Hidden Berondong

Hidden Berondong
Aku mau di sunat


__ADS_3

"Jangan ceroboh." Kyara memberikan ponsel pemuda itu.


"Iya Kak."


Tok ... Tok ...


"Astaga kenapa Papi datang lagi? Dirga, cepat sembunyi lagi." Kyara panik dan mendorong Dirga kembali memasuki kamar mandi.


"Masuk."


Kyara berteriak dengan nafas memburu, menyembunyikan hubungan seperti ini benar-benar melelahkan.


"Nona Kyara."


"Astaga ternyata kau." Kyara menghembuskan nafas lega saat yang datang adalah Gio asistennya.


"Dirga, keluarlah yang datang Gio." Kyara menyuruh Dirga keluar dari dalam kamar mandi.


"Nona menyuruh bocah itu bersembunyi di kamar mandi?" Gio tak bisa menahan rasa penasarannya.


"Tentu saja Gio, kau pikir aku akan menyembunyikan pemuda besar itu di ketekku." Kyara mencibir pertanyaan konyol asistennya.


"Kejam sekali kau!" Gio sudah duduk di sofa tanpa di suruh, ia juga meletakan satu buket bunga di atas meja. Kyara sudah bisa menebak jika bunga itu pemberian dari Aiden.


"Bang Gio bunga dari siapa?" Dirga ikut terduduk di samping asisten istrinya.


"Dari fans istrimu." ujar Gio acuh. Dirga mengambil bunga itu dan menelitinya, sebuket mawar merah dengan tanpa ucapan hanya tertulis nama Aiden di kartunya.

__ADS_1


"Cih, kekanakan persis seperti abegeh, tidak mencerminkan kedewasaan padahal umurnya sudah bau tanah. Dasar bujangan lapuk." Dirga menggerutu.


"Dasar Abegeh, katakan saja jika kau cemburu." Gio menoyor kepala Dirga.


"Memang aku cemburu Bang, hanya saja Nonamu tidak menganggapku." Dirga sudah berkata sinis.


"Mungkin burungmu kurang besar. "Gio menertawakan Dirga.


"Enak saja, kalo soal barang aku tidak mengecewakan."


"Kau kurang tahan lama berarti."


"Tidak juga, aku bisa membuat Kakak puas?" ucap Dirga polos.


"Dirga, tidak setiap pertanyaan harus kau jawab. Setiap orang berhak bertanya, tapi kau tidak perlu menjawab jika itu bersifat privasi kau bisa mengabaikannya. Belajarlah bersikap dewasa Dirga." Kyara menatap bocah itu dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Untukmu Gio, berhenti untuk terlalu ikut campur urusan orang lain, kau hanya perlu bekerja dengan baik. Jika kau tak memiliki kepentingan lain kau boleh pergi." Secara tidak langsung Kyara menyusir asistennya.


"Baik Nona." Gio pergi undur diri dari ruangan bosnya.


"Dirga, boleh aku menyarankan sesuatu padamu?"


"Apa Kak?"


"Tapi kau jangan tersinggung ya, dan menurut yang ku tau juga ini baik untukmu." ucap Kyara hati-hati.


"Katakan saja tidak papa Kak."

__ADS_1


"Emm." Kyara menggaruk tengkuknya yang tak gatal ia juga bingung memulai omongannya dari mana tapi ia harus mengatakan ini karna jujur saja ia tak menyukai hal ini saat tengah bercinta dengan Dirga.


"Aku menyarankanmu untuk di sunat Dirga." Kyara menyengir kikuk, "Selain hal itu menambah gairah dalam bercinta, juga sangat berpengaruh untuk kualitas benih yang kau hasilkan." sebenarnya Kyara tengah membodohi Dirga agar remaja muda itu mau di sunat.


"Kakak jangan kenceng-kenceng mengatakan itu. Tidak ada yang tau hal itu selain Kakak, bahkan orang tuaku saja tidak tau, ini juga rahasia ya Kak." Dirga menatap polos wajah istrinya.


Karna dulu waktu umur Dirga masih berusia sebelas tahun orang tuanya membawa Dirga ke sebuah klinik sunat, tapi Dirga yang banyak akal melakukan kamuflase sehingga ia terkesan dan terlihat seperti habis di sunat tetapi sebelumnya tidak sama sekali, ya Dirga adalah bocah laki-laki yang nakal.


"Ya tenang saja rahasiamu aman, asal kau mau di sunat ya."


"Memangnya Kakak menyukai burung yang sudah di sunat?" tanya Dirga lagi.


"Ya, aku menyukai burung yang tidak memakai kuplup, agar lebih terasa sampai menyentuh titik spotku." ungkap Kyara jujur.


Sebenarnya Kyara menyukai bentuk dan ukuran suami bocilnya, hanya saja kurangnya berada di barang suaminya yang belum di sunat, sehingga saat kli maks Kyara tidak terlalu terpuaskan. Jadi dari pada Kyara memendam ketidak puasannya sendiri lebih baik ia mengutarakan ketidak puasannya pada Dirga.


"Ya, Kak aku mau di sunat, temani aku ya Kak." semoga saja ini menjadi awal yang baik dalam hubungan mereka Dirga penuh harap, pria muda itu menyimpan banyak harapan untuk masa depan hubungan mereka.


"Ya, aku akan menemanimu di sunat."


"Kau mau kapan?"


"Terserah."


"Bagai mana jika sore ini?" usul Dirga. "leboh cepat lebih baik." ujarnya lagi.


Kyara bersorak dalam hati membayangkan rasa barang Dirga yang akan modifikasi secepatnya.

__ADS_1


__ADS_2