
Kyara menatap suami bocilnya dengan wajah tak percaya. Antara kesal dan malu sungguh Kyara sulit untuk membedakannya.
"Dirga. Kau bahkan baru sunat beberapa minggu lalu." Ayah Dirga mende sah frustasi.
"Apa hubungannya?"
"Ayah tak yakin jika kalian mampu menghadapi bagai pernikahan. Banyak hal yang akan di lalui dalam sebuah pernikahan Dirga, kau tidak tau seberapa rumit sebuah hubungan pernikahan."
"Aku tau Ayah, ini tidak mudah bagi kalian. Aku tidak meminta pendapat kalian. Yang aku inginkan hanya doa dan dukungan kalian untuk pernikahanku dan Kyara." Orang tua Dirga membisu mereka tak pernah melihat putranya seserius ini.
"Kalian harusnya berbicara dulu pada kami sebagai orang tua, terlebih kau Kyara, umurmu sudah sangat dewasa seharusnya kau berpikir jauh jangan malah seperti seakan memanfaatkan ke polosan putra bungsuku." Nyonya Alexander berkata seperti itu seakan menyudutkan dan menyalahkan Kyara.
"Bu, jangan memojokan istriku seperti itu. Aku yang meminta dan memaksa Kyara untuk menikahiku." Dirga menyela ucapan sang ibu.
__ADS_1
"Cukup Dirga jangan membela wanita ini lagi." Ibu Dirga terlihat sangat marah pada putranya.
"Kau tidak tau seberapa sakitnya aku saat mengetahui putraku menikah tanpa restu dan ijin dariku. Bahkan kau menikahi calon kakak iparmu sendiri, usia kalian juga terpaut sangat jauh Dirga." Kyara hanya diam ia sudah menduga hal ini akan terjadi sebelumnya.
"Apa aku berdosa jika aku menikahi wanita yang lebih tua dariku Bu?" Dirga menatap nanar ibunya. "Aku mendapatkan kasih sayang dan perhatian darinya. Aku mendapatkan cinta juga darinya, Kyara memberikan sesuatu yang selama ini aku butuhkan, selama ini aku mencari jati diriku kenyamanan dan ketenangan dalam hidup. Aku tidak tau bagai mana hangatnya suasanya rumah, kalian terlalu sibuk dengan urusan kalian. Kakak-kakakku juga tidak perduli terhadapku. Aku bahkan bisa menghitung berapa kali kita kumpul bersama. Aku masih ingat saat sakit aku seperti orang sebatang kara, kalian di mana Huh. Dimana saat aku butuh kalian." Seperti ini lah Dirga selalu meledak-ledak saat emosinya tengah di permainkan.
"Dirga." Ibu Dirga sudah terisak, dia menyadari luka dan kesakitan yang di alami oleh putranya. Siapa yang menyangka di balik sikap lembut dan hangat Dirga menyimpan luka sehebat ini.
"Dirga. Hey, pelankan suaramu. Jangan meninggikan suaramu semarah apapun dirimu. Tenanglah Dirga semua akan baik-baik saja." Kyara mendekat ke arah Dirga dan menangkup kedua bilah pipinya yang sudah di banjiri air mata. "Jangan membuatku takut Dirga." Kyara menatap mata Dirga yang nyaris tenggelam dalam kubangan air mata yang ia tumpahkan.
"Aku yang takut Kyara. Aku ketakutan saat ini Kyara, aku takut kau menyerah. Aku takut kau meninggalkan aku. Aku takut kau berpaling dariku. Baru satu jam dua belas menit yang lalu aku berdoa agar kau tidak pergi. Katakan kau akan tetap menjadi milikku, katakan jika kau tidak akan melepaskanku maka aku akan tenang Kyara. Aku butuh jaminan agar kau tak pergi Kyara. Harus dengan cara apa aku memohon padamu." Tak di perdulikannya semua orang memandang dirinya dengan wajah tak percaya sunggu Dirga adalah Khais dalam versi nyata.
"Kau harus meminta maaf pada orangtuamu, tadi kau bersalah sudah meninggikan suaramu di hadapan mertuaku. Kau mau meminta maaf kan?"
__ADS_1
Dirga mengangguk patuh tanpa bantahan sedikitpun.
"Anak baik." Kyara mengelus lembut bisep tangan suami bocilnya.
"Ayah, Ibu, maafkan Dirga." pria yang baru genap berusia dua puluh tahun itu mendatangi ayah dan ibunya bergantian untuk meminta maaf.
"Jika Ayah, dan ibu meminta Dirga untuk meninggalkan Kyara. Maaf Ayah, Ibu aku tidak bisa. Aku ingin hidup bersama Kyara." Dirga tak main-main dengan ucapannya.
"Sudahlah Bu. Jangan memperumit keadaan, aku dan Dirga sudah memutuskan untuk bersama. Ibu jangan jadi ibu mertua yang jahat, yang ingin memisahkan kami, jika tak ingin di kutuk oleh menantu sepertiku." Celetuk Kyara, Dirga sampai melongo tak percaya akan apa yang di katakan istrinya.
"Kata Dirga jika kita ingin melihat Dirga menyesal atau tidak, sudah memilih wanita sepertiku, kita cukup berdoa untuk berumur panjang sehingga kita dapat menyaksikan apakah putra ibu menyesali akan pilihannya, atau justru putra bungsu ibu menikmati hidupnya dengan bahagia." Kyara tak tega jika harus melukai pemuda itu kembali. Setidaknya jika Kyara tak bisa membahagiakan pemuda itu di masa depan, ia tak ingin melukainya sejak saat ini.
"Bu. Terlalu banyak hal yang berantakan dalam hidupku hingga aku tak sanggup untuk menghitungnya. Kali ini aku tak ingin gagal lagi aku tak menginginkan hal lain selain pernikahan ini."
__ADS_1