Hunter Dan Dewa Monster

Hunter Dan Dewa Monster
Jaya Kedua (5)


__ADS_3

"Aku ingin kau melindungi Jenderal Besar Aryani dan bersumpahlah di depanku..." Kata Bananji. "Maka, kau akan mendapatkan salah satu dari kunci Suluk ini."


Jaya Kedua menghela nafas berat. Permintaan Bananji terlalu sulit baginya untuk bisa dilakukan. Matanya menyipit mengarah Bananji.


"Bukankah permintaanmu itu terlalu berlebihan. Buatlah sedikit menjadi mudah, aku mungkin akan menyetujuinya. Kau menyuruhku melindungi mereka dari Tarkan? Apa kau gila!!" Sahut Jaya Kedua, menolak lembut permintaan Bananji. 


Melindungi bangsa Arya dari Tarkan, itu sama halnya dengan mencoba bunuh diri bagi Jaya. Dia perlu menghindari hal-hal yang tidak perlu sebelum dirinya bertambah kuat. Melawan Tarkan, itu belum waktu yang tepat baginya. 


"Tidak, ini adalah satu-satunya permintaanku. Kalau kau tidak mau, maka kau tidak akan bisa mendapatkan kunci Suluk." jawab Bananji. 


Jaya Kedua berjalan mendekat dan menatap Bananji. Dia menyorot tajam tanpa takut kepada Bananji. Meski dia tahu, Bananji bukanlah lawan tandingannya. 


"Baiklah, bisakah kau tunjukkan kunci Suluk itu terlebih dahulu?" Tanya Jaya Kedua. "Aku ragu bahwa kau saat ini mencoba untuk membodohiku..."


"Oke... Kalau begitu kita harus pergi ke tempat lain," jawab Bananji tanpa pikir panjang. Dia menatap ke arah burung gagak di bahunya. "Pergilah, Karasu. Tunjukkan sayapmu kepada langit."


Kwakk!! 


Burung gagak Bananji lalu terbang berputar di area taman dan mengepakkan sayapnya hingga bulunya rontok mulai berjatuhan. Dia berteriak-teriak dan terbang santai.


Kwak! Kwak!


Begitu bulunya jatuh lembut ke tanah, bulu itu memudar, dan sekelilingnya berdenting berubah dengan sekejap. 


Jaya Kedua tertegun melihatnya. Dia menatap ke sekelilingnya, seakan semua tempat telah dipenuhi oleh banyak burung gagak yang terbang. Tanah berangsur menjadi hitam dengan di penuhi bulu burung gagak. Langit berubah menjadi berwarna merah. Dan hanya ada Bananji dan Jaya Kedua saja di dalamnya. Seakan mereka telah tidak ada di taman, melainkan pergi ke sebuah tempat lain.

__ADS_1


"Apa ini?" Tanya Jaya Kedua. "Ilusikah?" 


Bananji berdiri mendekati Jaya Kedua dengan tersenyum dan berkata. "Tidak, ini adalah dimensi burung gagak." 


"Dimensi burung gagak?" ulang Jaya Kedua bingung. Teknik yang ditunjukkan oleh Bananji tidak dapat dia mengerti. 


"Aku tidak mempunyai waktu untuk menjelaskan pelajaran tentang jurus Anantaku kepadamu." ujar Bananji. "Kemarilah akan ku tunjukkan kunci Suluk itu." Bananji tangannya mulai bergerak seperti membentuk sebuah Segel tangan. 


"Keluarlah!" Kedua tangannya lalu menghentak ke tanah. Seketika, ada energi berputar di sekeliling depan Bananji dan menerbangkan banyak bulu gagak. Tiba-tiba sebuah jarum kecil dengan ukiran aneh di batangnya, keluar dari bawah. Angin berderu lebat, jarum kecil itu terangkat ke atas perlahan. 


Jaya Kedua langsung terdorong mundur secara perlahan-lahan dengan tangannya melindungi dirinya. Sebab, angin dari energi itu, kian mulai begitu dahsyat dan hebat. Bananji tersenyum rendah melihat Jaya Kedua yang tak mampu membendung energinya. Dan Bananji tidak terpengaruh oleh dari energi tersebut. 


Jaya Kedua berusaha keras untuk menahan dorongan energi, namun tetap saja dirinya terseret semakin menjauh. Semakin bertahan untuk melawan, maka dia malah merasa semakin terdorong.


"Menghilanglah!!" teriak Bananji. Kedua tangannya menepuk bersamaan di depan dada. Sekejap mata, semua tempat langsung berubah seperti di taman kembali. Lenyap begitu saja. 


Jaya Kedua kaget tak terkira dan termenung. Kini dia tiba-tiba kembali berada di tempat biasa dan hanya Bananji yang di depannya. Dia terengah-engah dengan diam. 


"Bagaimana? Apakah kau sudah percaya." kata Bananji. 


"Apakah itu benar-benar kunci Suluk?" tanya Jaya Kedua terbelalak. 


"Begitulah. Jangankan kau untuk mendekatinya. Bahkan untuk menahan energinya saja kau tidak mampu." Jawab Bananji. "Kunci Suluk itu bukanlah kunci sembarang,"


Jaya Kedua tersenyum, dia merasa kunci Suluk tidak sederhana yang dikira. "Kau benar. Lalu, bagaimana caraku untuk menggunakan kunci itu? Apakah kau berpikir aku bisa melindungi mereka dari Tarkan dengan bantuan dari kunci Suluk. Kurasa kau berlebihan memandangku..." kata Jaya Kedua menatap Bananji dengan serius. "Aku tidak bisa melakukan sesuatu yang berada diluar kemampuanku."

__ADS_1


"Meski kau... memintaku melindunginya, kurasa kau pasti tahu bagaimana akhirnya nanti. Menambah satu semut di dalam kerumunan semut, apakah ada bedanya?" Tambah argumen Jaya Kedua. "Maaf, lupakan tentang permintaanmu itu." Dia berkata dengan nada lembut.


Bananji terhenyak sesaat, dia tidak bisa menyangkal alasan Jaya Kedua. Dia berpikir keras dengan mengerutkan dahinya, wajahnya kosong memaling ke tempat lain. Dia sebentar lagi mungkin akan mati karena kutukan dan tidak bisa melakukan apa-apa lagi untuk membantu Jenderal Besar Aryani. 


Tetapi dia masih berpikir keras untuk ingin bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat sebelum dirinya mati. Mewariskan tugas dan tanggung jawabnya untuk diteruskan kepada seseorang adalah salah satu bentuknya. Dia tentu tidak ingin mati seperti daging busuk dan terlupakan bagai anak kucing yang terlantar mati di bawah selokan. 


"Baiklah..." kata Bananji mengangguk mengerti. Dia memang terlalu berlebihan meminta sesuatu kepada Jaya Kedua. "Cukup lindungi garis keturunan Keluarga Aryani yang masih muda. Kurasa kalau itu, kau pasti bisa melakukannya kan..."


Ekspresi Jaya Kedua cerah dengan tersenyum. Kini dia tidak perlu harus melakukan sesuatu yang berlebihan, seperti bertarung dengan Tarkan. Kini hanya melindungi garis keturunan, negosiasinya berhasil. 


"Yah tentu... aku tidak masalah tentang hal itu. Ada berapa garis keturunannya?" Tanya Jaya Kedua tersenyum ringan. 


"Jenderal Besar Aryani mempunyai dua anak. Pertama bernama Sekar dan yang kedua bernama Raka. Dia masih berumur 8 tahun. Apapun yang terjadi, tolong lindungilah mereka saat waktunya tiba dan juga jauhkan mereka dari masalah keluarga bangsa Arya..." Kata Bananji. 


Jaya Kedua memiringkan kepalanya, senyumnya terhapus menjadi masam. Dia merasa telah terlibat dengan sesuatu yang lebih akan merepotkan. 'Masalah keluarga bangsa Arya? Tentang apa lagi ini.' gumam hati Jaya Kedua. 


"Oke, oke, aku paham. Cukup lindungi dan pastikan tetap aman, bukan." Kata Jaya Kedua menatap Bananji, mencoba tidak membahas masalah keluarga bangsa Arya terlalu dalam. Dia ingin segera mengetahui tentang kunci Suluk dan kegunaannya. "Jadi, bagaimana aku harus melakukan sumpah? Apakah aku harus menyebut nama dewa atau kepercayaanmu?" 


Dalam hal sumpah terkadang para Hunter menyebutkan nama sesuai keyakinannya masing-masing sebagai bentuk penyaksian, tanda bakti kehidupannya. Seperti bersumpah atas nama langit, Dewa api, bumi dan sebagainya. Namun, Jaya Kedua tidak memiliki keyakinan khusus yang dipercayainya. 


"Tidak... Tidak perlu. Aku ingin kau bersumpah dengan darahmu sendiri..." kata Bananji. "Dan bersumpah dengan atas namamu sendiri,"


"Hah... Dengan namaku sendiri." Jaya Kedua merasa aneh. Tidak pernah terpikirkan bahwa sumpah harus menyebutkan namanya sendiri.


"Ya. Sumpah yang jika kau langgar, maka dirimu sendiri yang akan memberikan balasan." Jawab Bananji. "Sebab, sesuatu yang lebih dekat dan mengenalmu itu adalah dirimu sendiri. Dia adalah makhluk yang selalu mengawasi dan menjagamu. Dia bukanlah dewa atau makhluk lain, dia adalah dirimu sendiri. Aku ingin kau bersumpah atas namamu sendiri. Dia akan memberikan hal yang setimpal sesuai yang telah kau lakukan..."

__ADS_1


__ADS_2