
"Apa maksud guru ada mata-mata yang bersama ayahku?" Tanya Putri Sekar bingung dan khawatir. Dia merasakan ada firasat buruk yang akan terjadi di ibu kota Kalijogo setelah mendengar kabar tersebut dari Bananji.
"Setelah aku diserang oleh Klan Sycitian dalam dunia Mayantara. Aku merasa ada yang janggal dalam menjalankan misi. Bagaimana mereka bisa mengetahui keberadaan kami di dunia Mayantara, sedangkan yang mengetahui tentang misi rahasia ini hanyalah orang-orang yang terpercaya dari jenderal saja. Jelas ada seseorang yang membocorkan informasi ini kepada Klan Sycitian. Sehingga mereka bisa menyerang disaat kami lengah," terang Bananji. Dia menutup kembali pakaiannya. Bentuk kutukan kera tubuhnya tidak terlalu pantas untuk selalu diperlihatkan.
Paman Yoga mencerna penjelasan yang diberikan Bananji. Tentang misi rahasia untuk mendapatkan Buah Aura dan penyerangan yang dilakukan oleh Klan Sycitian. Memang terdapat keanehan di dalamnya.
"Bukankah informasi Buah Aura itu diberikan oleh Klan Sycitian. Kalau mereka memang berniat menyerang, berarti dari awal mereka telah memberikan umpan kepada Jenderal Besar Aryani agar pergi untuk mendapatkan Buah Aura tersebut..." komentar Paman Yoga matanya melotot menerka.
"Tepat sekali. Dan tujuannya adalah untuk membunuh orang yang pergi menjalankan misi mencari buah tersebut..." Kata Bananji. "Dan itu adalah aku..."
Paman Yoga matanya tersadar dengan terkejut. Dia mengerutkan dahi dan mulai mengerti alasan di balik Klan Sycitian yang menyerang Bananji. "Berarti mereka ingin melemahkan kekuatan tempur pasukan dari Jenderal Besar Aryani? Kalau begitu, apa hal ini akan menjadi timbulnya pecah perang?" Kata Paman Yoga lirih menggumam dan menundukkan kepala. Namun suara dia masih dapat terdengar oleh yang lainnya.
Bananji tidak bisa berkata-kata lagi. Sepertinya, kali ini dia telah masuk ke dalam perangkap musuh sebelum sempat menyadarinya. Apa yang diutarakan oleh Paman Yoga itu benar. Perang segera terjadi begitu Jenderal Besar Aryani mengetahuinya.
"Lalu... Kalau begitu apa yang harus aku lakukan guru?" Putri Sekar sedikit mengerti dengan keadaan yang dialami.
Bananji menengadah ke atas langit. Merenung memikirkan sesuatu, tapi tidak menemukan sesuatu yang bagus dari kejadian yang menimpanya. Sedikit solusi samar yang mungkin bisa menemukan sosok mata-mata yang bersama jenderal.
"Mungkin... anda perlu kembali terlebih dahulu ke ibu kota Kalijogo... aku akan menuliskan surat untuk Jenderal Besar Aryani. Beliau mungkin bisa menemukan sesuatu tentang petunjuk hal tersebut..." Kata Bananji. "Dan pastikan, beliau membaca surat tersebut secara langsung."
Putri Sekar mengangguk mengerti. "Dan bagaimana dengan guru? Apakah tidak cara yang lain untuk bisa menyelamatkan nyawa guru..."
"Tidak ada. Daripada anda mengkhawatirkanku, sebaiknya tuan putri perlu bisa memikirkan dirinya sendiri untuk bertambah sedikit lebih kuat." Jawab Bananji. "Dan lebih baik kalian beristirahatlah terlebih dahulu..."
__ADS_1
Bananji lekas berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Putri Sekar. Dia lalu mengelus pelan rambut Putri Sekar dengan lembut.
"Anda harus segera bertambah kuat." kata Bananji sambil tersenyum. "Musim monster akan segera datang... kau tahu apa yang dilakukan jika musim monster akan datang?"
Putri Sekar memeluk gurunya dan menangis. Dia merasakan seolah tidak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi. Kutukan yang diterima Bananji tidak bisa terselamatkan lagi. "Jangan lengah dari situasi apapun, yang lengah akan mati duluan." kata Putri Sekar lirih.
"Bagus. Usahakan tetap bersama kawanan." kata Bananji puas. Dia melirik ke Jaya Kedua. Putri Sekar melepaskan pelukannya. Dia juga menoleh ke arah Jaya Kedua.
"Sepertinya aku tidak bisa membalas budi denganmu saat ini." kata Putri Sekar lirih sambil mengusap air matanya. Memperlihatkan dirinya yang sedang menangis, ini telah membuat harga dirinya jatuh. Merasa malu, dan lemah.
"Tidak perlu khawatir tuan Putri. Aku mempunyai hadiah yang cukup layak untuk dia..." kata Bananji, tersenyum ringan. Dia meletakkan satu tangannya di bahu Putri Sekar. "Pastikan anda memakan Buah Aura itu langsung. Aku khawatir akan ada orang yang mengincarnya."
"Yoga… cepat antarkan Putri Sekar ke sebuah ruangan tertutup dan tetap awasi jaga dia." ujarnya Bananji ke Paman Yoga.
Begitu mereka berdua telah pergi dan tak terlihat. Bananji menatap ke Jaya Kedua.
"Hei nak, ada hal yang ingin kubicarakan denganmu," kata Bananji menatap Jaya Kedua. "Ikutlah denganku sebentar..." geleng kepala Bananji sedikit menunjuk arah.
"Baiklah..." kata Jaya Kedua mengikuti Bananji ke suatu tempat. Dia sedikit penasaran tentang hadiah layak yang akan diberikan padanya.
Mereka lalu berada di sebuah ruangan taman halaman, dan duduk bersila di perapian dengan tempat istirahat berbentuk kubah kecil, yang berada di tengah taman. Ini adalah fasilitas dari penginapan yang sangat berharga mahal di benteng kota Asosiasi Hunter.
"Kau tak perlu khawatir, aku tidak akan menyerangmu atau melukaimu." kata Bananji, wajahnya tenang. "Aku tahu kekuatan Ananta dirimu... Kekuatanmu hampir sama dengan seseorang yang pernah kutemui, yang bernama Tarkan,"
__ADS_1
Sekejap Jaya Kedua jantungnya berhenti berdetak. Dia tercengang, bagaimana dia bisa mengetahui kekuatan Ananta dalam dirinya. Kekuatan Ananta berbeda dengan kekuatan Aura yang bisa dideteksi. Jika tanpa dilihat secara langsung, kekuatan Ananta seseorang tidaklah bisa untuk diketahui. Selain Jacky, pihak Asosiasi Hunter, dan Paman Sam, tidak ada lagi yang mengetahui jenis kekuatan Ananta dirinya. Ah, kecuali Tarkan.
Jaya Kedua bisa mengingat jelas tentang ketakutannya saat melawan Tarkan. Kekuatan Tarkan jauh melebihi dari sesuatu yang pernah diketahui. Mengetahui Bananji menyebutkan nama Tarkan, rasa khawatir merayap ke tubuh Jaya Kedua. Bisa jadi, Tarkan telah membocorkan informasi dirinya kepada orang lain.
Jaya Kedua langsung berdiri menegang dan berposisi kuda-kuda bertarung dan mengeluarkan pedang hitamnya.
"Sudah kuduga, dari awal kaulah yang mengincar Putri Sekar. Kau bersekongkol dengan Tarkan bukan?!" Terka Jaya Kedua, dia mengacungkan pedang hitamnya ke arah Bananji. "Aku cukup curiga, kenapa Putri Sekar diserang oleh monster beruang aneh saat perjalanan kemari, dan yang ternyata adalah Tarkan, organisasi kegelapan. Kalian ingin mengincar dan membunuh para bangsa Arya! Apa tujuanmu sebenarnya?!"
"Hahaha..." Bananji tertawa terkekeh. Dia terkejut dengan respon Jaya Kedua yang begitu impulsif dan waspada.
Jaya Kedua dengan cepat melancarkan serangan pedang ke arah Bananji. Tapi pedang hitamnya di tangkap oleh Bananji dengan dua jari. Bananji mengeluarkan kekuatan Aura dan Anantanya secara bersamaan. Tubuhnya diselimuti oleh energi yang berbentuk petir menyala. Di dahinya keluar satu mata hitam. Dan seekor burung gagak hitam tiba-tiba keluar dari pundaknya.
Tempat istirahat duduk di taman menjadi retak akibat energi yang dikeluarkan Bananji.
"Tidak buruk. Tapi sepertinya kau salah paham tentang sesuatu." Kata Bananji tersenyum. "Aku bukanlah orang yang bersekongkol dengan Tarkan."
Jaya Kedua bingung dan ragu akan jawaban dari Bananji.
"Bisakah kau tidak terlalu agresif dulu untuk ingin membunuh, sebab niat harus darahmu bisa tercium jelas oleh hidungku," tambah Bananji. Dia melepaskan pedang hitam Jaya Kedua dari jepitan dua jarinya. "Baunya sangatlah begitu menyengat. Jangan terlalu menaruh curiga kepadaku. Aku akan menjelaskan semuanya kepadamu dengan perlahan,"
"Menjelaskan? Tentang apa?" Jaya Kedua mengerutkan alisnya dan masih tidak begitu percaya.
"Tentang siapa itu Tarkan... " kata Bananji, wajahnya menggelap.
__ADS_1