
Wulan tidak bisa menolak pemberian dari Jaya Kedua. Jika dia menolak tentu akan sangat menyesal. Baginya bisa melihat batu kristal merah saja itu sudah bagus, apalagi kini dia bisa memilikinya. Hal itu diluar dari harapannya ketika dia memutuskan pergi untuk mengikuti pelelangan ke Asosiasi Hunter.
"Baiklah ... Terima kasih. Tapi aku tidak bisa menerima ini begitu saja," kata Wulan yang langsung memasukkan batu kristal itu ke dalam kantong ruangnya. "Jika di masa depan kau butuh bantuan, katakanlah. Aku Wulan akan kembali membalas pemberianmu ini,"
Wulan bukanlah seorang wanita penjilat, mendekati seseorang demi hanya mendapatkan keuntungan semata. Pemberian dari Jaya Kedua, itu semua di luar dari dugaannya. Jika dia menolaknya selain dia menyesal, itu juga akan menyinggung perasaan niat baik dari Jaya Kedua.
Jaya Kedua tersenyum kecil begitu Wulan menerimanya, "jangan terlalu berlebihan, itu hanyalah sekedar batu kristal. Selama nona Wulan senang menerimanya, aku pun juga ikut senang,"
Setelah itu, Jaya Kedua berpamitan untuk bergegas pergi ke ruangan kantor tempat ketua Suwarto yang berada di gedung Asosiasi Hunter. Sedangkan Wulan, dia menemui Patrik untuk membahas tentang informasi seorang pembunuh bayaran yang akan memgincar nyawanya.
Di kantor tempat Ketua Suwarto.
"Oh, tuan Jaya. Akhirnya anda telah datang. Pelelangannya akan segera dilakukan besok siang," kata Ketua Suwarto ceria melihat kedatangan Jaya Kedua.
"Apakah semua telah berjalan dengan baik?" Tanya Jaya Kedua santai. Dia langsung duduk di sebuah tempat yang disediakan.
Pertanyaan Jaya Kedua membuat Ketua Suwarto terkejut. Mungkinkah Jatra telah memberi tahu semua bisnisnya kepada Jaya, seperti yang telah Jatra ingatkan. Bahwa Jaya kini adalah orang yang telah menggantikan Jatra dalam menjalin bisnis dengan Asosiasi Hunter.
"Ya, semua baik-baik saja. Dan untuk Manuskrip yang ingin diketahui telah kami kirim kepada seseorang untuk menerjemahkannya. Mungkin butuh beberapa hari atau mungkin beberapa minggu agar bisa selesai." Jawab Ketua Suwarto tersenyum ragu. Bahwa tugasnya untuk membantu Jatra belum dia lupakan dalam hal Manuskrip. Namun, terasa begitu sedikit mustahil untuk dapat menerjemahkan Manuskrip yang bahkan dirinya sendiri tidak begitu mengerti.
__ADS_1
"Oke ... jangan khawatir mengenai itu." Kata Jaya Kedua santai. Masalah Manuskrip yang berada di gerbang pintu Prasasti, sepertinya hanya Bananji yang bisa mengetahuinya. Pada saat ini, dirinya tidak terlalu memikirkan kembali tentang masalah hal tersebut. Sebab, Bananji kini telah bersedia membantunya dan memberikan salah satu dari kunci tersebut.
Jaya Kedua lanjut berkata, "sebenarnya ada hal lain yang ingin kulakukan dalam pelelangan nanti. Aku ingin mengajukan seseorang yang akan menjadi bahan percobaan dari Pil Pembangkit Ananta. Dan selain itu, aku juga akan turut membantu dalam prosesnya menyegel energi kekuatan yang berlebihan,"
Ketua Suwarto sedikit tercengang dengan perkataan Jaya Kedua. Sebab, seseorang yang di depannya ini adalah pemuda yang masih berumur 13 tahun dan hampir menginjak 14 tahunan. Membantu proses penekanan energi kekuatan bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Setidaknya, dibutuhkan beberapa pemahaman dan kekuatan Aura Mental yang cukup untuk bisa menekankannya. Dan ada beberapa syarat tingkat level untuk bisa melakukannya.
Jika orang lain yang mengatakannya, kemungkinan mereka akan langsung ditolak. Tetapi ini adalah Jaya, orang yang dipercayai oleh Jatra sendiri. Ketua Suwarto tidak mengerti kenapa, Jaya ingin membantu prosesnya tersebut. Kalau merekomendasikan orang lain menjadi bahan uji coba, dirinya tidak akan ada masalah. Namun, jika ikut dalam proses penyegelan, itu sangat beresiko.
Sebab, jika terjadi kegagalan dalam uji coba, maka Ketua Suwarto akan merugi dan mengecewakan banyak orang. Namanya menjadi dipertaruhkan dalam kalangan publik ataupun bangsawan. Dan semua bahan berharga untuk membuat pilnya juga menjadi terbuang sia-sia. Ketua Suwarto tidak ingin menimpa hal seperti akan menjadi kenyataan.
"Apakah tuan Jaya tahu mengenai Mantra Segelnya? Soalnya saya ragu nanti anda akan malah menjadi mengacaukannya," kata Ketua Suwarto dengan nada khawatir. "Biarkanlah kami saja yang mengurusnya. Kalau untuk seseorang yang menjadi bahan uji coba, saya kira tidak masalah. Saya bisa memenuhi permintaan tersebut. Tetapi, kalau anda ikut dalam proses penyegelan, khawatirnya akan terjadi sesuatu yang tidak terduga,"
Swuush! Energi Aura Jaya Kedua meluap dari tubuhnya.
"Ha ... ini, level empat?" Dan itu membuat Ketua Suwarto tambah tercengang, sebab tingkat levelnya berada di level empat. Itu sebuah prestasi mengerikan yang pernah dilihatnya. Dia tidak mengira Jaya memiliki kultivasi yang begitu luar biasa, di usia yang masih muda.
"Aku ingin membantu dalam proses itu karena untuk memastikan keberhasilannya menjadi 100 persen." Tambah kata Jaya Kedua dengan senyum ringan dan percaya diri.
"Baik ... baik ... Baiklah, kalau begitu. Hah, sepertinya saya telah meremehkan anda," kata Ketua Suwarto menggelengkan kepala takjub.
__ADS_1
"Terima kasih. Sampai bertemu besok hari lagi," ucap Jaya Kedua.
Dan begitu Ketua Suwarto menyetujui tentang permintaannya, Jaya Kedua pun pergi meninggalkan ruangan dan hendak menemui Jacky. Setelah Jaya Kedua menutup pintu, Ketua Suwarto mendengus tidak percaya. "Entah kenapa semenjak bertemu Jatra, aku selalu menemui banyak hal keanehan. Kurasa jantungku selalu dibuat terkejut olehnya. Atau memang aku yang telah semakin menua?"
Ketua Suwarto melamun diam dalam benaknya sendiri.
Di malam hari Benteng kota Asosiasi Hunter. Udara dingin merayap bersama bulan yang setengah bulat. Besok siang hari adalah waktu pelelangan akan dimulai. Beberapa kalangan bangsawan telah banyak yang menginap di berbagai penginapan. Mereka datang berbondong-bondong hanya untuk memastikan untuk dua hal dalam pelelangan.
Pertama, mengenai pil pembangkit kekuatan Ananta. Jika memang benar itu ada, maka kekuatan tempur para Hunter akan menjadi semakin meningkat. Ini akan menjadi barang yang diperebutkan oleh banyak orang. Kedua, batu Kristal merah. Sebuah batu Kristal langka yang bisa digunakan untuk menjadi senjata Artefak yang bagus. Kedua hal tersebut sungguh sangat sayang sekali jika dilewatkan oleh siapapun untuk bisa memilikinya. Dan semuanya itu disebabkan oleh Jaya.
Jaya Kedua saat ini tengah berada di dalam sebuah penginapan dan duduk bersama Jacky. Dia menjelaskan sesuatu untuk dilakukan kepada Jacky terkait rencana khusus untuk dirinya. Dan itu membuat Jacky tertegun dalam ekspresi gila.
"Apa kau gila?! Jadi yang kau rencanakan untukku itu adalah menjadi kelinci percobaan dari efek pil! Apakah kau ingin membunuhku?" Ujar Jacky sedikit kesal. "Teman macam apa kamu ini yang ingin menyiksa temannya sendiri."
"Aku adalah teman yang memberimu kesempatan peluang bagus. Jika kau berhasil melewati penderitaannya, maka kau bisa mendapatkan kekuatan Ananta dalam dirimu." Kilah Jaya Kedua meyakinkan Jacky.
"Ah, sungguh celaka aku. Pil pembangkit Ananta yang belum pernah di uji coba keberhasilannya. Dan kau menyuruhku untuk mencoba?" Tandas Jacky seakan itu sama saja bunuh diri baginya. Sebab, Jaya Kedua juga menjelaskan tentang resiko dari pil tersebut yang juga bisa berujung kepada kematian.
"Jacky, percayalah padaku. Tidak akan ada kebahagiaan tanpa ada perjuangan di dunia ini. Dan tidak ada pula perjuangan jika tidak bisa merasakan penderitaan. Kau harus melakukannya, jika kau ingin bisa bertambah kuat. Sebab kita bukanlah anak Dewa atau raja, yang terlahir dengan sendok emas dan perak di mulutnya." Kata Jaya Kedua dengan perasaan getir agar bisa meyakinkan tekad Jacky untuk berani mencoba daripada terus meratapi kelemahannya.
__ADS_1