Hunter Dan Dewa Monster

Hunter Dan Dewa Monster
Mata Aurora


__ADS_3

Jaya kedua terkejut. Ketika mendengar perkataan Monster Beruang itu.


"Apa maksudmu, kita sama?" Tanya Jaya kedua.


Mata Monster Beruang berubah, matanya yang sepenuhnya hitam, kini membentuk dua pupil garis hitam dan berganti iris berwarna merah. Wujud bentuknya pun yang besar menyusut, seakan terpelintir semua, menekuk, dan melipat. Seperti daging hitam yang berputar untuk berubah menjadi sosok yang baru.


Sosok yang berbentuk manusia dewasa, dengan badan postur yang gagah dan pakaian armornya di balut berwarna serba hitam semua dengan sedikit tercampur warna merah. Itu seperti energi Kegelapan yang berdengung menjadi kulit dari tubuhnya dengan amat padat. Kostumnya persis bagai atribut Prajurit Tempur.


"Baiklah, sepertinya perubahanku selesai. Inilah versi jurus perubahan kegelapanku." Kata Manusia Dewasa itu yang kepalanya miring menatap jaya. "Saat bertemu sesama pengguna kekuatan Kegelapan, tidak sopan, jika harus bersembunyi di balik wajah monster. Sudah sepatutnya aku, menunjukkan diriku yang sebenarnya,"


Jaya Kedua terguncang mendengar perkataan dan melihat kemampuannya.   Wajahnya bingung.


"Dia bisa menebak kekuatanku, dan bahkan tahu tentang kembali dari waktu masa depan? Apakah dia adalah bangsa Asoka?" Tanya Jaya Kedua kepada dirinya sendiri dalam hati. Sejak tadi, dia memang melihat ada energi Kegelapan yang dikeluarkan oleh sosok itu.


"Kau pasti bingung, kan. Tapi tenang, aku tidak akan membunuhmu." Mata Manusia Dewasa itu menyorot menyala,  mendesis jauh ke pedalaman hutan. Jaya Kedua merasakan angin samar yang menerpa tubuhnya.


"Ku temukan. Ternyata di sana kau membuangnya." Kata Manusia Dewasa menoleh ke arah kanan. "Lumayan sedikit jauh. Tapi aku tak akan membiarkannya lepas,"


Jantung Jaya Kedua terkejut.


"Apa yang mau kau lakukan pada mereka?" Tanya Jaya kedua. Matanya tajam menyorot Manusia Dewasa. "Siapa kau sebenarnya? Apa tujuanmu?"


Manusia Dewasa itu terkikik. Semua Prajurit yang mati bergegas pergi ke arah kanan. Jaya melirik mereka, tangannya menyentuh dada, menciptakan dua Klon bayangan untuk mencegah mereka.


"Aku adalah lawanmu saat ini. Dan aku benci tawa jelekmu yang merasa bisa berbuat seenaknya." Kata Jaya Kedua mengarahkan pedangnya.


"Kekeke… Memang itulah kenyataannya." Jawab Manusia Dewasa itu. Tangannya lalu menempel ke dada, tiba-tiba dari tubuhnya keluar dua sosok Manusia yang seperti dirinya, dari kanan dan kiri.


"Apakah kau sudah paham sekarang?" Kata Manusia Dewasa itu yang tersenyum. "Prajurit Mati, pergilah!"

__ADS_1


Dua bayangan dirinya pergi mengarah ke dua bayangan Jaya Kedua. Mereka berempat hanya saling pandang. Lalu Prajurit Mati bergegas pergi tanpa bisa dicegah.


Jaya Kedua merasa kecut, tidak percaya apa yang dilihatnya saat ini. Dia merasa perlu waspada jika terjadi pertarungan. Masih ada Jacky yang perlu dilindungi saat ini. Dia tak boleh bertindak yang membawa kematian kepada dirinya sendiri. Meski ini adalah Klon bayangan sekalipun.


"Dia juga mempunyai kekuatan yang hampir sama denganku? Serupa dengan Jurus Seribu Kegelapan. Apa maksudnya semua ini? Apakah bangsa Asoka mempunyai kekuatan yang sama di setiap jurusnya? Ini akan merepotkan kalau semua jurus-jurusnya memiliki banyak kemiripan. Aku tidak boleh gegabah." Tanya Jaya Kedua di dalam benaknya. "Ini lebih aneh dari energi kekuatan yang kutemukan di Marco."


"Apakah kau bangsa Asoka?" Tanya Jaya Kedua kepada Manusia Dewasa itu.


"Kau terlalu serakah untuk suatu pertanyaan. Bukankah itu tidak sopan, jika kau bertanya dengan wujud Klon Bayangan saat ini. Kenapa tidak kau tunjukkan tubuh aslimu?"


Jaya Kedua bergidik. Perkataannya tepat dengan benar menebak dirinya.


"Jadi kau tahu?" Kata Jaya Kedua.


"Kekeke… Tidak ada yang bisa kau sembunyikan dariku. Di depan mata kebangkitanku. Kau tidak bisa melabuiku. Aku bisa melihat semua trik-trik murahanmu. Bahkan aku bisa pula mendengar hatimu yang penuh banyak tanya dari bola matamu..."


"Mata kebangkitan?"


"Tanah Dwipa Jawa? Bukankah semua daratan ini adalah Tanah Jawa. Apa lagi itu Tanah Dwipa Jawa?" Jaya Kedua merasa curiga.


"Baiklah. Tidak ada salahnya jika aku harus menceritakannya untuk memberitahumu. Karena, kau juga terasa aneh."


Manusia Dewasa itu dalam sekejap hilang dan muncul berada bersandar di samping bahu Jaya kedua. Dengan refleks, Jaya Kedua menyodorkan pedang hitamnya tapi di tangkap langsung dengan tangan kosong. Manusia Dewasa lalu mundur sedikit dengan mengangkat kedua tangannya.


"Jangan terlalu tegang. Aku tidak akan menyerangmu ataupun membunuhmu. Aku akan memperkenalkan diriku kembali, namaku Tarkan. Dan siapakah namamu?" Tanya dia.


"Namaku? Kenapa aku harus memberitahukannya kepadamu." Jaya Kedua waspada.


"Hoo..." Tarkan tersenyum lebar. Dia memutar membelakangi Jaya Kedua. Berjalan menjauh. "Kalau kau tidak memberitahu tidak masalah. Mungkinkah aku harus bertanya kepada seseorang yang tepat."

__ADS_1


Jaya kedua merasakan firasat buruk. Tarkan, santai berjalan.


"Hm, ya, teman yang sedang istirahat. Mungkin aku bisa bertanya kepadanya." Kata Tarkan tampak cuek.


Jaya melotot marah. Dia bahkan bisa menebak orang yang berhubungan dengannya dengan cepat. Sepertinya kekuatan Mata Aurora ini sangatlah misterius. Bukan hanya bisa membaca hati, melihat jarak jauh, melihat hubungan seseorang yang sedang dipikirkannya pula. Ini bagai Mata Kebenaran yang tidak bisa dikelabui.


"Jangan macam-macam kau dengan temanku! Jaya. Itulah namaku." Raung Jaya Kedua.


Tarkan berhenti berjalan. Dia memalingkan wajahnya ke Jaya Kedua dengan senyum tipis.


"Ah, Jaya. Jadi itu namamu." Sahut Tarkan. "Bagus, tidak berbohong saat mengatakan namamu,"


"Apa tujuan kamu yang sebenarnya?" Tanya Jaya Kedua.


"Jangan terlalu curiga berlebihan kepadaku. Aku hanya ingin mengenalmu, saja. Sangat jarang, bisa ketemu dengan pengguna kekuatan Kegelapan di sini. Apalagi di Tanah Jawa yang rusak ini. Kenapa bisa ada pengguna kekuatan Kegelapan di sini? Bukankah itu juga sangat aneh Jaya. Apa tujuan kamu yang sebenarnya Jaya?"


"Tujuan sebenarnya? Aku lahir disini. Dan sudah tujuanku untuk menjaga Tanah di sini dari serangan Monster. Kenapa itu bisa aneh? Ini adalah kewajaran sebagai bentuk mempertahankan Tanah Airnya sendiri dari ancaman marabahaya. Dan kau adalah salah satunya ancaman itu..." Jawab Jaya Kedua.


Tarkan tertawa keras hingga suaranya menggema di sekitar.


"Naif, sungguh, sungguh naif. Lucu sekali. Manusia bangsa penjajah mengatakan bahwa ini adalah Tanah Kelahirannya sendiri. Sepertinya kau perlu membaca ulang tentang sejarah Kerajaanmu itu, Jaya. Apakah kau pikir


Bangsa Manusia itu adalah penghuni asli di daratan Tanah Jawa ini? Ah, kau masih terlalu ranum untuk mengetahui asal-usul tentang Kerajaan Manikmaya ini."


Jaya Kedua diam mendengar perkataannya Tarkan. Dia merenungkan sebentar. Sepertinya ada informasi yang buram tentang pengetahuan dan kebenarannya yang diketahui.


"Aku tak mengerti apa maksudmu. Tapi satu hal yang jelas. Kalau kau membuat Bencana ke Kerajaan ini. Maka kau akan menghadapi ku...." Ungkap Jaya Kedua yang sedari tadi telah bersiap jika terjadi bentrokan.


"Dengan kekuatanmu yang sekarang. Kau bukanlah apa-apa bagiku. Kau bukanlah tandingan dari kekuatan Kegelapanku. Lagi pula, dari awal kau bukanlah yang ku incar. Aku hanya ingin bermain-main denganmu saja. Seharusnya kau cukup senang karena bukan bagian dari mangsa yang harus kubunuh," kata Tarkan santai.

__ADS_1


"Walaupun aku ingin membunuhmu. Tentu, aku saat ini, bisa saja akan mendatangi tubuh aslimu," tambah Tarkan yang matanya dingin dengan menyeringai.


__ADS_2