
"Apa, apa, apa, kenapa kau mencoba membodohiku Jaya?!" Jacky percaya diri bahwa dugaannya benar. Dia ingin protes atas tindakan Jaya.
"Terserah … lakukan sesukamu jika tidak percaya dengan perkataanku. Dan jangan salahkan aku nanti karena tidak memperingatkanmu. Sekali kau telah melakukannya, maka itu akan menyebabkan beresiko fatal pada tubuhmu di hari kelak nanti." Jaya Kedua tersenyum pahit dengan wajah serius. Lalu dia mengubah postur wajahnya datar.
"Selain itu kita juga perlu pergi dari sini. Kita akan melanjutkan perjalanan lagi … tepatnya pergi ke tempat untuk istirahat yang aman dan nyaman ..."
Jacky menghela nafas dan berpikir. Apa karena alasan itu, Jaya menghentikan meditasinya. Ataukah peringatan dirinya itu memanglah benar. Dia membuyarkan lamunannya yang tidak jelas. Budidaya kultivasi adalah rahasia manusia tentang kekuatan dirinya sendiri. Tidak ada benar atau salah, selain yang kuatlah yang berkuasa.
"Ahh … baik, baik! Ayo kita pergi. Kenapa tidak bilang dari tadi, kan, tidak perlu dengan alasan yang berbelit-belit ..." Jacky berdiri muram dengan tegap meluruskan badannya dari tempat duduk.
"Eee … kau masih tak percaya dengan perkataanku tadi. Apa karena aku bukan ahli master Hunter, jadi kau tidak mengindahkan peringatanku? Ah, demi apapun, terserahlah ..." Jaya Kedua mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh.
Mereka berdua sambil bertengkar cakap, berjalan keluar dari dalam gua. Tidak ada yang mau mengalah dari perkataan mereka masing-masing. Hingga akhirnya, permasalahan itu dibiarkan berlalu.
"Jadi kita akan pergi kemana?" Jacky berlari di belakang mengikuti Jaya Kedua.
Mereka sudah pergi meninggalkan tempat gua.
"Kita akan pergi ke Benteng Kota Hunter, tepatnya kota Asosiasi Hunter!"
"Whooa! Itu adalah tempatnya para Hunter untuk bisa berkumpul … Yah, aku juga ingin tahu seperti apa kota itu!?" Jacky berlari penuh semangat dengan riang.
Mereka berdua merangsek terus melaju dengan kecepatan penuh. Tidak terasa hari mulai menutup tirainya menjadi gelap. Jacky dan Jaya Kedua memutuskan untuk beristirahat di tengah hutan.
Jaya menyiapkan perapian untuk tempat memanggang. Dalam kantong ruangnya dia mengeluarkan mayat monster kelinci. Dia menebasnya hingga menjadi beberapa bagian daging, lalu menusukkan dalam batang kayu.
"Wiih … kau membunuh monster kelinci? Ini daging makanan yang bagus Jaya!!" Jacky membantu menusukkan dagingnya. "Sini, biar aku saja yang membumbuinya. Aku adalah ahli resep kalau soal masak memasak!"
"Baiklah, kalau begitu."
__ADS_1
Dengan cekatan, Jacky telah membuat beberapa tusuk daging. Jaya Kedua melemparkan beberapa bumbu untuk pasrah menyerahkan urusan memasak kepada Jacky. Yah, dalam hal memasak, Jaya memang percaya bahwa Jacky bisa diandalkan.
Jaya Kedua duduk terdiam memejamkan matanya dengan bersandar dibawah pohon, sambil melipat kakinya. Suara malam beranjak riuh banyak kebisingan hewan-hewan kecil yang bersahutan. Walau halus mereka sedikit nyaring dalam hening. Mereka bagai lagu malam di hutan yang gelap.
Beberapa waktu terlewati. Aroma tusuk daging panggang tercium lezat. Asap aromanya, terbang pergi menari ke atas langit menggapai bintang. Mereka dijejer rapi dengan berdiri di dekat perapian.
"Taadaaa....! Jaya, makanan sudah matang! Sekarang waktunya makan!" Jacky yang telah menunggu lama, kini tidak bisa menyembunyikan air liurnya lagi.
Aroma dari tusuk daging panggang buatannya begitu menggoda menggugah selera. Jacky mengambil satu, lalu meniupnya perlahan-lahan karena masih amat panas. Dia menggigit dagingnya dengan perlahan-lahan.
"Aww~, oh sudah matang?" Jaya Kedua meregangkan tangannya dengan rileks. Sedikit menguap, dia melihat dan mencium aroma tusuk daging panggang di depannya.
"Ummm … ini empuk dan kenyal sekali. Ahh … le-lezatnya ..." Tampang Jacky lebay sekali dengan mata terpejam menikmati adukan rasa di lidahnya.
"Hoh … bukannya karena kau yang memasak, maka kau bilang lezat ..." Jaya menjulurkan tangannya mengambil salah satu tusuk daging.
"Kau mencurigai kelezatan masakanku?! Lidahmu pasti sudah bengkok jadi tak bisa membedakan, antara enak dan tidak ..." Ketus Jacky kesal mengunyah daging dengan cepat di mulutnya.
"Bagaimana?" Jacky menunggu reaksinya.
"Tidak, buruk. Ini memang layak dikonsumsi ..."
"Kau … Jaya! Lain kali akan ku racuni itu makanannya. Agar kau tau apa itu namanya lezat!"
"Bercanda, bercanda … ini enak, kok." Jaya menyantap dengan puas, dia tidak bisa menyembunyikan kenikmatan dari rasa dagingnya.
Jacky mengusap hidungnya dengan ibu jari, " oh, bagus, tanganku ini adalah dewa memasak. Jika masih meragukan kemampuanku, maka akan ku buat perutmu jadi takut makan karena kekenyangan ..." Jacky tertawa bangga.
Di tengah asyik-asyiknya mereka makan dengan lahap, di balik semak tiba-tiba seseorang keluar. Dia tampak seorang pemuda yang berumur 25 tahunan, tubuhnya penuh luka bagai sehabis pertempuran yang sengit. Pakaiannya compang-camping, hingga kekar dadanya terpampang kokoh.
__ADS_1
Dia berjalan mendekat dengan berat melangkahkan kaki dan badannya sedikit terhuyung-huyung. Matanya berwarna gelap dan memancarkan niat haus darah.
"Daging … d-daging … lapar ..." Dia berkata dengan patah-patah sambil tubuhnya gemetar.
Jaya Kedua dan Jacky sontak kaget karena kehadiran sosok tersebut.
"Aaah … Siapa kau? Jangan mendekat, jika tidak ingin kutusuk kau!" Jacky terperanjat memasangkan kuda-kuda berdiri dengan mengacungkan tusuk dagingnya.
"Apa maumu? Kenapa kau kemari? Apakah kau hanya mau daging panggang?!" Teriak Jaya Kedua yang juga berdiri bersiap-siap.
Seseorang itu bisa mendekat tanpa diketahui, jelas dia bukan seseorang biasa, pikir benak Jaya. Selain itu, tingkat levelnya juga terasa tidak dapat ditebak. Jaya Kedua mendadak menjadi waspada terhadap kehadirannya. Sebab, di hutan liar ini, musuhnya bukanlah cuma monster, manusia juga bisa pula menjadi musuh berbahaya.
"Daging … daging… lapar ..." Seseorang itu menyeringai dengan kelelahan. Dia terus menerus mengulangi kata-katanya. Jalannya terhuyung bagai orang yang mabuk berat.
"Jaya? Apakah dia seorang kanibal?? Daging yang dimaksud itu apakah kita?" Jacky berkata lirih kepada Jaya Kedua yang di sampingnya. Wajahnya sedikit berkeringat cemas.
"Entahlah … aku pun juga tak mengerti keinginannya. Kau bisa tanya saja langsung kepadanya." Balas Jaya Kedua.
"Haa … kau bercanda?! Jadi kau pun tak mengerti siapa dia? Apa yang harus kita lakukan?!" Kata Jacky pelan dengan penuh takut.
Jaya mengangkat bahunya dan menggelengkan kepalanya seolah tidak mengetahui siapa lawannya ini. Dan sebaiknya menunggu respon maksud seseorang itu.
"Apakah kau ingin membunuh kami untuk bisa di makan ataukah tidak?! Jika iya, maka jangan salahkan kami kalau kaulah yang akan terbunuh disini oleh kami!" Teriak Jacky dengan memberanikan dirinya menggertak seseorang itu.
"Dua lawan satu! Kalau kau berani, maka kau akan mati. Jadi sebaiknya enyahlah dari sini!" Lanjut Jacky.
Seseorang itu tidak memperdulikan Jacky dan Jaya Kedua. Dia terus berjalan lambat, mendekat, dan tangannya menjulurkan ke depan. Sebuah energi besar muncul dari tubuh seseorang itu dan memberikan tekanan yang berat untuk bernafas di sekitarnya.
"Ugh … sial, celaka, dia seorang ahli ..." Jacky terkejut dengan terperanga. Badannya Jacky terasa berat seakan ingin roboh ke tanah.
__ADS_1
"Kau tingkat level 5?! Apakah kau ingin bertarung? Kami tidak mempunyai masalah denganmu, kenapa kau mengganggu kami?!" Tatapan Jaya dingin menyorot tajam. Tekanan energi yang dikeluarkan oleh seseorang itu, seolah tidak berpengaruh padanya.
"Daging … lapar ..." Dengan perlahan dia terus berjalan sepenuh tenaga dengan derap kakinya yang begitu lambat.