
"Oke, baiklah." Jaya Kedua mengikuti instruksi Bananji untuk melakukan sumpah. Dengan pedang hitamnya, Jaya Kedua menggores telapak tangannya hingga keluar darah. Dia merentangkan tangannya ke atas langit dan berkata,"aku Jaya, bangsa Asoka bersumpah. Bahwa aku Jaya, akan melindungi dan memastikan keselamatan dari Raka dan Sekar garis keturunan Aryani bangsa Arya. Hingga sampai selama aku, Jaya masih hidup."
"Dengan diriku yang menjadi saksi, aku, Jaya bersumpah pada diriku untuk memegang sumpah hingga ajal menjemputku." Jaya Kedua serius mengatakannya dengan lantang. Dia lalu menatap Bananji, "Apa kau sudah puas?"
Bananji mengangguk dengan senyum yang mengembang puas. "Baiklah... Untuk kunci Suluk, kurasa kau perlu masuk ke dalam keadaan tertentu terlebih dahulu,"
Jaya Kedua mendengus, "keadaan apa lagi ini? Tidak bisakah kau langsung saja dan tidak bertele-tele untuk memberikannya," tangan Jaya Kedua melambai meminta kunci Suluk sesuai kesepakatannya.
"Ha... Jangan terlalu terburu-buru. Segala sesuatu itu membutuhkan proses, ada fase yang perlu dilewati sebelum kau bisa memegang kunci tersebut. Tanpa fase dan proses, kau tidak akan tahu kegunaannya meski memiliki kunci tersebut." Jelas Bananji. Dia lalu duduk mengeluarkan sebuah kertas dan menulis sesuatu. "Tunggulah, sebentar. Aku perlu menuliskan surat untuk Putri Sekar dan Jenderal Besar Aryani..."
"Baiklah ... baiklah ... apa kita akan perlu melakukan sesuatu nantinya?" tanya Jaya Kedua.
Bananji sibuk menulis di kertas dan menjawab, "mungkin sedikit latihan untukmu."
"Latihan? Apakah menggunakan kunci Suluk perlu latihan segala..." Jaya Kedua bingung dan tidak mengerti.
"Ya... Latihan untuk mengatasi kegelapan kamu sendiri," kata Bananji ekspresinya serius menatap Jaya Kedua sebentar dan kembali fokus ke dalam menulis lampiran di kertas.
Jaya Kedua memiringkan kepalanya merasa aneh. 'Apakah ada hal salah dengan kekuatan kegelapanku?' Begitulah pikirnya dalam hati.
Setelah mengucapkan sumpah atas namanya sendiri untuk melindungi keturunan Jenderal Besar Aryani, Jaya Kedua akhirnya di ajak Bananji ke suatu tempat latihan. Sebab, untuk memberikan kunci Suluk memerlukan beberapa keadaan tertentu agar bisa di gunakan oleh Jaya Kedua. Dengan begitu, Jaya Kedua menciptakan satu Klon bayangan lagi untuk pergi bersama Bananji. Dan sedangkan Jaya Kedua, dia bergegas pergi ke Asosiasi Hunter menyusul Jacky.
Di tempat ruang tertutup Putri Sekar.
Beberapa saat yang lalu.
Dia memutuskan memakan buah Aura sesuai anjuran Bananji. Setelah beberapa saat, dia mulai merasakan aliran energinya meluap di tubuhnya. Energi tersebut bergejolak cukup kuat di tubuhnya dengan membawa perasaan nyeri. Dia pun berkonsentrasi untuk menyebarkan aliran energi itu ke tubuhnya dan memadatkannya.
__ADS_1
Dan kini, setelah beberapa jam waktu berlalu.
Kulitnya Putri Sekar kian berubah menjadi berkilau terang bagai sinar matahari menerangi di waktu fajar, dia tampak lebih cantik tidak seperti biasanya. Perlahan-lahan kekuatan tubuhnya terus-menerus merasakan peningkatan, berbagai kotoran tubuh keluar dari pori-pori kulitnya yang mulus.
Begitu banyak keringat kotoran keluar dari tubuhnya, tiba-tiba kulitnya berangsur retak dan pecah. Sebuah cahaya menyembur keluar dari riak kulit tubuhnya yang retak dan itu sangat begitu terang. Dia akhirnya menembus ke tingkat level tiga, dengan tubuh yang terasa diperbarui kembali.
Putri Sekar segera membuka matanya, dengan lentik dan bola matanya yang berwarna merah bagai sekuntum bunga mawar yang mekar. Kekuatan buah Aura sungguh tidak terbayangkan untuk manfaatnya. Sebelumnya dia hanya mencapai tingkat level dua tahap awal, kini dia telah menerobos dengan cepat dan praktis ke tingkat level tiga.
Selain itu, dia juga merasakan samar-samar bahwa kekuatan Auranya juga bertambah semakin murni. Dan kulitnya menjadi tampak begitu bersih dan bening. Seakan semua tubuh fisiknya telah mencapai tubuh baru, bagai kupu-kupu yang keluar dari kepompong.
"Selamat, tuan Putri telah mencapai tingkat level tiga." Paman Yoga tersenyum di belakang Putri Sekar. Dia mengawasi prosesnya dari awal, memantau jika terjadi sesuatu yang tidak terduga kepada Putri Sekar.
"Ya. Manfaat kekuatan buah Aura ini sungguh luar biasa..." Putri Sekar senyum suka cita terkesan dengan perkembangan tubuhnya. Dan dia merasa lengket dengan banyak sisa kotoran di pakaiannya. Dan segera dia pergi mandi untuk membersihkan dirinya.
Paman Yoga memerintahkan beberapa pelayan penginapan untuk segera menyiapkan tempat mandi.
Dia masuk ke bak mandi air hangat dan membasuh kulit halusnya, membilas kotoran menjadi seharum wewangian bunga. Perasaan Putri Sekar begitu campur aduk dengan tetap ekspresi tenang. Ada masalah dan bahaya yang saat ini sedang menunggunya, dia perlu kembali ke ibukota Kalijogo dengan selamat.
"Tanpa pasukan ... tanpa pengawal ... ah, apa yang bisa kulakukan saat ini untuk bisa kembali ke ibu kota?" Lamun Putri Sekar dengan tatapan kosong dan tetap membasuh tubuh indahnya.
Di tempat gedung Asosiasi Hunter
Beberapa saat yang lalu.
Jacky masuk ke dalam gedung Asosiasi Hunter diantar oleh Wulan. Dia mendatangi seorang resepsionis perempuan yang menjaga di kasir.
"Apa ada hal yang perlu dibantu?" Tanya Resepsionis tersebut.
__ADS_1
"Ini, temanku mempunyai pesan untuk disampaikan kepada Asosiasi Hunter," kata Wulan tersenyum ringan dan berkata hangat. Dia menoleh ke Jacky, "katakanlah saja apa yang dikatakan Jaya kepadamu,"
Jacky dengan senyum canggung dan mengingat-ingat pesan Jaya. Dia berkata, "eee... Aku teman Jatra, temanku Jaya yang bilang begitu untuk menyuruhku kesini."
Wulan merasa canggung dengan pesan yang diberikan oleh Jaya kepada Jacky. Pesannya aneh, siapa itu Jatra. Apakah dia adalah orang hebat atau orang penting. Wulan tidak pernah mendengar seseorang yang bernama Jatra. Namun, ekspresi resepsionis berkata lain.
Resepsionis itu langsung terkejut, matanya melotot. "Oh ... Apakah Jaya yang anda maksud adalah anak dari kota Bulengreng?"
"Em," angguk Jacky merasa aneh. Dia berpikir bahwa Jaya seharusnya belum pernah kesini. Tapi bagaimana, seorang Resepsionis bisa langsung mengenalinya. Wulan pun juga ikut merasa aneh.
Ekspresi Resepsionis langsung berubah ceria, "dimana tuan Jaya? Bisakah anda memberitahukannya kepada kami..."
"Katanya, nanti dia akan segera ke sini. Sementara itu, aku disuruh untuk pergi ke sini terlebih dahulu." Jawab Jacky santai.
Resepsionis terdiam sebentar dan mengangguk.
"Baiklah ... Baiklah ... Aku mengerti. Mari silahkan kuantarkan ke tempat anda." Resepsionis tersebut keluar dari meja kasirnya. Dia mempersilahkan Jacky dan Wulan untuk menunjuk ke suatu tempat. "Ketua Asosiasi Hunter telah menunggu tuan Jaya kemari. Dan dia telah menyediakan beberapa tempat penginapan, jika memang diperlukan,"
"Ha?" Wulan mengangakan mulutnya tidak bisa berkata apa-apa. Bahwa mendengar ketua Asosiasi Hunter telah menunggu kedatangan Jaya. Dia bertambah merasa aneh, seakan Jaya telah mengetahui semuanya sebelum dia datang ke sini.
"Ayo nona Wulan, ikut sekalian denganku," kata Jacky dia menoleh ke arah Wulan yang masih bengong.
Tiba-tiba seseorang datang menyapa Wulan yang hendak berjalan.
"Hei ... Bukankah itu adalah si Wulan." Kata seorang perempuan muda yang umurnya sebaya dengan Wulan. "Tidak kusangka akan menemuinya di sini. Kenapa anak dari jenderal buangan bisa sampai ke sini, ya?"
__ADS_1