
"Wow, menakjubkan ruangan di sini banyak sekali harta karunnya. Tak kusangka mereka sebenarnya sangatlah kaya raya. Aku akan mengambil semua, tanpa menyisakan satu sekalipun," kata Jaya Ketiga.
Dia masuk ke dalam sebuah ruang penyimpanan harta keluarga Melati. Melihat ada begitu banyak barang-barang yang berharga yang tersimpan di sederet lemari laci yang luas dan besar. Tergantung, berserakan, tertata rapi, banyak sekali jenisnya. Bahkan ada pula yang tersegel dengan kertas mantra, atau juga yang tak terawat.
Dengan cincin ruangnya, Jaya Ketiga memasukkan semua barang-barang tersebut hingga tak tersisa. Setelah itu, dia memudar untuk menghilang menjadi asap hitam. Kabur dengan cara yang singkat.
Dan tak lama, Tora yang mendapatkan kabar dari anak buahnya. Dia bergegas ke ruang penyimpanan harta keluarga, begitu sampai, seluruh isi ruang telah kosong. Dia sangatlah marah besar dan hampir mati muntah darah. Sebab, di sana tidak ada siapapun lagi, kecuali satu tanda huruf S yang Jaya Ketiga tinggalkan.
Esok harinya, Jaya Ketiga pergi ke tempat Paman Sam, melaporkan hasil dari misinya. Jaya Ketiga memberikan sebuah sesuatu gulungan.
"Itu peta wilayah keluarga Melati, kurasa itu jawaban kelemahan mereka. Dan untuk masalah Paman adalah karena telah mengetahui rencana mereka yang ingin membunuh Wulan. Dan paman tidak perlu khawatir, tentang mereka. Sebab keluarga Melati kali ini tidak akan bergerak, mereka mungkin akan sibuk untuk memulihkan keluarganya sendiri." kata Jaya Ketiga. "Aku sudah berhasil menyelesaikan semua tiga misi darimu. Sekarang aku ingin kau memenuhi syaratku,"
"Baiklah, oke, kau memiliki kualifikasi untuk masuk ke dunia Brandal. Aku tidak mencium bau kebohongan dari mulutmu lagi." Kata Paman Sam yang hidungnya mengendus-endus. Dia tersenyum menyeringai takjub. "Jadi, apa syaratmu?"
"Aku ingin membeli banyak Mayat Hunter yang memiliki kekuatan hebat." Jawab Jaya Ketiga.
"Apa kau mempunyai uang?" Tanya Paman Sam, matanya memiring ragu.
"Pertanyaan yang salah. Harusnya, berapa banyak mayat yang kau mau?" Kata Jaya Ketiga tersenyum ringan.
Paman Sam Tertawa terbahak-bahak. Dia jelas mengerti maksud Jaya Ketiga. Sebab, dia telah mengetahui, tentang bahwa Jaya bisa bertambah kuat dengan menyerap banyak mayat.
****
Klon Jaya Pertama.
Setelah sampai di tempat luar daerah Mayantara ekstrim, dia memasuki sebuah perkemahan, Kedai Drinky. Memesan segelas minuman, berharap bisa mendapatkan beberapa informasi sebelum bisa memutuskan masuk ke medan ekstrim Mayantara. Dia duduk sendirian di meja kursi bartender.
"Sungguh ramai sekali disini," kata Jaya Pertama melihat sekeliling, dengan wajah masam. "Dan berisik,"
"Baru pertama kali? Jangan terlalu merasa aneh dan heran. Itu wajar dan normal, sebab disini biasa menjadi transit bagi Hunter yang ingin pergi atau setelah kembali dari medan ekstrim Mayantara." Kata Bartender. Dia memberikan sebuah gelas minuman.
"Namaku, Barry, pemilik Kedai Drinky ini. Aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Siapa namamu?" Tanya Bartender tersebut. Dia memperkenalkan dirinya sendiri dengan nama Barry.
__ADS_1
Perawakannya muda dengan badan yang sangat kekar dan kokoh. Memakai armor yang dijahit dengan kulit monster. Terlihat terasa begitu ringan, menonjol dengan sisik yang terlihat dalam plat besi armornya. Rambutnya merah berantakan dan pendek.
"Ya, pertama kali. Namaku Jatra." Kata Jaya Pertama setelah meneguk gelas minuman. Mulutnya mendengus merasakan minuman tersebut. Terkaget dengan rasa minumannya. "Minuman apa ini?"
"Popgreen. Aku yang membuatnya sendiri, dan mencampur dengan beberapa rasa alkohol yang berbeda. Ha... Bagaimana rasanya?" Tanya Barry, matanya berseri-seri menanti jawaban.
"Lumayan. Enak. Rasanya berubah-ubah saat di lidah, dan begitu masuk ke tenggorokan, seakan memberikan kesan semangat haus petualangan." Kata Jaya Pertama kembali meneguk minuman dan mengendurkan bahunya. "Aku suka ini,"
"Tidak buruk, tidak buruk," kata Barry mengangguk kecil dan tersenyum. "Kau penikmat alkohol yang baik, bisa merasakan gairah minuman yang kuracik sendiri. Itu gratis untuk pelanggan yang pertama kali datang,"
"Oh, begitukah... Baru pertama kali ini, aku merasakan minuman yang seperti ini. Kau peracik minuman yang baik..." kata Jaya Pertama. Dia memang telah lupa rasanya minuman alkohol yang diracik.
"Jadi... Bagaimana kau bisa sampai ke sini, apa mungkinkah kau ingin menghasilkan uang juga dari medan ekstrim Mayantara...? " Kata Barry, wajahnya datar. Matanya melenggak-lenggok melihat ke sekeliling pelanggan.
"Bisa jadi. Katakanlah yang kau tahu tentang medan energi disini. aku akan memberikan uang sesuai informasi yang kau berikan," jawab Jaya Pertama.
Matanya terbelalak. Melirik ke arah Jaya Pertama. Mereka saling menatap mata.
"Bukankah memang seperti itu, hukum alam itu biasa berjalan. Kau akan menuai hasil yang kau tanam." Kata Jaya Pertama. "Aku hanya menjalani aturan yang biasa berlaku. Tapi aku juga bukan orang yang bisa taat menaati semua aturan,"
Barry tertawa. Yah, begitulah aturan dunia. Ada aturan yang berlaku secara umum dan ada pula aturan yang perlu dibuat untuk diri sendiri.
"Baiklah, jika kau nantinya akan masuk ke dunia Mayantara disini. Setidaknya kau pilihlah kubu dengan bijak. Sebab, petualang Hunter dan prajurit Hunter saat ini mereka sedang berseteru. Dan itu membuat penyerangan dunia Mayantara menjadi dua barisan blok," kata Barry mendekatkan wajahnya ke Jaya Pertama dengan cukup dekat.
"Apakah ada alasan khusus, kenapa mereka berseteru?" Jawab Jaya Pertama.
"Sederhana dan sepele. Siapa yang terkuat untuk memimpin serangan? Bagaimana menentukan hasil jarahan?" Tanya Barry dengan memberi isyarat misteri.
Jaya Pertama, mengangkat alisnya tidak paham maksudnya.
"Perbedaan pendapat dari dua pertanyaan tersebut itulah yang membuat perkelahian dan perebutan. Prajurit Hunter dan petualang Hunter, mengklaim yang paling kuat. Dan pembagian hasil kemenangan, bagi prajurit Hunter akan diserahkan semua kepada ketuanya untuk dikelola sesuai kebutuhan kelompok. Sedangkan petualang Hunter, tidak terima, dan pembagiannya harus sesuai mereka yang berkontribusi sesuai pertarungannya." Jelas Barry dengan nada pelan. Sebab, dia tahu, pelanggannya banyak yang prajurit Hunter dan petualang Hunter juga.
"Terdengar seperti kelompok idiot. Bertarung karena merebutkan sepotong kue yang telah dijatuhkan oleh monster." jawab Jaya Pertama.
__ADS_1
Barry tertawa kecil. Dia menegakkan badannya.
"Kata-katamu ada benarnya. Tapi apakah kau berani mengatakan kepada mereka semua. Dan begitulah hukum alam biasa berjalan," jawab Barry mengangkat bahunya santai.
Jaya Pertama tertawa ringan. Sebentar terdiam untuk mencari informasi yang lain.
"Ada hal yang lain, lagi?" Tanya Jaya Pertama, ekspresinya mulai malas.
Barry mengerti, sepertinya dia perlu memberikan informasi yang lebih berguna, daripada membahas sekelompok idiot. Barry diam dan menyentuh bibirnya dengan jarinya.
"Bagaimana kalau tentang monster Kera?" Kata Barry.
Jaya Pertama, merenung sebentar, memiringkan kepala. "Oke, tak masalah,"
Barry lalu menekuk kedua tangannya di meja depan dan menatap Jaya pertama.
"Monster kera di dunia Mayantara ini mempunyai tiga golongan jenis yang masuk daftar tingkat S. Artinya S, itu sulit untuk diatasi." Kata Barry santai.
"Oh, begitu..." kata Jaya Pertama dengan senyum ringan. Sebab, sebenarnya dia tahu tidak ada tingkatan monster dalam Asosiasi Hunter, yang ada cuma ancaman yang berdasar tingkat Level kekuatan.
"Pertama, Kera Pigmy, warnanya emas kuning kecoklatan, bentuknya kecil dan imut, tapi dia menyesatkan dan... meresahkan. Dia suka mencuri entah apapun itu. Kekuatannya dapat menyebarkan ilusi dengan gerakannya yang sangat cepat dan lincah. Kalau kau bisa menemukan sarangnya, katanya, kau akan menemukan banyak harta karun. Sebab kera yang ini suka sesuatu yang berbau unik, dan bisa mendengar keinginan seseorang."
"Ah, begitukah. Kau pernah bertemu dengannya?" Tanya Jaya Pertama penasaran.
"Tidak, tapi barangku pernah dicuri olehnya." Sahut Barry, wajahnya kecewa muram dan lemas.
"Sepertinya dia kera yang merepotkan," kata Jaya Pertama.
"Ya, dan me... re... sahkan... monster kera selanjutnya, Spider Monkey. Kera dengan bulu warna hitam legam, bertangan enam, ekornya sangat begitu panjang dan mempunyai sengatan jarum lancip. Ah, ini monster kera, yang sangatlah berbahaya. Kau perlu waspada jika bertemu, meskipun kau berkelompok sekalipun. Dia memanglah monster yang tidak suka bergerombol, dan lebih penyendiri. Jenis seperti inilah yang kadang lebih berbahaya dari kematian. Sebab, dia suka membunuh. Kekuatannya, racun, api, dan bisa membuat jaring benang." Jelas Barry nada suaranya begitu serius. "Dan... masih misterius,"
"Hm... " kata Jaya Pertama mengangguk pelan.
"Spider Monkey biasa menandai wilayahnya sendiri, dan membuat banyak jebakan di wilayahnya." Tambah Barry. "Terkadang monster penyendiri seperti itulah yang biasa membawa banyak kabar kesedihan bagi yang meremehkannya,"
__ADS_1