Hidden Berondong

Hidden Berondong
Kabooorrr


__ADS_3

"Aku tidak suka bercanda, apa lagi bermain-main." Gara segera mengambil pistol yang ia sembunyikan.


Bukannya semakin takut justru kedua orang itu semakin terbahak, mereka menyangka jika itu pistol mainan.


Dorr.


Kedua orang itu terjengkit kaget luar biasa, hampir saja timah panas itu menembus kaki mereka.


Ternyata Gara hanya memberikannya peringatan, pada kedua orang itu. Sebenarnya Gara bisa saja melenyapkan salah satu dari mereka atau mungkin keduanya. Hanya satu yang Gara takutkan, takut gadis kecil itu semakin menjauh darinya, ia berhutang nyawa pada ayah gadis itu sungguh ia tidak tau berterima kasih, jika seandainya ia tak bisa menjadi pelindung gadis kecil itu.


"Lari." ucap keduanya bersamaan dengan nada takut, apa lah dayanya mereka hanya memiliki belati sebagai pertahan diri, sedangkan bocah di hadapannya memiliki senjata api dengan model khusus.


"Baby ..."


Gadis kecil itu menangis dengan cara menyembunyikan seluruh wajahnya di atas permukaan lututnya. Hal lain yang ia takutkan adalah jika Kakaknya di lenyapkan di hadapannya, entah harus apa yang Baby katakan pada Mama dan papanya nanti.


"Baby ..." untuk kedua kalinya Gara memanggil gadis kecil yang tengah menggigil antara takut dan dingin tubuhnya. Terasa tubuh rapuh itu seperti hendak membeku.


Mendengar suara yang tak asing di telinganya Baby mengangkat wajahnga. Tepat di hadapannya terdapat sepasang kaki yang sangat Baby kenali, ya Gara tetap di posisinya berdiri ia tak ingin di repotkan jika harus berjongkok di hadapan adiknya.

__ADS_1


"Kakak tidak papa." Baby memeluk erat tubuh kakaknya itu.


"Mari pulang." Gara mengajak adiknya untuk pergi dari sana menuju rumahnya.


.


Lima belas tahun sudah berlalu.


Sepertinya, Kyara dan Dirga hanya di takdirkan untuk memiliki satu putra saja. Entahlah setiap Kyara hamil wanita itu mengalami keguguran, menurut dokter umur wanita di atas tiga puluh lima tahun memang beresiko jika harus mengandung kembali.


Meski Kyara sudah berumur di atas lima puluh tahun, tapi wanita itu masih terlihat cantik di usianya yang mulai menua.


Atas banyak pertimbangan Kyara maupun Dirga menetap di salah satu negara di Eropa.


Bisnis Dirga sekarang tengah berada di puncak kejayaannya. Usaha legal maupun ilegalnya berjalan sangat baik. Namun sangat di sayangkan putranya satu-satunya sangat tertutup dan tak tergapai.


Sagara tidak segan untuk melayangkan beberapa nyawa hanya agar keinginannya terpenuhi. Setelah berobat dan terapi terlalu sering Sagara mulai menghangat saat berbicara dengan Mama dan Papanya, tapi untuk sentuhan Sagara tidak trrsentuh sama sekali. Hanya Baby yang melampaui batas, gadis itu selalu lancang mencuri pelukan serta kecupan pipi dari Kakaknya.


"Kyara, terimakasih kau mau kembali bersamaku, melanjutkan cerita tentang kita, kau lihat di usia pernikahan kita yang ke dua puluh enam tahun apa kau melihat setitik penyesalan dalam diriku?" Dirga menangkup pipi istrinya yang sedikit di hiasi kerutan tipis di antara matanya.

__ADS_1


"No. Hanya ada kebahagian yang kau perlihatkan. Di mata indahmu. Beruntung Sagara mewarisi ketampananmu." Kyara berjinjit untuk mengecup sekilas bibir suaminya.


"Terima kasih, karna tetap bertahan denganku." Dirga menggiring istrinya keatas ranjang, entahlah semakin tua ia lebih bersemangat dalam menyenangkan diri dan istrinya.


.


"Baby! Sedang apa kau di kamarku?" Sagara tak habis pikir adiknya itu begitu ajaib memasuki kamarnya padahal tadi ia menguncinya.


"Sedang apa memangnya? Aku hanya numpang berbaring Kak, kau pelit sekali!" Baby mencebik kesal.


"Aku mau ganti baju Baby. Keluar dari kamarku!"


"Tidak mau." Baby semakin menguasai tempat tidur berguling-guling.


"Baby."


"Ganti saja bajumu aku tak akan mengintip. Tubuh kekasihku lebih Seksih dari Kakak."


"Beraninya kau, gadis ileran, memiliki kekasih. Lihat saja akan ku patahkan kakinya jika dia berani munvul di hadapanku."

__ADS_1


"Kabooorrr ..." Baby berlari dan terbahak di luar kamar Sagara, puas hati ia membuat kakaknya marah.


__ADS_2