
Dari semua tipe kekuatan Aura yang ada, Aura Raja adalah yang paling kuat. Saat seseorang mendapatkan kekuatan Aura tersebut, konon tingkat kultivasi mereka bisa meningkat dengan drastis. Selain itu, kekuatan Auranya juga dapat meningkat lebih kuat dari Aura pada normalnya.
Melihat Wulan yang telah hampir mencapai tingkat level empat, di usia yang masih sekitar 13 atau 14 tahunan. Hal itu membuat Jaya Kedua tertegun dengan perkembangannya. Itu sangat diluar kewajaran manusia jika Wulan bisa melakukannya tanpa bantuan dari luar. Dan apabila dia mendapat bantuan, kemungkinan kemajuan kultivasinya akan semakin bertambah mengerikan.
Jaya Kedua menduga bahwa Wulan memiliki Aura Raja murni. Jika tidak, bagaimana bisa Wulan memiliki perkembangan Kultivasi yang begitu hebat.
"Kau sudah datang rupanya," Kata Wulan. Dia membuka matanya yang indah dan menoleh ke arah Jaya Kedua.
"Hei ... apa ada hal yang ingin kau bicarakan?" Jaya Kedua tersenyum santai. Dan berjalan mendekati Wulan.
"Ya, sebenarnya, izinkan aku untuk bertanya," Wulan agak ragu berkata dengan menunduk. "Bisakah aku menginap di penginapan ini sampai pelelangan selesai. Tentu aku akan membayarnya juga,"
Sejenak Jaya Kedua tercengang mendengarnya. "Hah ... apa yang nona katakan? Aku sungguh senang hati jika bisa berbagi hal seperti itu dengan nona Wulan. Tidak perlu dengan membayar-bayar segala," Jawab Jaya Kedua langsung. "Sungguh kehormatan aku, Jaya bisa membantu nona Wulan dalam perjalanan kemari..."
Wulan terkejut mendengar jawaban Jaya Kedua, dia mengangkat kepalanya dan berkata. "Eh ... Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Itu karena nona Wulan adalah anak dari Jenderal Aji Saka. Bagiku itu kehormatan besar bisa melayani anda," Jaya Kedua tersenyum dengan simpul mengembang.
Di kehidupan sebelumnya, Jaya pernah diselamatkan oleh Jenderal Aji Saka dari perlakuan budak para bangsawan Ningrat dan diangkat menjadi prajurit bawahannya. Saat itulah, dia merasa kehidupannya telah diselamatkan dari rantai neraka. Tetapi, setelah kematian Jenderal Aji Saka, dia kembali mendapat perlakuan yang sama.
Kali ini, Jaya setidaknya ingin membalas budi kembali dengan Jenderal Aji Saka. Sedikit kebaikan apapun itu tetaplah masih mulia, meskipun cuma sebentar nikmatnya.
__ADS_1
Wulan berdiri dan mengepalkan kedua tangannya ke depan. "Kalau begitu terima kasih,"
Jaya Kedua menggeleng kepada dan memegang tangan Wulan, dia berkata. "Nona Wulan tidak perlu berterima kasih kepadaku. Seharusnya akulah yang berterima kasih." Begitu tangan lembut Wulan disentuh Jaya Kedua, dia buru-buru melepaskan. Dia kaget, tidak mengira terjadi kontak sentuhan tangan dengan orang lain.
Wulan pipinya memerah malu dan menyembunyikan tangannya langsung ke belakang punggung. Selama ini, dirinya tidak pernah melakukan sentuhan dengan siapapun bersama lawan jenis. Jaya adalah orang pertama yang melakukannya.
"Ah, maaf ... aku tidak bermaksud," kata Jaya Kedua melihat ekspresi Wulan yang tidak senang dengan wajah tersipu malu. Jaya Kedua menjadi canggung, dia refleks melakukannya begitu saja.
"Oh, ya. Aku mempunyai beberapa kabar peringatan kepada nona Wulan. Sebaiknya nona mulai sekarang lebih baik berhati-hati jika di berada disini atau ingin kembali ke kota Bulengreng," kata Jaya Kedua wajahnya berubah serius.
Dia hampir lupa untuk tidak mengingatkan tentang pembunuh bayaran yang akan mengincar nona Wulan dari keluarga Melati. Kemungkinan pembunuh bayaran yang berasal dari dunia Brandal, pasti telah bergerak sekarang.
"Eh ... begitukah. Aku mengerti." Wulan matanya melebar kaget. "Maaf, sepertinya aku telah terlibat dengan hal yang tidak seharusnya." Wulan membuang mukanya ke arah lain, dan lanjut berkata lirih, "Susan dari anak Jenderal Besar Taka, pasti ingin membalas mencelakaiku kan."
Dan Wulan mengangguk bingung serta berkata, "ya. Aku terlibat dengan Susan sesaat kemari mengantarkan Jacky. Kurasa dia marah. Dia adalah sepupuku sendiri. Dalam keluarga Klan Snowy bangsa Arya, ayahku memanglah dikucilkan dari keluarga Klan. Jadi terkadang, mereka selalu merendahkanku saat bertemu. Dan apa maksudmu bukan Susan?"
Jaya Kedua tidak mengerti siapa itu Susan. Namanya memang tidak asing dan pernah terdengar, namun Jaya belum pernah ketemu dengannya. Ternyata itu keluarga Klan dari Wulan.
"Ah, ini tentang dari keluarga Melati. Mereka saat ini tengah menyewa pembunuh bayaran untuk menargetkan anda." Jawab Jaya Kedua.
"Apa?! Benarkah itu? Bagaimana kau bisa mengetahuinya?" Wulan terkejut heboh.
__ADS_1
Selama ini hubungan keluarganya dengan keluarga Melati memanglah cukup tidak baik. Di permukaan memang tidak ada masalah, namun di belakang mereka saling berseteru tegang. Itu karena, ayahnya Wulan, merebut hak kekuasaan di kota Bulengreng. Wulan paham akan situasi dan konflik keluarganya di kota Bulengreng. Ayahnya telah menceritakan semua masalahnya.
"Tentang itu, untuk saat ini aku belum bisa menjelaskannya dari mana aku mengetahuinya," kata Jaya Kedua pelan. Kekuatan Ananta kegelapannya memanglah perlu disembunyikan. "Percayalah padaku, sebab anda sekarang sedang dalam bahaya incaran seseorang." tambah kata Jaya Kedua dengan nadanya yang cemas.
Wulan mengerutkan dahinya dan menggigit bibirnya yang mungil. Meski, Wulan baru mengenal Jaya dan belum banyak mengetahuinya. Tapi Wulan menganggap, Jaya adalah orang baik dan misterius. Dia pernah menyelamatkan Putri Sekar tanpa ingin mendapatkan imbalan, dan belum lama ini, dia juga disambut baik oleh ketua Asosiasi Hunter.
Identitas dan sosok Jaya, begitulah masih abu-abu dan tidak dapat bisa ditebak oleh Wulan. Namun, terkadang perkataannya selalu benar dan tidak dapat dimengerti.
"Baiklah terima kasih atas informasinya. Sepertinya aku perlu bicara dengan Patrik, jika memang itu benar." Wulan sedikit gelisah.
"Oh, ya. Aku juga ingin memberikan sesuatu kepada anda." Jaya Kedua, mengeluarkan beberapa batu Kristal merah dari cincin ruangnya. Begitu Wulan melihatnya, dia langsung tercengang.
"Terimalah batu Kristal ini. Mungkin ini bisa meningkatkan kultivasi anda untuk menerobos ke tingkat level selanjutnya. Atau mungkin anda bisa membuat senjata darinya," kata Jaya Kedua dengan senyumnya yang ringan.
"Eh, ini, bagaimana kau bisa memiliki barang ini?" Tanya Wulan melihat bongkahan batu Kristal merah dengan mendengung memancarkan energinya. "Bukankah ini adalah barang yang akan di lelang?" lanjut kata Wulan.
"Ya, nona Wulan benar. Ini adalah barang yang akan di lelang. Simpanlah," kata Jaya Kedua. Dia tidak menjawab pertanyaan dari mana dia bisa memilikinya. Jika dijelaskan, kemungkinan kekuatan Anantanya akan menjadi terkuak diketahuinya.
"Tidak, aku tidak bisa menyimpan ini begitu saja. Batu Kristal merah adalah barang berharga yang bisa menjadi bahan membuat senjata Artefak." kata Wulan mengamati batu Kristal tersebut. Dia tidak percaya, jika di depannya adalah barang yang akan diberikan padanya. Selain itu dia juga menatap Jaya Kedua dengan perasaan aneh.
"Aku masih memiliki beberapa batu Kristal merah, jangan terlalu khawatir," Jaya Kedua melambaikan tangannya dengan acuh.
__ADS_1
"Kenapa kau memberikan batu ini kepadaku?" Tanya Wulan.
"Yah, sebenarnya aku memanglah ingin memberikan batu Kristal merah ini, saat mendengar bahwa anda kesini untuk ikut ke pelelangan. Anggaplah sebagai hadiah kado dariku, karena telah membantuku saat itu," Jaya Kedua tersenyum santai. "Kebaikan sekecil apapun tetaplah kebaikan mulia, anda pantas untuk mendapatkannya,"