
Keduanya masih mengatur nafasnya, sensasi baru yang keduanya rasakan menghantarkan mereka pada puncak tertinggi surganya dunia.
"Terimakasih." Dirga mengecup kening istrinya, hal yang ia ketahui dari google jika setelah bercinta agar mengucapkan terimakasih dengan kecupan kening sebagai bonus.
Ingin rasanya Kyara joget jingkrak-jingkrak oleh karna sebuah kecupan. Kecupan hangat yang syarat akan ungkapan dari hati.
Nyaman sekali oh Tuhan, tolong pinjamkan keduanya mesin waktu agar mereka dapat menikmati waktu mereka lebih lama.
"Aku akan ikut besok malam melamarmu, jangan kecewakan aku." pinta Dirga memelas, semakin erat remaja itu memeluk istrinya.
"Aku sudah menemui Xavier tadi siang, aku juga sudah mencoba berbicara pelepah pepaya tapi dia tetap kekeh ingin melamarku. Katanya jika ingin menolaknya aku bisa mengatakannya besok malam di hadapan seluruh keluarga. Tadinya aku tak ingin mengecewakan siapapun, tapi aku tak tau harus bagai mana." ucap Kyara, ia juga tak ingin mengecewakan Mommynya jika terus menerus menolak setiap pria yang melamarnya.
"Lalu bagaimana dengan Papimu?"
"Papi sudah menyerahkan apapun kepadaku, sayangnya, Mommy tetap ingin agar lamarannya di laksanakan. Aiden saja sampai marah padaku." Kyara sudah mengatakan pada pria pemilik mata biru itu jika ia tak lagi menyukai Xavier.
"Tidurlah. Aku yakin semua akan baik-baik saja."
.
Keesokan malamnya.
__ADS_1
Suasana kediaman Mommy Edelweis sangat ramai, banyak sanak saudara yang hadir di sana.
Arman mendatangi Kyara yang kini tengah di rias oleh make up artis.
"Sayang." Arman mendatangi putrinya. "Ingat kau berhak menentukan jalan hidupmu sendiri, jangan pikirkan apapun ada Papi yang akan selalu mendukungmu."
"Sekalipun Kya, menolak kembali lamaran ini?" Kyara berkata singkat.
"Tentu saja, kau berhak menolak atau menerima siapapun yang menurutmu layak." Arman memeluk tubuh putrinya.
"Papi, memang ayah yang sempurna. Tapi aku tak ingin memiliki suami seperti Papi." Cebik Kyara.
"Jika aku memiliki suami seperti Papi, maka setiap hari aku akan selalu cemburu kepada putriku sendiri. Karna pria seperti Papi pasti akan menyayangi putrinya melebihi apapun." Kyara memang adalah tipikal wanita yang pecemburu.
"Ya, jangan nikahi pria seperti Papi."
Kyara meminta semua orang di kamarnya keluar ia ingin berbicara berdua dengan Papinya saja.
"Pi, aku akan memberi alasan mengapa aku tidak mau menerima Xavier sebagai calon suamiku, setidaknya Papi memiliki alasan agar tetap mendukung keputusanku."
"Cukup hanya kau putriku, Papi tidak memerlukan alasan untuk terus mendukungmu."
__ADS_1
Kyara tak mrndengar apapun yang di katakan Papinya, ia tetap menceritakan malam yang ia lewati tanpa sengaja dengan Xavier dan berakhir dengan kekerasan. Meskipun Gio sudah memberi Xavier pelajaran.
"Kenapa kau tidak bilang sejak awal Sayang. Kau malah lebih mempercayai Gio di banding Papimu sendiri." Arman merasa tersentil dengan kebenarannya.
"Aku bukan anak gadis Papi yang baik, aku liar dan nakal, aku tak ingin mempermalukan Papi atau siapapun Pi, hanya Gio yang bisa mengatasi setiap masalahku. Tapi Papi jangan melakukan apapun, lagi pula itu sudah berlalu sudah sangat lama."
"Baiklah, Papi kan selalu menuruti apa maumu Sayang."
"Lalu bagai mana dengan adik bungsu Xavier? Papi melihat kau menyukainya." tanya Arman, ia dapat melihat semburat merona di wajah malu-malu kambing putrinya.
"Ah, Papi. Malah bahas bocah bau minyak telon itu."
"Tapi suka kan?" Arman tetap menggoda putrinya.
Diluar kamar Edelweis menguping pembicaran putrinya dengan ayah biologis Kyara, jantungnya merasa di pukul godham besar saat putrinya mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari pria yang bernama Xavier, "Aku sendiri yang akan menolak lamarannya." ujar Edelweis, meskipun ia tau jika putrinya juga bersalah dan nakal tapi setidaknya Kyara selalu menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Dan Dirga? Apa Dirga yang di maksud Arman, adalah Dirga teman Glora dan Freya?" Mommy Edel bertanya-tanya.
Tapi saat Edel hendak berlaku Kyara keluar di sertai Arman, Kyara mendekati Mommynya.
"Mom, jangan lakukan apapun biarkan aku yang memutuskan hidupku. Aku sudah dewasa." Ujar Kyara lirih mau tak mau Mom Edel menurutinya.
__ADS_1