Hunter Dan Dewa Monster

Hunter Dan Dewa Monster
Poni


__ADS_3

"Ini sebenarnya tentang bisnis resep obat, tapi bukan resep obat biasa..."Kata Sucipto mulai menjelaskan. "Ada seseorang yang ingin menawarkan berbisnis pil obat."


"Seseorang itu siapa? Dari keluarga bangsawan ningrat mana? Semua divisi Alkimia sudah menurun, jangan terlalu percaya dengan seseorang begitu saja. Untuk menemukan master Alkimia yang bisa menciptakan resep obat itu susah. Kita sudah ada 3 master. Tapi belum juga dapat membuat kemajuan. Jika dia ingin membuat bisnis, seharusnya bawa pergi saja ke divisi Alkimia," tandas lastri yang mendengus resah dan jengkel merasa pekerjaannya terganggu.


"Ini bukan bisnis biasa. Ini bisa jadi penemuan baru atau mungkin terobosan baru. Jika kau tahu bisnisnya yang ingin ditawarkan, semua orang di Kerajaan Manikmaya pasti tercengang gempar. Dan menurutku, ketua harus menemui orang ini terlebih dahulu. Mungkin ini adalah kesempatan langka..."Jelas Sucipto membantah.


"Iya, iya, iya. Seseorang itu siapa? Jika tidak jelas sebaiknya usir saja orang itu..." Timpal Lastri santai. Sepertinya Sucipto terlalu berlebihan dan bersemangat menggebu.


"Ah … dia bukanlah orang dari bangsawan ningrat. Tapi dia seorang pemuda Hunter yang baru saja mendaftar..." Jelas Sucipto dengan nada halus.


"Hah … apakah kau sedang bercanda denganku, Sucipto!?" Lastri membentak menghentikan pekerjaannya dan menatap Sucipto.


"Sebaiknya kau pergi dan kembali saja! Kita ini tidak punya waktu untuk bermain-main. Dunia Mayantara mulai tidak stabil daerah kekuasaannya. Situasi ini lebih darurat, dari pada bermain dengan orang yang tidak jelas." Hardik Lastri.


"I-ini orang 'Asoka' yang datang..."Ucap Sucipto nadanya pelan dan halus. Lastri matanya langsung melebar. Ketua yang berada di meja tidak jauh, dia masih bisa mendengar pembicaraannya Sucipto dan Lastri.


"Jelaskan tentang bisnis apa yang dimaksud?" Tanya Lastri.


"Ini adalah pil pembangkit kekuatan Ananta..." Jawab Sucipto.


Ketua mendadak menghentikan pekerjaannya yang dari tadi mendengar pembicaraan Sucipto. Dia langsung berdiri dari duduknya. Lastri dan Sucipto kaget dengan tindakan ketua.


"Bawa aku kepadanya sekarang..." Kata Ketua memandang Sucipto dengan penasaran.


"Eh … Ketua, hari ini anda tidak boleh pergi dahulu sebelum mengurus berkas semua masalah panggilan dunia Mayantara disini. Biar aku saja yang menemui seseorang itu..." Desak Lastri yang sebagai sekretarisnya. Dia adalah tangan kanannya Ketua yang mengatur segala waktu aktivitasnya.

__ADS_1


"Jangan khawatir, aku hanya akan menemuinya sebentar. Jika memang itu benar apa yang dikatakan Sucipto, maka itu adalah berita bagus..." Ketua langsung berjalan menghampiri Sucipto. "Dimana dia sekarang?"


"Dia saat ini sedang berada di ruangan saya Ketua..."


"Baiklah ayo kita pergi,"


Sucipto dan Ketua berjalan keluar ruangan meninggalkan Lastri sendirian.


"Ahh … tidak bagus! Kini aku harus menyelesaikannya sendirian. Sialan kau Sucipto..." Lastri menempelkan wajahnya dengan lemas ke meja.


Kini mereka berdua menemui Jaya Pertama yang tengah duduk sendirian.


"Jadi kau adalah seseorang yang diceritakan oleh Sucipto itu. Kuharap kau tidak mencoba untuk membodohiku dan membuang waktuku sia-sia dengan menemuimu..." Kata Ketua menatap Jaya Pertama.


"Hm … terima kasih senior Sucipto. Perkenalkan saya Jatra. Saya ingin berbisnis tentang resep pembuatan pil obat." Jaya Pertama lalu mengeluarkan secarik tiga lembar kertas. "Ini adalah resep yang baru saya salin. Silahkan dilihat..."


Jaya Pertama memberikan resep itu kepada Ketua. Begitu Ketua melihat, dia membaca bahan-bahan yang ada  dalam lampiran kertas itu. Dia mengerutkan dahinya, sebab ada lembaran yang bahannya itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk didapatkan.


"Panggil Poni kemari … aku tidak begitu mengerti tentang pembuatan pil obat. Tapi dilihat dari bahannya setidaknya aku bisa membayangkan ini bukanlah pil obat biasa..." Ketua lalu menatap Jaya Pertama. "Dan dari bahannya, ini juga bukanlah sesuatu yang mudah ditemukan..."


"Baiklah, ketua!" Sucipto kemudian bergegas pergi keluar ruangan.


"Yah, untuk pil obat pembangkit kekuatan Ananta memang diperlukan bahan tingkat tinggi. Meski tidak bisa langsung memberikan efek, tetapi secara perlahan itu akan membangunkan kekuatan yang tersimpan." Jawab Jaya Pertama dengan senyum ringan.


"Begitukah? Baiklah, kita tunggu seorang Alkemis yang akan tiba disini. Lalu bisnis apa yang ingin kau bicarakan? Apakah kau ingin menjual resep ini? Tentu kau tidak akan melakukannya kan..."

__ADS_1


"Yup, persis tepat sekali. Aku hanya ingin berinvestasi dari pendapatan menjual pil obat itu. pembagiannya 7 : 3. Tentunya aku adalah yang 7. Selain itu aku juga akan memberikan metode pembuatan pil obat itu..."


"Hah? Itu terlalu berlebihan jika 7 : 3. Meski dapat untung sedikit dari penjualan, namun kami juga menerima kerugian dari mencari sumber bahan juga. Bagaimana kalau 5 : 5, ini adalah keuntungan yang sepadan. Semua bisa merasakan nikmatnya akan bisnis bersama. Dan tidak ada yang dirugikan..." Ketua mencoba membujuk merayu Jaya Pertama dengan tatapan tajamnya.


"Hmmp, baiklah 6 : 4, ini keputusan final ku. Jika tidak mau maka terserah, aku akan mencari orang lain saja..."Kata Jaya Pertama menggelengkan kepalanya. Dia tahu harga sebenarnya dari resep pil obat ini lebih dari siapapun.


Ketua menghela nafas tidak bisa membantah.


"Baiklah … baiklah … lebih baik kita bicarakan dengan tenang. Setelah seorang Alkemis datang, kita akan bicarakan lagi..."


Selang beberapa saat kemudian. Poni sang master ahli Alkimia yang disebut Alkemis datang bersama Sucipto. Dia melihat secarik kertas dengan perasaan terkejut. Hanya dengan melihat takaran bahan pembuatan pil obat, dia bisa membayangkan untuk membuatnya seperti apa.


"I-ini … luar biasa … saya cukup yakin bahwa mungkin dari bahan resep ini, saya bisa membuat pil tersebut. Meski persentasenya rendah, setidaknya pil obat itu mempunyai efek 20%..." Kata Poni dengan gembira. "Ketua, apakah anda baru saja ketemu seorang ahli master Alkimia? Bisakah anda memperkenalkannya kepadaku?"


Ketua berdehem untuk menghentikan kegembiraannya Poni yang menggebu-gebu.


"Lalu apakah kau juga bisa membuat pil pembangkit kekuatan Ananta?" Jawab Ketua dengan nada tenang.


"Kalau yang ini, kurasa aku tidak yakin dengan benar. Resep ini jauh di luar imajinasi ku. Tapi kalau dilihat dari efeknya bahan, itu memanglah sejalan dengan teori membangunkan kekuatan Ananta..." Poni ragu menjawabnya.


"Betul, aku pun juga ragu." Ketua lalu memandang Jaya Pertama. "Baiklah aku setuju dengan pembagian yang kau tawarkan tadi. Bisakah kau jelaskan metode dan pembuatannya?"


"Apakah anda tahu teori yang membangunkan kekuatan Ananta?" Tanya Jaya Pertama dengan wajah yang seolah menyimpan rahasia dan tersenyum kecil.


"Yah, itu adalah teori yang sering digunakan oleh para bangsawan ningrat dengan banyaknya percobaan yang telah dilakukan." Kata Ketua penasaran.

__ADS_1


__ADS_2