
Tora mengeluarkan energi, mengibaskan tangannya menyapu tabir asap. Semua Klon bayangan Jaya Ketiga bergegas turut menghilang menjadi asap hitam. Dan terpaan energi Tora memudarkan semua gumpalan asap untuk menyingkirkan dengan cepat, dan akhirnya cuma kekosongan ruang yang terlihat.
Tora melompat maju ke arah depan, melihat ke sekitar lorong pilar-pilar ruang, memandang sekelilingnya. Tidak menemukan apapun dalam kebingungannya. Menunduk ke bawah, dia menemukan ada jejak bekas kecil cipratan darah di lantai, dia menengok ke kiri dan ke kanan, para pengawalnya pun juga tidak ada yang tampak.
"Apa yang sebenarnya terjadi disini?" Kata Tora bertanya pada dirinya sendiri. Dia melirik ke arah Scoopy yang berada di belakangnya.
"Kurasa dia sudah pergi. Aku tidak merasakan kehadiran sosok siapapun di ruangan ini, selain kita berdua." Kata Scoopy.
"Sialan! Seseorang sepertinya telah membunuh pengawalku dengan cepat dan tanpa meninggalkan jejak apapun. Apa kau tahu sesuatu tentang pembunuh yang seperti itu? " kata Tora menggenggam tangannya yang mengepal dan mengerat keras. Tubuhnya menegang sangat geram.
Scoopy merenung menunduk, matanya terpejam, menoleh-noleh dengan lamat untuk mengingat sesuatu.
"Aku tidak tahu," jawab Scoopy merasa aneh. "Tanpa suara dan dapat menyembunyikan energi dengan baik. Bahkan tanpa meninggalkan jejak dan bisa membunuh dengan senyap, cepat, bagai angin yang tanpa bekas. Satu hal yang jelas, dia pasti pengguna Aura mental."
"Ya. Tapi aku tidak tahu apa maksudnya dengan dia membunuh para pengawalku. Apa dia juga tadi telah mendengar tentang pembicaraan kita?" Kata Tora khawatir, dahinya mengkerut. "Pertama-tama, baiklah aku akan membayarmu 10 kali lipat yang kau mau. Tidak, 20 kali lipat, itu jika kau bisa berhasil membunuhnya."
Tora melemparkan kantong ruang dari cincin ruang di tangannya.
"Seseorang itu kurasa telah mendengar pembicaraan kita. Aku kira kau tidak akan punya banyak waktu lagi," kata Tora ragu.
"Kalau begitu, aku sekarang mempunyai pekerjaan penting yang harus aku bereskan terlebih dahulu." Jawab Scoopy tersenyum senang. "Jika seseorang itu berani mengganggu pekerjaanku, dia akan menjadi daftar target nomer kedua yang harus ku bunuh."
"Aku harap kau bisa memberi kabar yang bagus untukku," kata Tora. Dia lalu berjalan ke arah sudut lorong ruangan meninggalkan Scoopy sendirian.
"Baiklah, sepertinya aku tidak punya waktu untuk menebak teka-teki siapa orang itu yang menyerang." Kata Scoopy, "mungkin aku harus segera bergerak terlebih dahulu."
Tora bergegas ke tempat aula utama, duduk di kursi tengah yang bagai singgasana, lalu menyuruh para pembantunya untuk memanggil para Komandan Prajurit dan pengurus Tetua keluarga. Tidak butuh waktu lama, lima Komandan itu pun datang menghadap Tora. Mereka semua membungkuk sebentar, lalu kembali berdiri tegak.
__ADS_1
"Tadi ada seseorang yang telah membunuh tujuh pengawal pribadiku. Aku tidak tahu siapa yang melakukannya. Mulai sekarang, perketat keamanan seluruh daerah wilayah Klan keluarga Melati, jangan sampai pengguna Aura mental bisa lolos dan masuk dengan mudah." Ujar Tora dengan wajahnya amat begitu serius.
Semua Komandan terkejut mendengarnya.
"Baik, Jenderal!" kata mereka semua dengan kompak.
Dengan sedikit kibasan tangannya Tora, semua Komandan mengerti dan berbalik pergi meninggalkan ruangan. Salah seorang ada yang masuk ke dalam ruangan, dan bertanya kepada Tora.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Tuan?" Dia duduk di bangku samping kiri, dekat pilar ruangan, terdapat meja kecil di sampingnya. Wajah umurnya terlihat telah mencapai usia 60 tahunan.
"Tetua Etto, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan mengenai keberlangsungan Klan keluarga Melati. Tetapi, sebaiknya menunggu terlebih dahulu Tetua Kiren." Jawab Taro, jarinya mengurut sebelah dahi kepalanya yang miring. Dia merasa ada banyak masalah yang harus perlu diselesaikan.
****
Malam hari.
"Bahaya. Kurasa, keluarga Melati adalah dalang di balik sebuah kematian Wulan. Aku perlu mengingatkan dia." Kata Jaya Ketiga melamun. "Mungkin motif keluarga Melati sebenarnya adalah ingin menguasai kota Bulengreng. Sebab, dengan kematian Wulan, Jenderal Aji Saka akan menjadi sangat terpukul dan membuat emosinya labil. Lalu, dia meninggalkan kota Bulengreng dan melampiaskan amarahnya ke monster dunia Mayantara. Tepat seperti yang terjadi di masa depan."
"Lalu pemegang kekuasaan di kota Bulengreng menjadi kosong, maka akan ada pemilihan Jenderal baru di kota. Dan dengan begitu, keluarga Melati, posisinya sangatlah kuat sebagai penerus penguasa kota. Tapi kenapa? Apa tujuan mereka ingin menguasai kota?"
Jaya Ketiga memejamkan matanya, sepertinya Jaya asli telah menyerap semua mayat pengawal Tora. Tidak ada peningkatan kekuatan Aura ataupun Ananta di dalam dirinya. Namun dia mendapatkan kekuatan Ananta dari mayat mereka, yaitu: tiga tipe racun, tiga tipe ilusi, dan satu tipe binatang anjing. Selain itu, dia juga mendapatkan ingatan yang berharga banyak hal tentang keluarga Melati.
Jaya Ketiga tersenyum tipis.
"Kalau begini, kurasa aku telah menyelesaikan tiga misi dari Paman Sam. Namun aku perlu menambah sedikit serangan lagi agar membuat keadaan keluarga Melati jadi semakin bertambah buruk." kata Jaya Ketiga.
Dia membuat satu Klon bayangan, lalu Klon tersebut berubah menjadi hewan lalat kecil, dia terbang keluar lewat jendela penginapan. Lalat tersebut melayang terbang pergi ke daerah wilayah Klan keluarga Melati. Sebelum akan masuk, dia menyadari sesuatu. Terdapat energi tipis yang menyelimuti semua daerah wilayah tersebut, bagai disangkar yang berbentuk mangkok.
__ADS_1
"Rupanya sekarang mereka menjadi lebih waspada dengan memasang Segel formasi pertahanan. Apakah mereka tidak tahu, kalau aku juga mempunyai kunci Segel formasi mereka," kata lalat Klon bayangan yang terbang. Dia lalu turun mencari tempat aman yang tidak ada orang.
Dia berubah menjadi Jaya Ketiga, tangan jarinya bergerak membuat Segel, dan lalu menempelkan telapak tangannya ke energi tipis Segel formasi pertahanan, dan energi tersebut langsung membelah memberikan celah besar. Setelah itu, dia kembali lagi berubah menjadi lalat, dan terbang bebas ke atas langit-langit.
Jaya Ketiga, di dalam penginapan lalu tangannya mengaktifkan mantra kertas peledak.
"Meledaklah," kata Jaya Ketiga yang menutup matanya.
Ledakan mulai banyak terjadi di mana-mana di daerah wilayah Klan keluarga Melati. Bangunan, ruangan, tempat, mulai banyak yang hancur berserakan dan berantakan. Beberapa Prajurit yang berjaga, yang awalnya mengantuk, kini langsung gelagapan khawatir.
"Serangan!" Seru mereka semua, tanpa mengetahui dari mana asal serangan dimulai.
Lalat Klon bayangan bergegas ke suatu tempat lain.
Beberapa orang yang di dalam ruangan khusus tertentu, tiga orang yang bertugas mengawasi Segel formasi pertahanan, mendadak tercengang. Mata mereka semua tertutup, tapi bisa merasakan dan melihat apa yang sedang terjadi di luar. Di tengah-tengah mereka ada batu Segel formasi yang melayang di atas sebuah benda bundar dengan ukiran diagram penuh berbagai simbol-simbolik. Sebagian yang lain sedang duduk berjaga dari belakang.
"Apa yang terjadi di luar?" Kata salah seorang yang bertugas.
"Tidak ada deteksi penyusup, atau ada serangan yang menjebol Segel formasi pertahanan. Tetapi kenapa ada ledakan dimana-mana?!"
"Ini gawat! Laporkan kepada Tuan Tora!" kata Salah seorang lagi.
Salah seorang yang duduk mendengar pembicaraan tersebut langsung bergegas lari keluar ruangan.
Tora yang sedang tidur pulas pun terbangun karena mendengar ledakan keras.
"Ah! Celaka, ada energi seseorang misterius yang saat ini sedang masuk ke dalam ruangan penyimpanan harta keluarga. Beritahu kabar ini kepada Tuan Tora! Cepat!" Teriak salah seorang yang bertugas mengawasi Segel formasi pertahanan.
__ADS_1