi Edelweis lebih dulu memotong ucapan calon besannya.
"Tunggu."
'Maaf Tuan Alexander kami menolak dengan hormat lamaran untuk putra sulung kalian Xavier, jika kalian ingin tau alasannya kalian bisa bertanya pada putra kalian sendiri. Atau kepada asisten putriku Gio.' ingin sekali Edelweis mengatakan itu tapi tangannya di sentuh oleh Kyara.
"Silahkan lanjutkan."
"Biar saya yang berbicara Xavier memotong niat ayahnya."
"Saya Xavier Alexander, kehadiran saya dan keluarga kemari bertujuan ingin mempersunting putri pertama kalian yang bernama Kyara Ligth untuk ku jadikan istri. Bagai mana? Apa sekiranya lamaran saya di terima." Xavier tetap harap-harap cemas meskipun kemungkinan besar ia di tolak.
"Kami serahkan semuanya pada anak kami." ucap Arman lagi.
"Saya menerima." Dua kata itu sukses mebuat semua orang terkejut juga dengan Xavier sendiri.
__ADS_1
Semua mata memandang ke arah Xavier dengan perasaan bahagia yang membuncah, hanya Dirga saja yang menatap Kyara dengan tatapan marah juga kecewa. Jelas terlihat di mata pemuda itu guratan luka yang sama sekali tidak di tutupi.
"Dasar serakah." desis Dirga, dan masih di dengar oleh Kyara. Kyara memejamkan matanya sejenak menikmati rasa yang sama perihnya dengan Dirga, tapi Kyara tak memiliki pilihan lain kali ini.
Xavier memegang kartu matinya saat ini, jika Kyara menolak Xavier malam ini maka pernikahannya dengan Dirga akan mencuat ke permukaan Kyara tidak ingin itu terjadi, setidaknya sampai Gio sang asistennya dapan menyelesaikan semuanya dengan cepat.
Entah dari mana Xavier mendapatkan copyan documen pernikahannya, sampai pria berusia tiga puluh lima tahun itu mengancamnya.
'Setidaknya terimalah lamaranku malam ini. jika kau tak ingin ku permalukan karna menikahi remaja yang bahkan usianya baru belasan tahun. Apa kau ingin melihat kehancuran adik malangku? Kau tau senekad apa diriku.' Hanya dengan ancaman seperti itu berhasil membuat nyali Kyara menciut. Buka dirinya yang ia takutkan. Melainkan Dirga, Kyara takut masa depan pemuda itu hancur, Kyara tau senekad apa Xavier saat bertindak.
"Dirga ku mohon jangan salah sangka padaku." mohon Kyara dalam hati, salahnya karna menyuruh Gio untuk Free malam ini, seandainya Gio ada bersamanya.
"Dirga." Kyara memanggil pelan membuat Dirga menghentikan langkahnya. Tapi tidak menengok ke belakang sama sekali kedua tangannya bahkan menepal.
"Aku kecewa padamu." sorot mata pemuda itu seakan berterik di hadapan Kyara, tatapan yang seakan menusuk dan menjatuhkannya.
.
"Tega kau Kyara. Kau benar-benar tega!!!" Dirga berteriak-teriak dia atas sebuah jembatan.
"Sampai kapan kau akan terus menyakitiku Kyara?" Dirga bertanya pada angin yang menghembus ke seluruh tubuhnya yang panas akan kemarahan.
__ADS_1
"Tuhan. Setidaknya kurangi perasaanku agar aku tak sesakit ini." Dirga semakin menangis dengan berlutut.
"Dirga!"
Sebuah suara berat mengagetkannya. Dirga mendongak ternyata yang datang menghampirinya adalah Gio.
"Jangan cengeng! Nonaku tak menyukai orang lemah, Nonaku adalah orang yang tangguh. Jika kau ingin bersanding di samping Nonaku kau harus menjadi pria yang kuat." Gio menepuk bahu suami bocil Nonanya.
"Aku mengal Nona Kyara cukup lama, percaya padaku setelah ini Nona Kyara akan mendatangimu dan mengatakan maaf serta mengatakan alasannya mengecewakanmu."
"Kyara sejak awal tidak menginginkanku Gio, mungkin saat ini adalah waktunya untuk membuangku, Kyara sudah tak memperdulikan." Dirga terduduk kali ini bersandar di sebuah pembatas.
"Jika Nona Kyara tak peduli padamu tidak mungkin dia menghubungiku dan menyuruhku memastikan keadaanmu. Dia adalah orang yang tak mudah peduli pada orang lain, selama enam tahun aku bekerja padanya baru kali ini Nona Kyara peduli pada seorang pria." ungkap Gio jujur.
"Jika kau sungguh-sungguh mencintainya katakan dan buktikan padanya."
"Aku sudah mengatakannya berulang kali Gio, tapi dia selalu menganggap aku anak kecil. Lalu bagai mana aku harus membuktikannya. Jika dia saja tak memiliki perasaan padaku." Dirga putus asa.
"Pertahankan apapun milikmu." ucap Gio.
"Buktikan kau layak untuk memilikinya."
__ADS_1