Hidden Berondong

Hidden Berondong
Kurapan kau!


__ADS_3

Keesokan harinya Dirga segera menyambangi apartemen calon istrinya yang ternyata juga satu gedung dengan apartemen miliknya.


Dengan di antar oleh Asistennya Kyara dan Dirga mendatangi kantor pencatakan sipil untuk melaksanakan pernikahan serta mencatat pernikahan mereka. Karna Dirga benar-benar ingin pernikahannya yang sesungguhnya.


"Ingat rahasiahkan ini dari siapapun sekalipun dari adik kembarku." Kyara mengacungkan jari telunjuk di hadapan wajah Dirga. "Ingat."


Dirga mengulum senyumnya sendiri merasa gemas dengan wajah Kyara yang tengah mengancamnya.


"Kakak, mau tinggal di unit apartemenku atau aku yang ke unit Kakak?" tanya Dirga.


"Lebih baik kita di unit masing-masing saja, lagipula pernikah ini hanya bentuk pertanggung jawabanku saja." Kyara berjalan lebih dulu meninggalkan Dirga yang hanya mematung di tempatnya.


"Jangan nanggung! Kakak harus benar-benar bertanggung jawab padaku jika tidak ingin bsrdosa dan mendapat karma yang pedih. Apa kakak tau? Setiap sesuatu ada timbal baliknya, hukum alam tanam tuai itu masih berlaku." Jelas Dirga lagi.


Kyara berhenti dari jalannya dan berbalik melihat Dirga yang masih memaku di belakangnya.


"Jangan menakutiku bocah ingusan!" Kyara menatap tajam wajah suami berondonnya.


"Aku tidak menakuti, Kakak. Itu benar-benar akan terjadi bahkan ada kata yang di sebut durhaka pada suami. Dan itu nyata jika Kakak mengabaikan dan mencampakan aku, maka sesungguhnya karma dari seorang suami sangatlah nyata, jadi kakak hati-hati jika tidak ingin kena karma." Kyara menelan ludahnya tiba-tiba ia meringis takut, ia terpengaruh akan ucapan suami berondongnya.

__ADS_1


"Memangnya itu beneran ada?" Kyara bertanya ragu-ragu.


"Iya kak, bahkan saking seorang istri harus patuh pada suaminya, Tuhan pernah berkata 'jika aku memerintahkan seorang makhluk bersujud kepada sesama makhluk maka aku perintahkan seorang wanita untuk bersujud kepada suaminya.' Itulah yang ku tahu dari temanku."


Glekk


Lagi-lagi Kyara menenggak ludahnya yang tiba-tiba terasa kering. Ia jadi takut sendiri mendengarnya. Astagha apa remaja itu sedang menghipnotisnya sehingga ia menjadi takut saat membayangkan kebenaran dari ucapan suaminya.


"Memang apa yang akan kau lakukan jika aku membantahmu?" cicitnya takut-takut.


"Jangan katakan kau akan mengutukku menjadi batu!"


"Kau jahat sekali."


"Biarkan saja."


"Ya sudah kau saja yang tinggal di unitku, dari pada aku harus menjadi wanita lumpuh yang menyedihkan. Jangan mengutukku ya!" Kyara memeluk bisep suaminya.


"Tentu saja tidak asal kau tetap bertingkah baik padaku, tidak menjadi istri durhaka."

__ADS_1


Keduanya berjalan beriringan memasuki mobil. "Sebentar aku akan menelpon Papiku dulu, aku akan mengabarkan jika hari ini tidak ke kantor."


Saat keduanya sampai di apartemen, Kyara memasuki kamarnya dan langsung mandi tanpa tau jika sang suami berondongnya membuntuti langkahnya.


Tuhkan burung Dirga pikun kembali, kali ini ia berdiri di siang hari saat melihat tampilan istrinya yang hanya berbalut seutas handuk putih saja sebatas perpotongan pahaanya. Darahnya terasa menindidih.


"Kakak." panggilnya lirih.


"Apa?" Sentak Kyara.


"Burungku gatal." Dirga menyentuh senjata miliknya.


"Kenapa? Kurapan kau."


"Kakak."


"Dasar jorok."


Dirga melongo atas ucapan istrinya. Sungguh bukan itu maksud dirinya. Tapi ia juga bingung sendiri mengatakannya. Ia tiba-tiba ingin mengulangi kegiatan semalam tapi bingung cara menyampaikannya.

__ADS_1


__ADS_2