Hunter Dan Dewa Monster

Hunter Dan Dewa Monster
Jaya Kedua (10)


__ADS_3

Jacky merenung sebentar mendengar Jaya Kedua. Mungkin menjadi kelinci percobaan adalah kesempatan emas yang mungkin bisa mengubah hidupnya kalau berhasil. Namun di sisi lain, dirinya juga takut mengambil tindakan yang beresiko, seperti yang membahayakan ancaman hidupnya.


Tetapi setelah dia mengingat kembali ketika telah memutuskan untuk mengikuti Jaya. Dia meneguk ludahnya begitu dalam, tersadar tentang keputusannya. Kini dia mengerti bahwa mengikuti Jaya bukanlah jalan yang mudah. Melainkan jalan yang penuh resiko, bahaya, dan terasa tidak ada jalan untuk kembali pulang. Cuma ada kata, maju dan ambil segala kesempatan yang ada.


"Baiklah ..." Jacky mendengus lemas. Punggungnya terasa tertimpa batu yang begitu berat. Dia lanjut berkata, "aku akan melakukannya. Tetapi dengan beberapa taruhan."


"Taruhan?" ulang kata Jaya Kedua, memiringkan kepalanya.


"Jika gagal dan aku mati, aku ingin kau menjadi prajurit Hunter di kota Bulengreng. Dan jika berhasil, maka aku akan mengikutimu menjadi petualang Hunter. Bagaimana? kau setuju?" Jawab Jacky ekspresinya menantang Jaya Kedua.


Impian Jacky adalah menjadi prajurit Hunter untuk kota Bulengreng. Sebab, itu harapan dari kedua orang tua Jacky sewaktu dia masih kecil sebelum meninggal. Jaya Kedua sebenarnya mengetahui tentang hal tersebut, hanya saja dia tak mengira bahwa Jacky akan mempertaruhkan profesi dan harapan masa depannya tersebut untuk taruhan saat ini.


"Tidak bisakah kau ganti taruhannya?" Elak Jaya Kedua, dia merasa tidak enak hati merubah mimpi seseorang yang ingin dicapainya. Apalagi itu adalah harapan dari orang tuanya. Meski, Jaya Kedua tidak pernah merasakan kehangatan orang tua, bukan berarti dia berhati dingin dan mengabaikannya.


"Apa kau takut taruhannya? Kalau kau tidak mau. Maka aku juga tidak akan ikut menjadi kelinci percobaan." Tantang Jacky dengan wajah tersenyum menantang. Dia lalu berkata lagi, "bukanlah kau ingin aku mengambil resiko. Maka taruhan ini juga adalah resiko untukmu,"


Jaya Kedua lantas tertawa lepas. Tidak mengira Jacky akan membalas tawaran dari resiko yang ditawarkannya. Jaya Kedua berkata, " baik ... baik ... aku ikut taruhanmu. Kuharap kau tidak menyesal nanti jika kalah,"


Jacky membalas dengan jarinya menunjuk, "dan kau juga jangan ingkar janji jika nanti kaulah yang kalah,"


Malam ini setelah kesepatakan pertaruhan tersebut, mereka kembali ke ruang penginapan masing-masing.

__ADS_1


Di tempat penginapan Putri Sekar.


Saat ini dirinya tengah duduk di kursi bersama Paman Yoga. Dan Putri Sekar membaca sebuah surat yang ditinggalkan oleh Bananji, setelah diberikan oleh Paman Yoga. "Temuilah Jaya jika nanti di masa depan anda menemukan masalah. Mulai saat ini, dia adalah orang yang akan melindungi anda. Aku telah mengakuinya. Dan berikanlah juga surat yang telah ku tulis khusus kepada ayah anda. Jagalah diri anda baik-baik," begitulah kata surat tersebut dari Bananji untuk Putri Sekar.


Putri Sekar terdiam memikirkan isi dalam surat tersebut. Memang ada dua surat yang ditinggalkan oleh Bananji untuknya. Satu untuk dirinya, dan satu lagi untuk ayahnya. Dan dalam surat untuk dirinya, dia terheran dengan isinya tersebut. Tidak ada sesuatu yang penting dalam pesan tersebut, kecuali mengenai Jaya.


'Jaya? Apa yang telah guru lakukan kepadanya? Dan kenapa dia akan melindungiku?' Tanya Putri Sekar kepada dirinya sendiri dalam hati. Dia mengerutkan keningnya dengan perasan bingung, tidak mengerti maksud isi pesan dari gurunya. Dia menggelengkan kepala untuk membuyarkan lamunan isi hatinya.


Ketika membayangkan Jaya, tiba-tiba perasaannya sedikit kesal memikirkannya.


Paman Yoga khawatir setelah melihat ekspresi Putri Sekar membaca surat. "Apakah ada sesuatu yang salah tuan Putri?" tanya Paman Yoga.


"Tidak. Apakah kau tahu dimana Jaya, Paman?" kata Putri Sekar. Dia merasa perlu mencari kejelasan tersebut dari Jaya sendiri, mengenai soal isi dari pesan gurunya.


'Mungkinkah dia bersama guru saat ini?' tanya hati Putri Sekar penasaran, sambil memegang dagunya.


Di sebuah dimensi ruang tubuh gagak Bananji.


Bananji sedang menjelaskan sesuatu kepada Klon bayangan Jaya Kedua. "Waktuku tidak banyak. Tiga hari atau satu minggu, kurasa itu adalah batas hidupku saat ini."


"Lalu apa yang akan kita lakukan disini?" Tanya Klon bayangan Jaya Kedua. Dia duduk bersila bersama Bananji dan mengamati keadaan sekelilingnya.

__ADS_1


"Seperti yang telah kukatakan, dirimu perlu melakukan sesuatu terlebih dahulu agar bisa menggunakan kekuatan Kunci Suluk. Sebab, kekuatan ini bukanlah berasal dari sumber energi biasa." jawab Bananji.


"Maksudnya?"


"Dalam tubuh manusia pada dasarnya terdapat empat energi dasar. Energi Aura bersumber dari tubuh fisik yang didapatkan dari Energi alam, Energi Ananta berasal dari Jiwa yang telah dibangunkan. Lalu Energi Insting yang berasal dari perasaan, latihan dan pengalaman. Ketika kau menggabungkan ketiganya, maka terlahirlah sebuah energi baru, dan itu disebut Kunci kekuatan sejati seseorang. Dan Kunci tersebut tidak bisa diberitahukan kepada orang lain jika kamu tidak ingin mati,


"Sebab, setiap Kunci kekuatan seseorang itu memiliki kelemahannya sendiri. Namun dari semua Kunci kekuatan yang berada di tubuh manusia, ada satu Kunci yang tidak memiliki kelemahan. Itu adalah Kunci Suluk, atau bisa disebut Kunci kesempurnaan. Dia mempunyai kesadaran kehendaknya sendiri dan bisa terus berkembang untuk bertambah kuat bersama pemiliknya."


Klon bayangan Jaya Kedua terdiam, sedikit mengerti tentang penjelasannya tersebut. Mungkin energi yang berwarna putih dalam tubuhnya saat itu adalah energi Insting, seperti apa yang dijelaskan Bananji. Sebab, dirinya tidaklah begitu mengerti banyak tentang energi dan kultivasi manusia. Dan kini Klon bayangan Jaya Kedua malah tertarik untuk menyatukan seluruh energinya menjadi satu, sebab dia nantinya akan bisa mendapatkan Kunci kekuatan Sejati.


'Mungkinkah jika aku bisa menyatukan semuanya menjadi satu dan mendapatkan kunci kekuatan sejati. Aku bisa menjadi sekuat Tarkan?' begitulah pikirnya saat ini dalam hati.


Bananji lanjut menjelaskan, "Pemahaman kehidupan. Inilah dasar dari setiap Kunci Suluk. Jika kau ingin bisa memiliki kunci Suluk, kau perlu memahami dan menghadapi empat konsep kehidupan dalam dirimu sendiri. Sebab, meski aku bisa memberikanmu Kunci tersebut, belum tentu kau bisa memiliki Kunci tersebut."


"Empat konsep kehidupan? Bukankah Kunci Suluk memiliki lima?"


Bananji menjawab dengan muka tenang dan datar, bagai setenang air sejuk pegunungan. "Hah ... Itu kalau kau bisa memiliki keempatnya, maka kelima akan bisa kau pegang dengan mudah. Energi, Alam, Manusia, dan dirimu sendiri, itulah konsep setiap Kunci Suluk. Dan yang saat ini aku punya adalah konsep tentang dirimu sendiri. Yang tidak lain mengenai kegelapanmu sendiri.


"Mantranya berbunyi, 'Ananiro ananingson, wujud iro wujud ingsun[1].' Ucapkan mantra tersebut dalam meditasimu secara terus menerus ketika aku mengeluarkan Kunci Suluk, lalu lawanlah dan pahamilah dirimu sendiri dalam ruang kosong di tubuhmu. Jika kau bisa melakukannya, mungkin dirimu bisa menggunakan sedikit dari kekuatan Kunci Suluk yang aku punya ini. Sebab Kunci ini ada tiga tahap untuk bisa menjinakkannya secara penuh."


Note:

__ADS_1


[1] Adanya kamu karena adanya keberadaanku. Wujud kamu adalah wujud aku.


__ADS_2