Hunter Dan Dewa Monster

Hunter Dan Dewa Monster
Terbangun


__ADS_3

"Jaya, orang itu sepertinya aneh! Matanya dia sepenuhnya berwarna hitam ..." Jacky menatap seseorang itu dengan ketakutan, punggungnya terasa dingin.


"Hmp ..." Jaya Kedua mencoba memfokuskan penglihatannya untuk melihat seseorang itu karena begitu samar oleh gelapnya malam. Hanya ada sedikit cahaya dari perapian kecil saja di sini. "Yah … itu .. sepertinya dia memang ada yang aneh. Jacky, bersiaplah lari jika situasinya memburuk."


"Hei … kau! Siapa namamu? Apa urusanmu kemari?!" Teriak Jaya Kedua menatap orang itu.


"Daging … lapar ..." Kata orang itu tidak menghiraukan dan kakinya bergerak dengan tempo lambat untuk mendekat ingin meraih Jaya Kedua. Energinya menyusut menyelubung ke seluruh tubuhnya, dia tidak lagi memberikan tekanan. Dia saat ini tengah berhadapan dengan Jaya Kedua, dengan jarak dekat.


Dari semua kejadian di masa lalunya, Jaya tidak menemui kasus yang seperti ini. Namun gejala dan tindakannya yang orang ini lakukan, mengingatkan Jaya akan tentang sesuatu. Jaya akhirnya membuat kesimpulan yang diketahuinya.


"Aku tak yakin, mungkin orang ini sepertinya sedang dikendalikan oleh sesuatu." Kata Jaya Kedua kepada dirinya sendiri. "Entah sesuatu apa itu? … lebih tepatnya dia mungkin sedang terkena jurus ilusi yang memungkinkan dirinya dikendalikan ..."


Jacky mendengarnya, menoleh ke Jaya Kedua, mengangguk dan bergerak berjalan mundur sedikit. Jaya Kedua kemudian mengeluarkan Jurus Seribu Kegelapan dan menciptakan satu Klon bayangan. Lalu tangan Jaya Kedua dan Klon bayangannya, ada uap asap dari bawah bayangannya.


Uap asap itu memadat membentuk tongkat panjang berwarna hitam yang runcing. Itu adalah perubahan Jurus Pemikat Kegelapannya yang telah meningkat kegunaannya. Jaya Kedua dan Klon bayangannya kini memegang erat tongkat hitam itu.


Mereka saling memandang dan mengangguk seolah saling mengerti untuk berpadu menyerang.


Dengan kecepatan sekejap, mereka berdua mengaktifkan Jurus Nafas Kegelapannya, mengarahkan tusukan tongkat hitam. Mereka menghilang dan muncul, lalu seseorang itu langsung tertusuk oleh Jaya. Dari depan dan belakang, tongkat hitam itu menembus tubuhnya. Lalu, tongkat itu berdengung memancarkan menyerap energi dan menghentikan gerakan orang itu.


"Daging … lapar ..." Orang itu skeptis dengan keadaan tubuhnya. Kepalanya hanya bergerak menggeliat ingin menyerang menggigit tubuh Jaya Kedua. Namun pergerakannya terhenti oleh tongkat hitam Jaya yang menusuknya.


"Apakah kau manusia atau monster?! Aku saat ini tidak menusuk bagian vital. Jika manusia … jawablah pertanyaanku!" Kata Jaya Kedua menatap dingin dengan menekuk lututnya dan masih memegang tongkat hitam yang menusuk perutnya.


Jacky diam terkejut dengan kecepatan Jaya yang tiba-tiba sudah menusuk orang itu. Dahinya mengeluarkan air keringat.

__ADS_1


Jaya merasakan penyerapan tongkat hitamnya, dia mendapatkan energi aneh. Seperti ada dua sumber energi di dalam tubuh orang itu.


"Hm?" Jaya terkejut mengetahuinya.


Orang itu gemetar tidak bisa bergerak meski tubuhnya telah dilapisi energi besar. Dan matanya perlahan-lahan kembali berwarna normal. Lalu dia pingsan sembari berdiri dengan tertusuk oleh tongkat hitam.


Beberapa saat kemudian, orang itu tidur terlentang terikat dengan tali hitam. Kedua tangannya ditekuk ke belakang, dengan serta Kedua kakinya pula. Mata orang itu, perlahan terbuka lembut.


"Ugh ... agh … di mana ini ..." Mulutnya berkata lirih. "Apakah aku sekarang sudah mati?"


"Kau belum mati, tapi sebentar lagi kau akan benar-benar mati. Jika kau memang adalah monster ..." Ucap Jaya Kedua yang duduk di sampingnya dengan menghunuskan pedang hitamnya tepat ke atas tenggorokannya. Jacky pun juga di sebelahnya dengan santai menyantap tusuk daging.


"Aku hidup? Monster ...?" orang itu matanya bergeser melirik Jaya Kedua. Dia menghirup udara dengan pelan. Dia menyadari sedikit akan posisinya saat ini. Bahwa dia sekarang adalah tahanan yang telah ditangkap oleh orang yang lebih muda darinya.


"Katakan siapa namamu? Dan apa tujuanmu sebenarnya? Aroma tubuhmu sungguh penuh dengan bau darah … kau pasti telah membunuh banyak orang ..." Kata Jaya santai.


Mendengar itu, Jaya Kedua dan Jacky menoleh saling tatap. Kemudian mereka berdua memandangi Marco lagi.


"Apa kau dari pasukan Jenderal Aji Saka?" Tanya Jaya dingin.


Marco diam melihat mereka berdua yang masih muda. Marco adalah unit pasukan mandiri dari Jenderal Aji Saka yang tersebar. Kenapa orang ini bisa mengetahuinya bahwa dirinya dari pasukan Jenderal Aji Saka. Marco berpikir keras, mereka ini musuh atau teman.


"Kurasa kau tidak mengerti akan kondisimu sekarang, ya?" Terang Jaya.


Lalu Jaya dengan pedang hitamnya  menusuk paha Marco. Dia menusuk-nusuk pahanya hingga keluar darah berceceran.

__ADS_1


"Aaaaahhhhh … k-kau! Laknat!" Marco mengeratkan giginya. Matanya merah memelototi Jaya.


"Kami berdua dari kota Bulengreng … tentu kami mengetahui semua tentang pasukan Aji Saka." Ucap Jacky tenang. Dia tidak tahan melihat adegan Jaya Kedua menyiksanya. Jaya Kedua lalu menghentikan tindakan siksaannya dan menyeringai.


"Ha … ha … aaah … sial! Kenapa kekuatanku … tidak bisa digunakan ..." Marco terengah menahan sakit, matanya dingin menatap Jaya. "Apa yang mau kalian berdua lakukan kepadaku? Aku memang pasukan Jenderal Aji Saka!"


"Cepat lepaskan aku … kalau kalian memang dari kota Bulengreng seharusnya tidak memperlakukanku seperti ini kan! Aku tidak punya waktu bermain dengan kalian!"


"Hmm … begitukah? Aku awalnya tidak ingin membunuhmu … tapi kau malah ingin berusaha menyerang kami? Kau pikir aku akan berbelas kasih kepada orang yang ingin membunuh kami?" Jawab Jaya santai.


"Hos … hoss … sudah kubilang aku tidak mengerti maksudmu! Aku tiba-tiba tersadar, dan kalian sudah mengikatku ..." Marco bingung menjawabnya.


"Oh … apa kau sedang bersandiwara! Kau tadi jelas mengatakan, daging dan lapar sebelum ingin menyerang kami. Jelas tadi kau ingin memakan kami. Apa-apaan saat ini kau bilang tidak mengerti? Apa kau sedang bercanda. Jika kau terus berkeliaran di sini, maka sama saja akan menyebabkan bencana di kota nantinya." Jelas Jaya serius ke Marco.


"Sebelum kubunuh sebaiknya kau jelaskan alasanmu? Mungkin aku akan memberikan kematian yang selayaknya sebagai prajurit hunter." Lanjut Jaya.


"Tunggu sebentar … kau bilang aku ingin memakanmu? Kenapa aku harus memakanmu?" keluh Marco. Sesaat dia menyadari sesuatu tentang dirinya sebelum dia pingsan.


"Jika memang aku ingin memakanmu, maka baiklah, bunuhlah aku sekarang. Aku, Marco, akan senang hati menerimanya." Kata Marco mendengus pasrah dengan keadaannya.


"Hooh … kau mengakui dosamu ya?" Kata Jaya.


"Tapi sebelum itu aku ingin menjelaskan sesuatu kepadamu. Dan tolong sampaikan pesan ini juga nanti ke Jenderal Aji Saka. mungkin ini ada hubungan diriku seperti yang kau jelaskan tadi."


"Sebelum aku tidak sadarkan diri, ada satu orang yang sedang menyerang benteng kota yang berada di dalam dunia Mayantara. Dia berpakaian jubah hitam, dengan logo burung gagak yang berwarna merah dan disertai motif gambar bulu-bulu berwarna merah."

__ADS_1


"Hanya dengan dia seorang, seluruh kota seketika hancur lebur. Aku memimpin pasukan untuk melawannya. Dia hanya berkata, 'bunuh semua bangsa Arya' lalu banyak gerombolan monster buas menyerang kami. Tiba-tiba, cuaca hujan dengan air hitam jatuh dari langit."


"Aku tidak mengerti kenapa bisa ada hujan seperti itu. Setelah itu banyak orang yang berubah menjadi aneh dan saling menyerang. Yang jelas, setelah itu pikiranku juga mendadak kosong dan tidak sadarkan diri. Begitu aku bangun, kalian sudah menangkapku ..."


__ADS_2