Hidden Berondong

Hidden Berondong
Tak apa


__ADS_3

"Kau sudah makan?" Kyara mengurai pelukannya.


"Belum."


"Biar ku masakkan, tapi aku harus mandi terlebih dahulu." ujar Kyara lagi.


"Jangan mandi. Ini sudah malam tak baik untuk kesehatan, cuci muka saja ya?"


"Tidak mau aku mau mandi, aku sudah berkeringat dari pagi." Kyara mencebik manja membuat Dirga berpikir apa ini sebagian dari berpura-pura istrinya. Biarlah Kyara tengah bersandiwara yang penting Dirga menyukainya.


"Biar ku temani."Dirga tersenyum penuh maksud.


"Jika kau ikut mandi, maka akan lama."


"Tidak lama paling hanya satu jam. Aku janji." Dirga memboyong Kyara memasuki kamar mereka. Membuat Kyara menjerit ketakutan serta terkejut.


"Dirga." Kyara menesupkan wajahnya di dada bidang suaminya. Tangan lentiknya ia kalungkan di leher kokoh suaminya.


"Lalu masaknya bagaimana?"


"Biar nanti ceplok telur saja, aku sudah masak nasi." ujar Dirga. Pria itu mengecup pipi istrinya.


"Sayang jangan nakal."


"Katakan sekali lagi!"


"Apa?"

__ADS_1


"Yang tadi."


"Sayang." ujar Kyara manja.


"Entah kau berlakon atau apapun yang jelas aku menyukai tingkah manjamu Love." dengan masih berjalan Dirga menghujani kecupan pada permukaan wajah Kyara.


Keduanya sampai di kamar mandi. Baik Kyara maupun Dirga sama-sama menginginkan lebih dari sekedar mandi. Di bawah guyuran shower air hangat Dirga membenamkan ciuman hangat yang menggebu, juga tangannya yang mulai liar menjalankan aksinya, menyentuh titik demi titik yang dia kehendaki.


Suara desa han Kyara terdengar di seluruh kamar mandi, meskipun permainan intinya belum di mulai.


"Kau menyukainya?" Dirga berbisik di depan bibir sensual istrinya.


"Ya, Sayang aku menyukainya, sangat menyukainyainya." Kyara mere mas rambut Dirga yang sedikit memanjang, sumpah demi apapun permainan pemuda itu terasa sangat memabukan di area leher dan dadanya, setiap sentuhan yang di berikan Dirga membawa terbang ke nirwana.


"Dan aku menyukai panggilan barumu." Dirga kembali berkata dengan suara serak yang sekaih juga dengan gigi pria itu yang menggigit cuping telinya Kyara menghantarkan gelayar yang sukar untuk di jelaskan.


"Dirga jangan aneh-aneh."


"Tidak aneh, hanya saja aku ingin mencoba hal baru."


"Memangnya kau bisa?" Kyara meremehkan suami bocilnya.


"Tentu saja. Aku sekarang sudah pandai."


"Benarkah?"


"Aku mencintaimu Kyara." Manis, siapa yang tidak menyukai ungkapan cinta di tengah aktifitas mereka yang teramat menyenangkan.

__ADS_1


Keduanya larut dalam gai rah juga naf suh yang mampu membungkam segalanya, hanya ada suara-suara yang khas akan percintaan mereka di saat penyatuannya di lakukan.


"Lihatlah!" Dirga mengarahkan wajah Kyara untuk melihat cermin di depannya. "Kau sangat cantik dengan wajah seperti itu." Dirga mengecupi kembali bahu dan punggung telan jang istrinya dari posisi dari belakang Kyara.


Keduanya melakukan pertempuran panas di kamar mandi, waktu yang di janjikan Dirga datu jam ternyata terundur beberapa waktu.


"Dirga sudah donk, aku sudah kedinginan."


"Nanti dulu. Jika belum keluar mana bisa aku berhenti seenaknya."


"Cepatlah, aku sudah lelah." Kyara sudah memelas ia sudah lelah jiwa muda Dirga benar-benar berkibar di sini.


Karna kasian melihat istrinya memelas akhirnya Dirga mempercepat gerakannya.


"Tahan sebentar!"


"Ahh."


"Kyara ... Aaa ..."


Dirga mengakhiri permainannya dengan sem buran lava hangatnya.


"Tetaplah menjadi istriku-" ujar Dirga mesra "Untuk selamanya." hanya dalam hati Dirga mengatakan kalimat terakhirnya.


"Aku menyukai mandi bersamamu."


Dirga membilas tubuh istrinya dengan air hangat.

__ADS_1


Tak apa jika Kyara harus berpura-pura mencintainya. Tapi yang jelas cintanya nyata dan tak ada rekayasa sedikitpu. Namun Dirga harus mempersiapkan diri, melatih hatinya agar siap sekalipun Kyara tak akan menjadi miliknya.


__ADS_2