
"Kapan kau akan membalas perasaanku Kyara.?" Dirga menatap istrinya yang masih terlelap. Ia tak berniat membangukan istrinya karna memang hari ini adalah weekend.
"Aku memujamu dengan sangat Kyara." Dirga melabuhkan kecupan di kening istrinya pun dirinya beranjak dari tampat tidur untuk membersihkan diri.
Dirga menulis memo di kertas kecil yang ia letakan di samping nakas tempat tidur. Ia akan membeli sarapan di luar. Begitulah yang ia tulis di memo itu. Dirga tidak mengatakan jika dirinya juga akan sekalian mendatangi Xavier untuk meminta maaf.
.
"Ada apa?" Pria pelit ekspresi itu berujar ketus pada adik adik bungsunya.
"Sebagai seorang adik aku akan minta maaf pada Abang. Tapi sebagai seorang suami aku tak ingin melakukannya karna memang Abang yang salah." Dirga nyelonong memasuki apartemen milik abangnya itu.
Xavier menghembuskan nafas kesal akan kekeras kepalaan Dirga.
"Bagaimana apa kau sudah menandatangani berkas perceraian kalian." Xavier mendaratkan bokongnya di kursi sofa tepat di samping adik bungsunya.
"Aku memohon pada Kyara agar dia memberikanku cinta selama satu bulan kedepan." ujar Dirga kemudian. Remaja itu mengambil sebatang rokok dari atas meja dan ia apit menggunakan telunjuk serta jari tengahnya.
Dirga sudah menaruh rokoknya di bibir dan bersiap menyalakannya.
"Dari wajah kusut dirimu. Bisa ku tebak pasti Kyara menolah permintaanmu bukan? Ya Kyara memang sekeras kepala itu." Xavier berkata demikin karna ia mengetahui sifat Kyara tak mudah bernegosiasi dengan wanita pintar itu.
__ADS_1
"Abang salah. Justru Kyara menyetujuinya." Dirga mengepulkan asap tembakau itu di udara.
"Aku tak yakin." Gunam Xavier pelan, tak dapat Dirga dengar. apa Kyara benar-benar menyukai Dirga? Pikir Xavier.
Lagi pula siapa yang tidak menyukai adiknya yang tampan itu, muda, ramah, mandiri juga lebut Xavier tak yakin jika Kyara yang selali haus akan perhatian mengabaikan sosok sempurna Dirga. Meskipun Dirga masih bocah, tapi seiring berjalannya waktu pria itu akan tumbuh dewasa.
"Jika Kyara menyetujuinya lalu kenapa kau semurung itu? Harusnya kau bahagia." Xavier turut menikmati lintingan tembakau miliknya.
Untuk pertama kalinya Xavier salah menebak apa yang akan di lakukan Kyara.
"Aku justru kasihan pada diriku sendiri seandainya aku tidak memenangkan hatinya aku akan terluka semakin dalam." Dirga menyandarkan kepalanya, ia atas sofa.
"Kau yakin meminta saran pada sainganmu?"
"Ck, kau benar-benar menyukai istriku rupanya." Dirga memincingkan matanya.
"Aku tidak keberatan menunggunya sebulan lagi." Xavier enggan mengatakan jika Kyara sudah memutuskan pertunangannya. Ia lebih senang melihat adiknya murung seperti itu, bukan ia seorang Abang yang kejam hanya saja dapat melihat adiknya uring-uringan tak jelas seperti ini merupakan hiburan untuknya.
"Sialan kau Bang."
"Seandainya saja ada orang yang dapat ku ajak bertaruh." Xavier menertawakan wajah adiknya yang di tekuk.
__ADS_1
"Bang Dirga permisi ya. Maaf untuk masalah kemaren. Omong-omong kau lebih tampan dengan wajah badutmu." Dirga segera membuka pintu tepat saat Abangnya melemparkan bantal padanya.
"Adik jahhanam." Dengkus Dirga.
.
Kyara sudah mamdi juga membereskan tempat tidur. Kyara juga sedang menunggu Dirga pulang membawa makanan.
Asisten rumah tangganya masih membersihkan unit apartemennya.
Ceklek.
"Sayang, kenapa lama sekali? perutku sudah sangat lapar." Kyara bergelayut manja di bisep suaminya. Demi dewa Dirga sangat menyukai tingkah Kyara yang seperti ini. Siapa yang memiliki mesin waktu ayolah kerja samanya agar momen ini tercipta sangat lama.
Dirga selalu terbuai dengan apa yang tengah Kyara lakukan padanya. Sekali lagi Dirga ingin menjadi pria egois serta serakah.
"Setelah makan kita akan berkencan." Ucap Dirga. Pemuda itu menuntun istrinya ke meja makan. Pipi Kyara merona malu kencan menurutnya adalah hal berbau dewasa, bukan sekedar jalan-jalan ketan hiburan.
"Berkencan, seperi apa yang kau maksud?"
"Aku ingin menciptakan kenangan denganmu, agar kau tak memiliki alasan untuk melupakanku." Ya Tuhan ingin rasanya Kyara member julukan pada Dirga sebagai, Dirga sadboy persis seperti remaja yang wara-wiri di tv, Wajar sadboy. Kalimatnya juga mirip-mirip, bukannya tersentuh dengan kalimat Dirga, Kyara justru terkikik geli dengan pikirannya.
__ADS_1