
Ada sebuah siluet orang yang sedang duduk bersila dalam ruangan gelap. Mata pupilnya berbentuk aneh dengan dua melingkar berwarna hitam. Dia merasakan ada kejanggalan yang samar.
"Kenapa ada satu bonekaku yang hilang tanpa kusadari? Mungkinkah ada seseorang yang sudah memutus energiku tanpa sepengetahuanku? Bedebah!" Kutuk dia penuh dengan geram emosi tenang. "Baiklah, siapapun kamu, aku pasti akan menemukanmu."
**
Saat ini Jaya Kedua tengah mendengar cerita Marco yang masih tidur terlentang dengan diikat. Jacky menggaruk rambutnya dengan ujung telunjuknya. Suasana begitu tenang meski Marco menjelaskan cerita yang misterius.
"Setelah kalian membunuhku, tolong sampaikan pesan ke jendral Aji Saka. Bahwa, organisasi kegelapan telah muncul kembali..." Marco menutup matanya dan siap untuk menerima nasibnya.
"Apakah dia mesti harus kita bunuh?" Tanya Jacky bingung. "Apa tidak ada metode untuk menghilangkan kelainannya tadi?"
"Hm … entahlah, tapi yang jelas, dia sudah tidak berguna sekarang," jawab Jaya Kedua yang menyingkirkan pedangnya dan langsung menghilang. Kedua jarinya kemudian mengeluarkan energi berwarna hitam dan berkata.
"Lepas!"
Sebuah tali yang mengikat kaki dan tangan Marco perlahan menghilang menjadi kabut asap hitam yang lebat lalu menyebar. Marco wajahnya bingung, menyadari ikatannya telah lepas. Dia tidak mengerti kenapa dia dibebaskan.
"Kau bebas sekarang. Dan untuk pesanmu itu, sampaikan sendiri kepada atasanmu. Aku tak mau ikut campur dengan berbagai hal urusanmu. Meski kita berasal dari kota yang sama. Aku tidak punya kewajiban untuk membantumu," kata Jaya Kedua menatap dingin.
"Apa ... kenapa? kau tidak jadi untuk membunuhku? Sebaiknya kau membunuhku saja. Sebab ketika kesadaranku hilang lagi, aku takut diriku akan menjadi bencana. Dan membunuh banyak orang yang tidak berdosa..." Kata Marco memohon.
"Itu tidak perlukan lagi." Jaya Kedua lekas berdiri dari duduknya. " Sebab, bukankah kau sudah tahu bahwa kau yang sekarang, itu hanyalah orang yang tidak berguna. Lihatlah lagi energimu..."
Marco terkejut dan buru-buru melihat merasakan energi Auranya. Dan benar, yang asalnya dia memiliki energi tingkat level 5, sekarang dia turun ke tahap pelatihan energi. Meski begitu, kekuatan Ananta dia masih ada.
"Eh … i-ini … apa yang terjadi dengan tubuhku?" Marco gelisah.
__ADS_1
"Semua energimu telah ku hilangkan bersamaan dengan energi aneh yang berada di dalam tubuhmu." Jaya Kedua berjalan santai meninggalkan Marco yang masih tergeletak di tanah. "Sembuhkan dan balut luka yang berada di tubuhnya."
Jaya Kedua melemparkan salep obat dari kantong ruangnya kepada Jacky. Saat ini, Jacky masih di dekat Marco melihat dengan sedikit rasa kasihan.
"Setelah kau sembuh, sebaiknya kau pergi. Dan lupakan semua tentang pertemuan kita saat ini. Ini bukan permintaan atau permohonan, melainkan itulah yang terbaik. Karena aku telah mengampuni nyawamu saat ini..." Jaya Kedua duduk bersila bersandar di bawah pohon sambil menutup matanya untuk istirahat.
"Hah? Terima kasih..." Kata Marco dengan nada hormat. Dia jelas tahu, bahwa bisa menghilangkan energi kultivasi adalah teknik kelas tinggi. Biasanya itu digunakan untuk menghukum seorang prajurit Hunter yang melenceng. Dengan kejahatan tingkat atas.
"Bolehkah aku tau siapa namamu?" Tanya Marco.
Marco merasa takjub bahwa ada orang yang masih muda tapi bisa melakukan teknik kelas tinggi. Sebab, teknik yang bisa menghilangkan kultivasi adalah teknik rahasia yang biasa dipunyai oleh setiap para jenderal. Dan tidak semua orang awam bisa melakukan teknik tersebut.
Tapi, Marco tidak mengetahui bahwa hilangnya kultivasi dia sebenarnya adalah karena dari Jurus Kegelapan Jaya. Yaitu, Jurus Pemikat Bayangan. Jurus yang mampu menghentikan gerakan dan menghisap energi kekuatan lawan untuk menjadi energi Jaya.
"Kau tak perlu tahu siapa aku!? Jadi jangan mencoba untuk terlalu akrab denganku..." Jawab Jaya Kedua ketus tidak menghiraukannya.
"Jangan terlalu dipikirkan. Dia memang seperti itu." kata Jacky tersenyum ringan. "Hidup di dunia yang seperti ini tidaklah mudah, jadi sebaiknya kau uruslah masalahmu sendiri saja."
"Terima kasih, aku akan mengingat jasa kebaikan kalian." jawab Marco. " Tapi kenapa kalian bisa ada di hutan ini?"
Jacky diam tidak menjawab. Sebab dia tahu bahwa memasuki hutan monster bagi seorang yang masih belum mendapat sertifikat Hunter. Itu termasuk sebuah pelanggaran dari aturan yang telah ditetapkan oleh Asosiasi Hunter. Karena itu, Jacky dan Jaya harus menyembunyikan niatnya di hutan monster ini. Sebab mereka belum punya izin untuk memburu monster.
"Baiklah, maaf. Kurasa seharusnya aku memang tidak perlu menanyakan yang tidak diperlukan." Sambung Marco yang melihat ekspresi Jacky yang abai.
"Kurasa sekarang kau akan baik-baik saja. Jagalah nyawamu sebaik mungkin," kata Jacky lirih beranjak pergi.
Selepas itu, Jacky pun tidak mengucapkan kata lain lagi dan meninggalkan Marco sendirian. Malam begitu hening dan gelap setelah perapian di padamkan oleh Jacky. Tidak ada penerangan lagi selain bintang yang di atas langit.
__ADS_1
Begitu pagi sudah menyorot terang merubah pergantian waktu. Marco terbangun dari tidurnya. Dia ternyata sudah sendirian di dalam hutan. Di dekatnya, ada beberapa roti, daging yang terbungkus daun, dan beberapa botol air.
"Hm … mereka berdua memang dua anak muda yang misterius. Jenderal perlu merekrutnya jika dia memang berasal dari kota Bulengreng." Desah Marco penuh harap.
***
Jaya yang asli saat ini tengah berada jauh di kedalaman hutan. Kini dia tepat berdiri di sebuah air terjun pegunungan. Matanya dengan energi mental, menerawang melihat ke berbagai sekeliling tempat dengan cermat.
"Tak ada tanda bahaya. Kurasa aku akan beristirahat sebentar disini..." Kata Jaya kepada dirinya sendiri.
Dia melangkah melepaskan bajunya dan mendekat ke salah satu batu besar, itu sebuah tempat jatuhnya air terjun. Energi di sekitar air terjun pegunungan terasa begitu meluap tinggi. Jaya merasa ini tempat yang bagus untuk persinggahan istirahat sementara.
"Ini tempat bagus untuk bermeditasi dalam melatih kekuatan fisik dan jiwa..." Gumamnya.
Jaya kemudian meditasi di bawah air terjun tersebut dengan menyilangkan kakinya. Derasnya air terjun tersebut mengguyur kepala Jaya dengan keras. Sebab, tingginya air terjun ini begitu menjulang mencapai 200 meter, dengan luruh menghujani tubuh Jaya.
Setelah Jaya larut dalam meditasinya. Dia ingin menyerap seluruh mayat monster yang telah dikirim oleh bayangannya ke alam jiwa kegelapan Jaya. Semenjak Jaya meninggalkan gua kemarin, dia belum sempat untuk menengok ke dalam alam jiwanya.
"Saat ini aku masihlah tingkat level 3 tahap menengah … aku perlu meningkatkan lagi levelku..." Benak Jaya dalam pikirnya.
Begitu Jaya menengok ke alam jiwa kegelapannya. Ada begitu banyak bangkai monster namun lendir untuk menangkup bangkainya begitu berjalan pelan. Selain itu, ada pula energi Aura yang berbentuk bulat dengan sinar cerah. Itu adalah esensi energi tingkat level 5, hasil dari bayangan Jaya Kedua.
Jaya kemudian memusatkan energi kegelapannya dengan telapak tangannya yang menepuk. Lendir di dalam alam jiwa sekejap bertambah cepat untuk bergerak menggerinda. Dia menangkup dan menyebar dengan gesit menjadi menggeliat.
Hanya butuh beberapa waktu akhirnya semua bangkai monster dan bola energi berubah menjadi hitam. Lalu mereka meresap mengempis melebur ke dalam alam kegelapan yang pekat. Jaya merasakan lonjakan energi yang di transfer ke tubuhnya.
"Uuuh..." Desah Jaya.
__ADS_1