Hunter Dan Dewa Monster

Hunter Dan Dewa Monster
Petir


__ADS_3

"Bah ... kenapa aku merasakan firasat buruk dari proses penyegelan ini?!" Jaya mengerutkan keningnya.


Petir di langit mulai menyambar turun kemana-mana. Hujan petir membasahi seluruh daratan di dunia Mayantara ini. Suaranya bergemuruh bagai orkestra langit yang merambat di udara.


Jaya melompat ke atas menahan petir yang turun menyerang Klon bayangannya. Dengan pedang hitamnya dia menghalau melawan petir sekuat tenaganya.


Ctaaar!!


Jaya mendarat ke tanah dan melompat lagi menghalau. Dia Bolak-balik turun naik dari tanah melompat ke atas dengan bergantian. Serangan petir tak kunjung reda cuma sekali, dia datang secara beruntun dan serentak.


Semakin lama, kekuatan petirnya juga semakin kuat berkembang. Jaya terdesak dengan gempuran hujan petir yang menyambar tak menentu. Banyak pepohonan tumbang dan tanah yang hancur berantakan terkena daya serangan petir.


Energi dalam formasi Segel sedikit demi sedikit mulai membentuk sebuah lingkaran. Semua energi itu berkumpul di tengah-tengah dengan memusat mengalir pesat terkonsentrasi. Aliran energi itu berkumpul memusat ke tengah bagai pusaran air yang deras dan kencang dengan semakin mengencang terkompres.


"Hiiahh.....!"


Dengan sekuatnya Jaya mengeluarkan teknik pedangnya dan terus menahan selongsong hujan petir yang deras menghujani. Benturan terjadi antara energi kegelapan di pedangnya dengan energi kilat petir yang berwarna biru.  Tidak ada yang menang ataupun kalah, Jaya hanya membuang mengarahkan serangan petir ke arah yang lain untuk jatuh.


Lima jam telah berlalu. Jaya sedikit merasa kelelahan dan mengatur nafasnya kembali. Satu menit terasa hampir berjam-jam karena perasaan ketegangan yang tidak ada habisnya. Sedikit lagi proses tahap pertama akan selesai. Energi yang terkumpul dalam pusaran formasi mulai membentuk sebuah Bola bulat dengan berdengung dan bertenaga.


"Tahap Kedua! Segel Enam Baris!" Teriak semua Klon bayangan Jaya serentak.


Mereka semua mengeluarkan energi Aura dan memusatkannya lagi ke tengah formasi. Energi Aura mereka mengelilingi seluruh sisi Bola energi dengan memadat. Perlahan-lahan, Bola energi itu membentuk bagai kristal karena tekanan dari energi Aura yang dihasilkan oleh Klon bayangan Jaya.


Bola itu berwarna putih terang dan terus mengalir memurnikan energi yang mengalir seperti pusaran arus. Dia bagai sumbu tengahnya dengan energi yang terus masuk ke dalamnya. Seluruh aliran energi di dunia Mayantara ini mulai bergejolak untuk terpusat masuk ke dalam Bola itu.

__ADS_1


"Ah ... guncangan yang kedua kali ini akan dimulai!" Jaya mengerutkan wajahnya hingga berkeringat.


Angin sepoi mulai bertiup kencang di atas langit atau pun di bawah. Berpadu dengan petir, seluruh dunia Mayantara bergetar kembali bagai bencana kalang kabut yang bertebaran di mana-mana. Banyak kehancuran dan kerusakan yang terjadi di dunia Mayantara ini.


Jaya menelan ludahnya sedikit cemas dengan memandang suasana fenomena yang sedang terjadi saat ini. Kondisinya begitu mencengangkan untuk bisa bertahan hidup di tengah bencana yang sedang dilanda dengan penuh keganasan. Tak ada yang bisa diandalkan lagi dalam situasi seperti ini, kecuali dirinya sendiri.


Dengan putus asa, Jaya memblokir  melompat ke sana kemari mempertahankan proses penyegelan Klon bayangannya. Tubuhnya terlunta kesakitan dengan banyak bekas luka dari sambaran petir atau sayatan angin yang menggulung. Darah menetes di sekitar tubuhnya yang terluka.


Deru amukan petir yang mengkilat di langit tidak memberikan Jaya untuk ruang waktu bisa istirahat. Angin ganas, juga mengganggu seluruh lingkungan. Seolah angin ribut ingin menyapu semua dan menggulung semua yang berada di dunia Mayantara ini. Bertahan di tengah ketegangan seperti ini, Jaya masih tidak kehilangan sebuah harapan.


"Fokus ... tenang ... konsentrasi ... satu titik...." Jaya meracau dengan batinnya.


Dia masih bergerak tanpa henti dan tidak memperdulikan keadaan tubuhnya sendiri. Seluruh indera tubuhnya terpusat memblokir dengan sekuat tenaga yang tersisa. Kesadarannya memasuki pertempuran insting yang terus melaju hingga titik darah penghabisan.


Jaya tak menghiraukan seluruh teriakan Klon bayangannya. Dirinya masih bergerak bagai orang kesurupan. Matanya menyala hitam, sebagian tubuhnya mengepul dengan taburan gelap yang pekat. Kesadarannya mulai sedikit menyatu dengan alam jiwa kegelapannya.


Bola energi yang memusat berubah menjadi hitam gelap. Ada banyak percikan energi yang mengkilap di sekitarnya. Dan ada pula tekanan energi yang tercipta di sekitar formasi. Para Klon bayangan Jaya banyak yang kelelahan dan terluka, karena menguras energi dan terkena percikan gelombang energi Bola hitam.


Mereka harus menahan medan energi yang memberi tekanan berat. Dan percikan energi menghambur dengan menghempaskan gelombang berturut-turut. Mereka masih harus menahan energi di Bola hitam itu agar tetap stabil.


Tanah retak dan bergetar mengguncang. Udara panas meluap dari retakan itu. Api menyembur keluar dan menambahkan simfoni bencana. Langit mendadak ingin runtuh dengan angin dan petir yang terus turun melanda. Tanah dan api mengguncang ingin merobek dan membakar segalanya.


Begitu seluruh zona energi menuju mengalir ke Bola hitam. Suasana di sekitarnya mendadak bergemuruh dengan dahsyat. Angin dan petir menyatu di atas langit bersamaan dengan suara yang menggelegar di angkasa. Sebuah guntur petir tercipta dengan berwarna ungu menyala terang bagai matahari di tengah awan gelap.


Zruitt! Cittt! Ciiiit!

__ADS_1


Guntur hendak turun menyapa Bola hitam yang penuh energi meluap-luap. Jaya melompat tinggi-tinggi dengan Jurus Nafas Kegelapannya.


Bam!


Bentrokan guntur berwarna ungu dengan pedang hitam Jaya terjadi. Energi guntur itu begitu kuat dan dahsyat hingga hampir mendorong Jaya untuk jatuh ke tanah. Namun, tanpa sadar Jaya dengan tangan hitamnya terus menghalau guntur petir itu.


Seluruh tubuh Jaya terkontraksi guntur petir yang menggeliat. Seolah ingin menghancurkan dan mengoyak tubuh Jaya hingga tercerai berai. Energi kegelapan yang menyelimuti tubuh Jaya mengepul merambat.


"Ahhhhhhhh!!!" Teriak Jaya kesakitan di udara.


Selama Jaya mengambang di udara dengan terkena sengatan guntur petir ungu yang besar. Proses penyegelan telah hampir mencapai klimaksnya. Energi mengatur cepat dan mengalir ke dalam Bola hitam.


Begitu penyegelan selesai, guntur petir ungu pun pecah menyebar luas ke angkasa bersamaan dengan awan hitam yang hilang. Sepersekian detik, gelombang energi menyebar indah bagai ratusan bintang yang jatuh. Seluruh daratan dunia Mayantara di sini pun langsung menghilang, seakan Jaya kini jatuh ke tempat hutan biasa.


Bruk!


Jaya terbaring membentur tanah dari langit. Tubuhnya tidak sadarkan diri, namun Klon bayangannya masih ada. Klon bayangannya langsung menyimpan Bola hitam yang masih menyala penuh energi ke dalam kantong ruang.


Lalu mereka mencari tempat sembunyi dan membawa Jaya. Sedangkan salah satunya dengan inisiatif, mencari keberadaan Jacky. Akhirnya mereka menemukan sebuah gua kecil.


Tidak lama kemudian Jaya pun tersadar kembali.


"Ah ... di mana ini? Jadi kalian menyelamatkanku dan membawaku kesini? Bagaimana kalian masih tetap ada selama kesadaranku hilang?" Jaya bertanya kepada Klon bayangan dirinya yang berada di depannya.


"Ya. Menyelamatkanmu adalah prioritas utama kami. Jika tubuh asli mati maka seluruh Klon bayangan akan mati selamanya. Dan selama tubuh asli tidak mati, maka kami para Klon bayangan bisa diciptakan berkali-kali tanpa peduli takut mati. Kami akan cuma hilang sementara kalau kami hanya mati atau atas perintah dari tubuh asli. Namun kami tidak bisa hilang meski tubuh utama kehilangan kesadaran dirinya sendiri ..." Jawab salah satu Klon bayangan Jaya.

__ADS_1


__ADS_2