
Jaya mengamati Gerbang Pintu Prasasti yang besar di depannya. Dia telusuri dari bawah hingga atas di setiap celah-celahnya. Dari dua pintu tersebut, ditemukan hanya ada satu lubang kunci.
"Tidak ada. Lubang kuncinya hanya ada satu. Bukan lima," kata jaya sambil mengernyitkan dahinya. Dia merenung dalam menunduk ke tanah. Jarinya menjepit dagu.
Lubang kunci yang ditemukannya itu seukuran jari telunjuk, bentuk lubangnya kotak. Begitu kecil untuk sebuah kunci yang pintunya amat besar. Besar yang tingginya sekitar 30 meter menjulang. Pintu itu sungguh besar sekali, dengan warnanya yang agak hitam kecoklatan.
Ada ornamen Prasasti yang menggambarkan sebuah bentuk hexagon dengan tulisan yang aneh di dalamnya. Warnanya hitam dan melingkar di tengah pintu. Selain itu, ada sebuah Manuskrip kata-kata dengan tulisan bahasa yang aneh. Membentang lurus di atas pintu. Itu bagai sebuah kata pesan.
"Keberadaan pintu ini sangatlah penuh misteri. Jika cuma ada satu lubang kunci. Berarti kunci Suluk bukanlah kunci Prasasti yang bisa untuk membuka pintu ini. Tapi apakah ada kunci Prasasti lain?" Jaya menggigit bibirnya. Berpikir dengan keras, mencari-cari petunjuk yang bisa ada sangkut pautannya dengan pintu Prasasti.
Dibandingkan dengan pintu gua air terjun yang tingginya cuma 12 meter. Keberadaan Gerbang Pintu Prasasti ini sangatlah mencurigakan. Sungguh keanehan ada Pintu yang bisa ada di dalam gua, yang mana luas dan tingginya saja lebih kecil dari tinggi dan besarnya Pintu prasasti.
Selain itu, ada bekas tebasan goresan pedang di sekitar gua. Bekas-bekas itu bagai sebuah sisa pertarungan pedang. Namun, anehnya, tidak ditemukan mayat di dalam gua ini. Banyak misteri yang tidak bisa dimengerti untuk diungkapkan dalam gua ini.
"Keberadaan Pintu Prasasti ini harus dirahasiakan. Tapi untuk membukanya, aku perlu bantuan seseorang yang bisa membaca tentang tulisan Manuskrip di pintu Prasasti ini. Kemungkinan itu satu-satunya petunjuk yang bisa menemukan untuk membukanya." Kata Jaya membuat kesimpulan dalam dirinya.
Jaya lalu duduk dan menyalin bentuk Manuskrip gambar bahasa tulisan itu ke dalam sebuah gulungan kertas. Meski tidak begitu mirip sempurna, setidaknya itu ada kemiripan 90 persen dari bentuk aslinya. Dia menyalin seluruh bentuk-bentuk gambar di Pintu juga.
Begitu selesai, dia memasukkannya ke dalam Cincin ruang. Dan dia langsung mengintegrasikan kepada bayangannya. Kemudian dia kembali duduk meditasi untuk mengorganisir Klon bayangannya.
****
Di tempat Jaya Pertama.
__ADS_1
Dia sedang berada di sebuah kamar dengan meditasi. Mendengar perintah Jaya asli, dia terbangun. Keluar dari ruangannya, dia langsung menuju ke tempat Sucipto.
Di ruangan Sucipto juga ada seseorang yang tengah berbicara dengannya. Dia melaporkan sesuatu tentang masalah para Hunter.
Tiba-tiba dia melihat Jaya Pertama datang. Dia langsung berdiri menyambutnya. Sedangkan seseorang itu kembali pergi meninggalkan ruangan untuk menjalankan tugasnya sesuai perintah Sucipto.
"Tuan Patra, apakah anda sudah memikirkan untuk pergi kemana atau anda butuh bantuan sesuatu lagi?" Sucipto bertanya dengan wajah senyum elegan yang hormat.
"Sudah. Aku akan pergi ke Dunia Mayantara medan energi ekstrim. Tapi sebelum itu, aku ingin bertemu dengan Ketua Suwarto. Bisakah kau antarkan aku ke tempatnya?"
"Oh. Baiklah, mari saya antar ke tempatnya."
Sucipto mempersilakan tangannya untuk mulai berjalan. Lalu sambil berjalan berdampingan, Sucipto memimpin kakinya mengarah ke ruangan Ketua Suwarto.
"Mungkinkah Tuan Patra telah memilih ingin bergabung ke sebuah Klan?" Tanya Sucipto membuka perbincangan.
Baginya, bergabung dengan sebuah Klan bukanlah hal yang penting. Sebab tidak ada keuntungan baginya jika harus masuk ke dalam Klan. Selain harus bagi hasil, dia perlu menyembunyikan kekuatan Anantanya juga saat bertarung.
"Yah, benar juga. Tuan Patra perlu menyembunyikan identitas kekuatan Ananta anda," kata Sucipto mengangguk paham. "Aku mendapatkan kabar baru tadi, sepertinya di dunia Mayantara medan ekstrim akan ada perang antar Klan untuk suatu alasan yang tidak jelas. Sebaiknya anda berhati-hati dengan perselisihan mereka. Jangan sampai terlibat sebisa mungkin."
"Apakah itu adalah masalah yang serius?" Tanya Jaya Pertama memiringkan kepalanya.
Dia merasa agak penasaran tentang situasi yang akan didatanginya sebentar lagi.
__ADS_1
"Walau bagaimanapun itu bukanlah sekadar masalah kecil. Sebab salah satu Klan tersebut itu melibatkan Jenderal Besar. Dan salah satunya lagi berada di bawah naungan Ranker Hunter."
"Ranker Hunter adalah Lencana Hunter bagi Petualang Hunter yang tingkat kekuatannya setara dengan Jenderal Besar. Dan sebuah perselisihan antara Petualang Hunter dan Prajurit Hunter itu biasa terjadi di dalam dunia Mayantara."
Jaya Pertama tidak begitu terkejut mendengarnya. Hal masalah seperti itu telah dia pahami betul di kehidupan sebelumnya. Meskipun begitu, dia tetap perlu waspada dalam pertarungan konflik yang seperti itu.
"Begitukah. Terima kasih atas informasinya. Apakah Asosiasi Hunter tidak bergerak untuk mencegahnya atau ikut campur?"
Sucipto menampilkan wajah masam dengan kecewa dia melanjutkan berjalan.
"Sungguh pahit sebenarnya jika mendengar kabar para manusia terus bertarung dengan bangsanya sendiri. Kebodohan akan kepentingannya seolah telah melupakan masalah penting ancaman umat manusia." Jawab Sucipto, dengan nada sedih dia melanjutkan.
"Perang antar Klan adalah hal yang umum biasa terjadi. Asosiasi Hunter tidak bisa ikut campur di dalamnya. Tugas kami adalah tentang menghadapi ancaman bahaya monster, di luar tentang itu, semua berada di luar kendali wewenang Asosiasi Hunter. Sedangkan untuk urusan yang menyangkut masalah kepentingan manusia, sebenarnya tidak ada pula hukum yang bisa menjerat mereka. Khususnya, ketika berada di dunia Mayantara,"
"Apalagi di dunia zaman sengkolo yang penuh bahaya ini, semua bebas untuk melakukan apa saja. Perbudakan, pembunuhan, perampasan, semua bisa terjadi selama kau punya kekuatan dan pengaruh besar. Kami Asosiasi Hunter bekerja sama dengan pihak kerajaan sebagai organisasi besar yang memfokuskan dalam bidang membunuh monster, meneliti monster dan mencegah berbagai ancaman dunia Mayantara,"
"Selain di luar masalah wilayah tersebut, kami tidak akan ikut campur. Kami bukanlah pihak yang mengatasnamakan yang membela keadilan. Pihak yang selalu membela kebenaran. Tidak. Kami adalah pihak yang netral. Musuh kami bukanlah manusia, melainkan monster. Hanya monster saja."
"Kecuali, jika kami diserang oleh pihak lain, maka kami akan membalasnya. Bahkan pihak kerajaan sekalipun, Asosiasi Hunter tidak pernah takut untuk menghadapinya. Sebab, kami juga memiliki pasukan yang kami bangun di setiap wilayahnya." Terang Sucipto.
Pernyataan Sucipto cukup tenang dan serius. Alasan itu cukup jelas untuk mengungkapkan kekuatan Asosiasi Hunter. Sebab mereka adalah organisasi besar yang mengendalikan berbagai bidang tertentu dengan jaringannya yang luas. Hampir di setiap ibu kota, Asosiasi Hunter akan selalu ada. Mereka bagai pemerintahan kecil yang melindungi dan mendukung Kerajaan Manikmaya.
Dan mereka pula yang berhak mengelola dan mengendalikan semua Hunter di Kerajaan Manikmaya. Entah dari petualang atau prajurit, semua berada di bawah perintahnya ketika menyangkut masalah monster. Ini adalah wewenang istimewa yang diberikan oleh kerajaan kepadanya.
__ADS_1
"Lalu, ada keinginan apa Tuan Patra ingin bertemu, Ketua?" Tanya Sucipto.
"Ini tentang tulisan Manuskrip yang tidak aku ketahui maksudnya," jawab Jaya Pertama.